
Pesantren Rakyat Online – Suasana pagi di Pesantren Rakyat Al-Amin terasa hangat seperti biasa. Tampak wajah semangat kepala lembaga, kepala unit, direktur lembaga dan pengurus yang hadir duduk melingkar, menyimak setiap kalimat yang disampaikan KH. Abdullah SAM soal pengalaman, rumusan panjang, refleksi diri dan membaca realitas kehidupan.
Pengasuh yang penuh gagasan itu mencoba memberi perspektif lain untuk dapat mendorong kemajuan pengelolaan lembaga. Satu tema yang sederhana tetapi mendasar disampaikan oleh kiai tiga anak itu soal bagaimana seseorang bisa menjadi sukses, bukan sekadar secara pribadi, tetapi juga dalam membangun sistem dan lembaga.
“Menempel” pada yang Berpengalaman
KH. Abdullah SAM membuka penjelasannya dengan sebuah teori yang terdengar praktis namun penuh makna.
“Cara paling mudah untuk sukses itu adalah mencangkok atau menempel kepada orang yang sudah berpengalaman, berpengaruh, dan sukses”, jelasnya.
Penulis memaknai konsep “menempel” yang dimaksud bukan sekadar ikut-ikutan tanpa arah, melainkan belajar secara langsung dari ekosistem keberhasilan. Dalam dunia modern, konsep ini sejalan dengan teori learning by modeling oleh Albert Bandura sebagai bagian dari teori belajar sosial, bahwa seseorang akan lebih cepat berkembang ketika berada dalam lingkungan yang tepat, bersama orang-orang yang telah lebih dulu berhasil.
Baca juga: TNI Bangun Fasilitas Pull Up Bar di Pesantren Rakyat Al-Amin
Dengan kata lain, keberhasilan bukan hanya hasil kerja individu, tetapi juga hasil dari jejaring, lingkungan, transfer pengalaman, transfer of knowledge (pengetahuan) dan mungkin lebih banyak lagi.
Selain itu ada istilah ATM (amati, tiru, modifikasi) yang juga bisa digunakan sebagai cara mengadaptasi, menduplikasi, bahkan “meniru” sesuatu hal baik, disesuaikan dengan bagaimana kondisi dan kebutuhan masing-masing orang bahkan lembaga.
Namun, pengasuh yang saat tulisan ini ter-publish masih menjadi Ketua PC ISNU Kabupaten Malang juga mengingatkan bahwa proses ini harus disertai kesadaran diri. “Jangan seperti bunga yang bisa jatuh, lalu berubah rasa”, katanya.
Fenomena tersebut bisa digambarkan seperti seseorang yang awalnya belajar dan berkembang, namun kemudian merasa sudah mampu, merasa berpengaruh, lalu kehilangan arah. “Si Anu atau Si Fulan” sebagai contoh misalnya adalah orang yang awalnya baik, tapi karena merasa sudah bisa, akhirnya berubah menjadi tidak baik.
”Apakah mau kita seperti itu”, tanya kiai dengan serius.
Mindset: Kunci dari Setiap Gerakan
Semakin dalam membahas soal keberhasilan mengelola lembaga tidak hanya ditentukan oleh strategi, tetapi juga oleh cara berpikir, mindset. “Dalam setiap gerakan, program, dan aktivitas, harus ditanamkan mindset ‘bisa’”, tegas KH Abdullah SAM.
Selanjutnya, beliau mengutip prinsip sederhana namun memiliki arti kuat, “you can if you think you can”. Kamu bisa kalau kamu berpikir kamu bisa.
Logika di balik pernyataan ini cukup jelas. Ketika seseorang meyakini bahwa ia mampu, maka seluruh energi, pikiran, dan tindakannya akan mengarah pada pencapaian tersebut. Sebaliknya, jika sejak awal ia merasa tidak mampu, maka potensi terbaiknya tidak akan pernah keluar.
Baca juga: KH Abdullah SAM: Sukses Besar Berawal dari Hal Kecil dan Konsisten
Jika dikaitkan dengan urusan keyakinan, ada sebuah hadis Qudsi yang berbunyi ana ‘inda dzonni ‘abdibi (aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku). Secara filosofis, penulis memaknai bahwa saat seorang manusia atau hamba memiliki keyakinan, prasangka, ‘krentek’ maka akan dimudahkan dan dibisakan oleh Allah sang pencipta.
Dalam konteks pendidikan pesantren, mindset ini menjadi fondasi penting. Santri dan guru tidak boleh terjebak pada batasan-batasan semu. Mereka harus dilatih untuk melihat kemungkinan, potensi, bukan keterbatasan.
Mitosisasi dan Narasi yang Menggerakkan: From Zero to Hero
Salah satu gagasan menarik yang disampaikan Pengasuh Pesantren Rakyat adalah tentang “mitosisasi”, sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses membangun figur teladan dalam sebuah sistem.
KH Abdullah SAM memberi contoh konkret dengan menyebut dua sosok. Di dalam dunia militer, ada Jenderal Sudirman yang dikenal heroik dan menjadi inspirasi bagi prajurit. Di kepolisian, ada Hoegeng Iman Santoso, yang menjadi simbol integritas dan standar moral kepolisian.
Tak hanya itu, di pesantren, figur atau tokoh bisa berupa ulama atau guru yang dihormati, bahkan dianggap memiliki kedekatan spiritual tinggi. Bahkan ada yang menganggapnya seperti seorang wali.
Setiap lembaga itu butuh figur yang perlu diceritakan semangat, pengalaman bila perlu karomahnya. Karena dari figur itu, nilai-nilai bisa diwariskan, disebarkan dan dijaga.
Secara logis, mitosisasi ini berfungsi sebagai alat pembentuk budaya organisasi. Dengan adanya ulama, kiai atau figur teladan, pengurus.atau anggota organisasi memiliki arah, standar, dan inspirasi yang jelas.
KH. Abdullah SAM kemudian menekankan satu narasi yang dapat terus digaungkan dan ini menjadi sumber inspirasi dam salah satu ciri khas Pesantren Rakyat, yakni “from zero to hero.”
Narasi ini bukan sekadar slogan motivasi, tetapi kerangka berpikir bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berkembang, dari kondisi nol menuju keberhasilan. Seperti diketahui, Pesantren Rakyat memiliki cara tersendiri dalam memperlakukan atau mendidik santri-santrinya.
Setiap pengurus didorong untuk menggunakan perspektif yang luas dalam melihat santri. Setiap orang memiliki masa kelam, buruk, jahiliyah dan latar belakangnya masing-masing tapi pengasuh dalam hal ini meyakini bahwa ada potensi atau hal positif yang lebih banyak daripada itu.
Baca juga: Bangun Generasi Tangguh: Kekuatan Cerita, Visi dan Leadership ala KH Abdullah SAM
Hal tersebut sejatinya mempertegas, untuk apa Pesantren Rakyat itu lahir yakni menyapa mereka yang belum tersapa, terpinggirkan dan termarjinalkan dalam kesempatan mendapat pendidikan dan berdaya yang sama.
Namun, dalam membangun narasi yang baik, KH Abdullah SAM menekankan bahwa perjalanan tersebut harus tetap terhubung dengan tujuan utama yaitu Allah, keberkahan, dan kemanfaatan. “Kita boleh ingin kaya, boleh ingin berdaya tapi harus tetap realistis, tidak berlebihan, tidak sampai membutakan”, tegasnya.
Pesan ini penting untuk menjaga keseimbangan antara ambisi dan nilai. Dalam banyak kasus, kegagalan bukan karena kurangnya kemampuan, tetapi karena ambisi yang tidak terkontrol, atau ambisius.
Kepemimpinan: Akar dari Semua Masalah dan Solusi
Di bagian akhir, kiai nyentrik dengan julukan Kiai Sableng itu menyampaikan satu pernyataan yang tegas dan reflektif, “tidak ada prajurit yang bodoh, kecuali pemimpinnya.”
Kalimat ini menjadi penutup yang kuat sekaligus kritik konstruktif terhadap kepemimpinan. Dalam pandangannya, kualitas anggota suatu lembaga sangat bergantung pada kualitas pemimpinnya.
Jika ada santri yang tidak disiplin, guru yang terlambat, atau program yang tidak berjalan, maka yang harus pertama kali dievaluasi adalah sistem kepemimpinan. “Pemimpin harus mencari cara”, tekannya.
Artinya, kepemimpinan bukan sekadar posisi, tetapi tanggung jawab untuk menemukan solusi, membangun sistem, dan memastikan semua elemen bergerak sesuai visi dan tujuan.
”Untuk mencapai sebuah visi yang besar tidak boleh kalah dengan keadaan”, imbuhnya.
Dari tulisan singkat ini, dapat ditarik simpulan bahwa kesuksesan bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari sistem yang dibangun dengan sadar dan baik. Mulai dari memilih lingkungan yang tepat, membangun mindset positif, menghadirkan figur teladan, hingga memastikan kepemimpinan yang kuat, semuanya saling terhubung dalam satu kesatuan.
Di Pesantren Rakyat Al-Amin, gagasan ini tidak berhenti sebagai teori. Ia dihidupkan dalam praktik sehari-hari, dalam cara guru mengajar, dalam cara santri belajar, dan dalam cara lembaga membangun dirinya menjadi lebih baik.
Karena pada akhirnya, seperti yang tersirat dalam pesan KH. Abdullah SAM, setiap orang bisa menjadi sesuatu seperti yang didengungkan tadi “from zero to hero”, selama ia mau belajar, berpikir benar, dan dipimpin dengan arah yang jelas. (*)
Penulis: Chandra Djoego