Pesantren Rakyat Pengasuh Membaca Zaman AI, KH Abdullah SAM: Santri dan Guru Tak Boleh Berhenti Belajar

Membaca Zaman AI, KH Abdullah SAM: Santri dan Guru Tak Boleh Berhenti Belajar

Membaca Zaman AI, KH Abdullah SAM - Santri dan Guru Tak boleh Berhenti Belajar

Pesantren Rakyat Online – Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang kian cepat, Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd. mengingatkan satu hal mendasar yakni manusia tidak boleh berhenti belajar. Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin itu melihat AI bukan sekadar alat baru, melainkan tanda zaman yang menuntut seseorang memperbarui cara berpikir.

“AI hari ini semakin reasoning, logis, realistis. Mesin semakin canggih, obrolan semakin enak, kreatif, dan lebih pintar seperti Meta yang memakai AI terbaru, Muse Spark”, ungkap KH Abdullah SAM membuka materi briefing pada Rabu (13/5/2026).

Pernyataan itu tidak berlebihan. Di luar Meta AI, sejumlah sistem AI terbaru bergerak dari sekadar chatbot menjadi alat kerja yang mampu bernalar, membaca gambar, menulis kode, menyusun dokumen, hingga menjalankan tugas panjang. OpenAI, misalnya, memperkenalkan GPT-5.5 sebagai model yang dirancang untuk pekerjaan nyata menulis dan memperbaiki kode, riset daring, analisis data, membuat dokumen dan spreadsheet, serta berpindah antartools sampai tugas selesai (OpenAI, 2026).

Google memperkenalkan Gemini 3.5 Flash dan Gemini Spark sebagai AI yang lebih agentic, mampu membantu tugas harian dan pekerjaan coding dengan tindakan bertahap di bawah arahan pengguna (Google, 2026). Anthropic merilis Claude Opus 4.7 dengan penekanan pada pekerjaan perangkat lunak kompleks, tugas panjang, dan pemahaman visual yang lebih baik (Anthropic, 2026). Sementara Mistral AI mengembangkan model terbuka dan spesialis, termasuk model multimodal, coding, OCR, transkripsi, hingga text-to-speech (Mistral AI, 2026).

Baca juga: KH Abdullah SAM: Do-Re-Mi dan Harmoni Peran

Namun, bagi KH Abdullah SAM, pertanyaan terpenting bukan apakah mesin makin pintar, melainkan apakah manusia makin bersungguh-sungguh menjadi pembelajar. Ketua PC ISNU Kabupaten Malang mengutip ungkapan Kun ‘aliman, au muta’alliman, au mustami’an, au muhibban, wa la takun khamisan fa tahlik. Jadilah orang berilmu, atau penuntut ilmu, atau pendengar ilmu, atau pencinta ilmu. Jangan menjadi orang kelima, sebab akan celaka.

Ungkapan ini hidup di banyak ruang pendidikan sebagai nasihat adab terhadap ilmu. Secara makna, ia sejalan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Majah bahwa mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim (Ibn Majah, n.d.). Kemudian Allah swt berfirman dalam surat Al-Mujadilah ayat 11, menjelaskan bahwa orang yang memiliki ilmu memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.

Dalam konteks tersebut, sebagai santri, guru sebenarnya tidak ada ruang untuk menjadi pasif. Kalau belum mampu menjadi alim, jadilah muta’allim, santri atau guru yang terus belajar. Kalau belum mampu belajar intensif, jadilah mustami’, pendengar yang baik. Kalau belum mampu menyimak secara penuh, minimal jadilah muhibban, orang yang mencintai ilmu dan tidak mengganggu.

“Kita itu sejatinya diinstruksi untuk menjadi orang alim. Kalau tidak, jadi guru atau jadi santri yang terus belajar, gandrung terhadap ilmu, diskusi, musyawarah, legowo. Minimal menjadi muhibban dan jangan jadi pengganggu”, kata KH Abdullah SAM.

Di sinilah relevansi adanya pesantren menjadi nyata. Bukan hanya tempat menjaga tradisi, melainkan ruang pembentukan akal, dan keberanian zaman. Ketika KH Abdullah SAM menyebut Pesantren Rakyat harus selalu update, upgrade, up to date, pengasuh sedang bicara tentang kebutuhan lembaga pendidikan untuk memiliki kemampuan prediktif, membaca perubahan, memahami risiko dan menyiapkan generasi yang tidak gagap menghadapi masa depan.

Dalam sejarah Islam, ulama memang tidak bisa dipisahkan dari tradisi ilmuwan. Kiai yang juga sebagai Dewan Pakar ICMI Kabupaten Malang menyebut ulama sebagai ilmuwan. Pernyataan itu berakar panjang. Al-Khwarizmi, misalnya, menjadi nama besar dalam matematika, algorithm dan karyanya menjadi fondasi penting dalam aljabar (Encyclopaedia Britannica, n.d.-a).

Ibn al-Haytham dikenal melalui Kitab al-Manazir dan kontribusinya pada optik serta eksperimen ilmiah. Ibn Sina menulis Al-Qanun fi al-Tibb, salah satu teks paling berpengaruh dalam sejarah kedokteran, sekaligus karya filsafat dan sains besar, Kitab al-Shifa. Selanjutnya ada Al-Razi yang dikenal sebagai dokter dan pemikir besar yang membedakan cacar dan campak secara klinis. Al-Biruni menulis tentang matematika, astronomi, geografi, fisika, kedokteran, sejarah, dan kronologi (Encyclopaedia Britannica, n.d.-e). Al-Farabi dan Ibn Rushd memperlihatkan bagaimana filsafat, logika, politik, kedokteran, dan agama pernah berdialog dalam peradaban Islam.

Baca juga: Era Coding, KH Abdullah SAM Tekankan Kecerdasan Digital dan Guru Jangan Cepat Puas

Karena itu, ketika KH Abdullah SAM menyebut tanpa penemuan manusia tidak akan menggunakan aspal, pertanian tidak berkembang, padi mungkin hanya dipanen sekali, cangkok tidak dipraktikkan, dan rekayasa genetika tidak lahir. Kiai sedang menegaskan fungsi ilmu yaitu memecahkan masalah hidup. Ilmu bukan untuk gaya-gayaan intelektual, melainkan untuk memperbaiki kualitas manusia.

Ungkapan lain yang sering dikutip adalah uthlubul ‘ilma walau bisshin, tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina. Dalam disiplin hadis, banyak ulama menilai riwayat ini lemah (hadis dhaif), bahkan sebagian menyebutnya tidak sahih sebagai sabda Nabi (IslamQA, 2000; IslamWeb, 2006). Karena itu, secara jurnalistik dan akademik, ungkapan tersebut diposisikan sebagai pepatah populer yang maknanya baik.

Lalu mengapa Cina menjadi perumpamaan? Secara historis, Cina berada jauh dari pusat dunia Arab-Islam awal dan dikenal sebagai peradaban besar. Jalur Sutra menghubungkan Cina dengan Asia Tengah, Timur Tengah dan Eropa, membawa barang, gagasan, teknologi, dan tradisi pengetahuan (Encyclopaedia Britannica, 2026).

Teknologi kertas dari Cina ikut menyebar ke dunia Islam dan menjadi bagian penting dari berkembangnya administrasi, penyalinan kitab dan budaya literasi Abbasiyah (UNESCO, n.d.). Maka, “negeri Cina” menjadi simbol jarak, kesungguhan, dan keterbukaan bahwa ilmu harus dicari meski jauh, meski asing, meski datang dari peradaban berbeda.

Di era AI, pesan itu kembali berbunyi. Pesantren dan lembaga pendidikan tidak boleh alergi pada teknologi, tetapi juga tidak boleh takluk pada teknologi. AI dapat membantu riset, administrasi, pembelajaran, analisis data, dan kreativitas. Namun, akal sehat, sanad ilmu, etika dan adab tetap harus menjadi pijakan utama.

Sebab mesin dapat makin cerdas, tetapi manusia tetap harus menjadi alim yang tahu tujuan, tahu batas, tahu manfaat, dan tahu tanggung jawab. (*)

Penulis: Chandra Djoego

0 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.