
عن أبي هريرة قال : قال رسول الله (لا تحاسدوا، ولا تناجشوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا، ولا يبع بعضكم على بيع بعض، وكونوا عباد الله إخوانا، المسلم اخو المسلم، لا يظلمه، ولا يدخله، ولا يكذبه، ولا يحقره، التقوى ههنا، ويشير إلى صدره ثلاث مرات، بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرام : دمه وماله وعرضه). رواه المسلم
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling tanajusy (menyakiti dalam jual beli), janganlah saling benci, janganlah saling membelakangi (mendiamkan), dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di sini beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali. Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.’” (HR. Muslim)
Pesantren Rakyat Online – Di Masjid Baitul Ihsan, siang itu suasana terasa teduh. Usai shalat Zuhur berjamaah, para santri Pesantren Rakyat Al-Amin tampak siap menyimak Ngaji Zuhur yang disampaikan Nyai Heni Abdullah, M.Pd. Dengan suara lembut namun tegas, pengasuh Pesantren Rakyat itu membuka kajian dengan membaca hadis ke-35 dari kitab Arbain Nawawi seperti yang tertulis di awal tulisan ini.
Hadis tersebut mengajarkan adab sosial dan hakikat persaudaraan sejati dalam Islam. Hadis yang jika direnungkan, seolah menjadi cermin besar bagi kehidupan kita hari ini di tengah masyarakat yang sering terbelah oleh perbedaan, iri hati, dan persaingan.
Mengasah Hati dalam Jamaah
Nyai Heni Abdullah mengawali pembahasan tentang pentingnya berjamaah bagi kita semua. “Kenapa orang muslim itu identik dengan shalat berjamaah? Karena dalam jamaah itu ada kekuatan, ada latihan kepekaan, ada kekompakan dan ada perhatian” jelas Nyai Heni.
Baginya, berjamaah bukan sekadar soal shalat yang dilakukan bersama, tapi juga latihan membangun empati dan kebersamaan. Shalat berjamaah melatih manusia untuk meninggalkan ego, menyadari bahwa dirinya bukan pusat semesta. Di hadapan Allah, semua berdiri sejajar dan sama. Imam di depan memimpin dengan tanggung jawab, makmum mengikuti dengan ketaatan yang penuh kesadaran.
Baca juga: Santri Pesantren Rakyat Belajar Interaktif Lewat Smartboard Bantuan Presiden
Di situlah, kata beliau, terkandung hikmah sosial yang mendalam. “Kalau kita shalat sendiri, pahalanya satu derajat, tapi kalau berjamaah, pahalanya dua puluh tujuh derajat. Karena di situ ada imam, ada makmum yang saling melengkapi”, kata Nyai Heni.
Jamaah, menurut Nyai Heni adalah miniatur kehidupan sosial. Ketika seseorang melihat kanan-kiri, bukan sekadar menoleh tapi belajar untuk peduli, melihat siapa yang tidak ada, siapa yang tertinggal, siapa yang perlu dibantu.
Jamaah dan Keikhlasan Hidup Bersama
Lebih jauh membahas tentang jamaah, Nyai Heni mengumpamakan, jika kita sebagai manusia hidup sendiri apa bisa? Kita membutuhkan nasi dari beras yang ditanam oleh petani. Kemudian jika ingin membuat sambal, kita butuh cabai, tomat, apa sempat kita menanam sendiri?
“Kalau kita hidup sendiri, apa bisa menanam padi, membuat sambal, dan menangkap ikan sendirian? Tidak bisa, kan? Maka berjamaah itu bukan sekadar ibadah, tapi kebutuhan. Kita saling bergantung untuk hidup”, jelasnya sambil tersenyum kecil.
Kebersamaan dalam Islam bukanlah bentuk kelemahan, melainkan sumber kekuatan. Ia melatih setiap orang untuk saling menutupi kekurangan, bukan saling mencari kesalahan. “Gunanya berjamaah itu untuk melihat kekurangan, bukan untuk menilai negatif”, tegasnya.
Menyulam Persaudaraan, Menolak Hasut
Membahas bagian lain dari hadis yang disampaikan oleh Nyai Heni adalah himbauan untuk tidak saling dengki antar sesame. Beliau menegaskan janganlah saling mendengki, jangan saling membenci, dan jangan saling membelakangi.
“Jangan sampai kita menjadi orang yang di depan bicara baik, tapi di belakang menjelek-jelekkan”, pesan Nyai Heni sambil bertanya kepada santri, apakah ada yang saling menjelek-jelekkan.
Baca juga: Tiga Tanda Munafik: Saat Kejujuran Hilang dan Kepercayaan yang Dikhianati
Kalimatnya sederhana, tapi menohok. Ia mengingatkan santri bahwa penyakit hati seperti iri dan dengki bisa merusak silaturahmi dan menghapus keberkahan amal. “Kalau kita ada masalah dengan teman, jangan lebih dari tiga hari. Kalau lebih dari itu, shalat dan puasanya bisa tidak diterima. Karena memutus tali silaturahmi itu berat akibatnya”, lanjutnya.
Beliau menegaskan bahwa hidup di pesantren bukan hanya untuk belajar ilmu agama, tapi juga belajar menjadi saudara bagi sesama. “Di pesantren, kita datang bukan untuk mencari musuh, tapi mencari saudara. Walau hati sedang sakit, tetaplah menyapa. Kalau kita sudah meminta maaf tapi dia belum mau memaafkan, itu urusannya dengan Allah”, pesan Nyai Heni.
Kejujuran: Fondasi Iman dan Persaudaraan
Di awal kajian yang disampaikan oleh Nyai Heni, beliau menuturkan tentang pentingnya menjaga kejujuran dan jangan menipu dalam jual beli atau berdagang. Nyai Heni menegaskan bahwa seorang muslim tidak boleh menipu sesamanya, sekecil apa pun.
“Kalau barangnya biasa saja, jangan dibilang limited edition. Kalau standar, jangan dibuat seolah-olah Istimewa”, ucapnya dengan nada serius.
Dalam pandangannya, praktik menipu, sekecil apa pun, adalah bentuk penghianatan terhadap nilai takwa. “Jangan saling membohongi antar sesama Islam”, pesannya.
Takwa Itu di Hati
Menutup pengajiannya, Nyai Heni mengutip penegasan Rasulullah yang menepuk dada tiga kali sambil berkata, “At-taqwa ha huna, takwa itu di sini”.
Takwa, menurut beliau, bukan sekadar tampilan luar, tapi soal kebersihan hati. Ia menegaskan, “Kalau hati kita bersih, tidak akan iri, tidak akan menipu, tidak akan menghina. Karena semua itu lahir dari hati yang kotor”.
Hadis ini seakan menjadi peta moral dalam kehidupan sosial modern. Di dunia yang sarat persaingan, manusia dituntut untuk tetap menjaga hati. Agar tidak dengki ketika orang lain lebih sukses, tidak menipu demi keuntungan, tidak mendiamkan ketika bisa menolong dan tidak menghina ketika bisa memuliakan.
Baca juga: Rahma dan Zaki, Santri Pesantren Rakyat Tampil di MTQ Nasional
Persaudaraan sejati bukan diukur dari seringnya bersama, tapi dari kesediaan saling menjaga dan mendoakan, bahkan ketika berjauhan.
Dan seperti kata Nyai Heni, “Kalau kita mau menjaga saudara kita, maka Allah akan menjaga kita”. Sebuah ungkapan yang mengajarkan makna takwa dalam bentuk paling nyata hidup yang saling menenangkan, bukan saling menyaingi; hidup yang penuh jamaah, bukan kesendirian; hidup yang penuh rahmat, bukan kebencian. (*)
Penulis: Chandra Djoego
Kamis, 13 November 2025