
Pesantren Rakyat Online – Di hadapan para kepala lembaga dan pengurus, Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd., tidak sedang mengajar teori musik. Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin itu sedang mengajak setiap pengurus bisa membaca kondisi melalui sesuatu yang sederhana, yakni soal tangga nada atau dikenal jamak dengan do-re-mi.
Dalam musik populer, tujuh nada diatonis, do, re, mi, fa, sol, la, si, do, menjadi salah satu fondasi yang melahirkan begitu banyak lagu. Dari nada yang terbatas, manusia menciptakan karya yang nyaris tidak terbatas. “Hanya berangkat dari do-re-mi bisa melahirkan banyak hal inspiratif dan kreatif”, katanya.
Secara teori, musik dunia tidak hanya mengenal tangga nada diatonis. Musik China dan banyak tradisi rakyat memakai pentatonis. Musik Arab mengenal maqam dengan kekayaan karakter dan mikrotonalitas. Musik gamelan Jawa hidup dengan pelog dan slendro. Britannica mencatat, gamelan dapat ditata dalam slendro yang berisi lima nada dan pelog yang terdiri atas tujuh nada dengan jarak tidak sama.
Asal-usul tangga nada sendiri menunjukkan bagaimana manusia sejak lama berusaha menata bunyi. Dalam tradisi Barat, Pythagoras dikaitkan dengan pemahaman hubungan nada melalui rasio matematis. Sementara sistem solmisasi yang melahirkan ut-re-mi-fa-sol-la diperkenalkan pada abad ke-11 oleh rahib Italia, Guido d’Arezzo, sebagai cara membantu orang membaca dan menyanyikan musik. Dari ruang ibadah dan pendidikan, nada kemudian menjadi bahasa pengetahuan.
“Dari susunan nada yang demikian, lahir keragaman yang luas”, imbuh kiai.
Baca juga: Yayasan Nabatul Ulum Kepung Kediri Kunjungi Pesantren Rakyat Al-Amin, Perkuat Kolaborasi
Musik lahir bukan hanya untuk hiburan. Ia hadir dalam ritual, pendidikan, perlawanan, doa, kerja, penyembuhan, dan ekspresi identitas. UNESCO menyebut musik sebagai salah satu seni pertunjukan yang paling universal dan hadir dalam setiap masyarakat. Britannica juga mencatat musik memiliki kemampuan mencerminkan sekaligus memengaruhi emosi manusia.
Di sinilah pernyataan KH Abdullah SAM menemukan pijakan. Kiai yang juga Ketua PC ISNU Kabupaten Malang itu bertanya kepada kita (kepala lembaga dan pengurus) yang hadir briefing Senin (18/05/2026), pernahkah seseorang mendengarkan musik lalu merasa sedih, senang, tenang, atau bersemangat?
Bahkan sebelum sampai pada syair, suara sudah dapat memengaruhi emosi. Setelah itu, tempo dan nada memperdalam pengaruhnya. Harvard Health menjelaskan, otak memproses ritme, nada, harmoni dan muatan emosional musik melalui bagian-bagian yang berbeda. Tempo lambat cenderung memberi efek relaksasi, sementara tempo cepat dapat membangkitkan gairah.
Maka dalam musik, tempo bukan sekadar cepat atau lambat. Tempo adalah pengatur napas. Terlalu cepat, lagu bisa kehilangan rasa. Terlalu lambat, pesan bisa tertahan. Begitu pula dalam mengelola pesantren, sekolah, lembaga, keluarga, bahkan kehidupan pribadi. Pemimpin memerlukan kepekaan membaca kapan harus bergerak, kapan menahan, kapan menaikkan intensitas dan kapan memberi jeda.
Nada juga demikian. Nada bukan hanya tinggi rendah bunyi, tetapi cara menyampaikan pesan. Dalam lembaga, gagasan baik bisa ditolak bila nadanya keliru. Teguran yang benar bisa melukai bila disampaikan tanpa empati. Sebaliknya, arahan yang sederhana dapat menggerakkan banyak orang bila nadanya tepat, tulus, dan sesuai suasana.
Baca juga: Ketua Yayasan Pesantren Rakyat Ajak Santri Terus Belajar Meski Ujian Selesai
Dalam pengelolaan pesantren, “do-re-mi” dapat dibaca sebagai nilai dasar ilmu, adab, kemandirian, melayani, kebersamaan, kreativitas dan kebermanfaatan. Nilainya tetap, tetapi komposisinya bisa berbeda sesuai kebutuhan zaman. Bagaimana menjaid pesantren yang inspiratif bukan pesantren yang meninggalkan akar, melainkan yang mampu meramu unsur lama dan baru menjadi harmoni.
Tidak semua nada harus berbunyi keras. Tidak semua harus memimpin. Justru keindahan muncul karena masing-masing paham peran. Pesantren pun demikian. Ada pengasuh, kepala lembaga, guru, santri, pengurus, wali santri dan masyarakat. Jika semua berebut menjadi nada utama maka harmoni bisa rusak. Jika semua menjalankan peran dengan sadar, pesantren atau lembaga menjadi hidup.
KH Abdullah SAM mengingatkan, setiap detik selalu lahir gagasan seperti lagu baru. Ada yang ditulis, digarap, lalu menjadi karya. Ada pula yang berhenti karena pemiliknya tidak percaya diri. Dalam kehidupan, banyak orang sebenarnya memiliki “melodi” kebaikan, tetapi tidak semua berani mengolahnya. Di titik ini, seni menjadi bahasa universal bukan karena semua orang memahami notasi yang sama, melainkan karena semua manusia mengenal rasa.
Hidup, pada akhirnya, adalah seni meramu. Dari bahan yang tampak sederhana, manusia dapat menciptakan karya besar. Do-re-mi tidak pernah habis karena kreativitas manusia tidak berhenti. Begitu pula mengelola pesantren, sekolah dan lembaga lainnya. Selama mau belajar membaca nada zaman, mengatur tempo perubahan dan menjaga harmoni antarperan, selalu ada hal baru yang bisa dilahirkan.
“Hanya do-re-mi bisa melahirkan banyak hal inspiratif dan kreatif”, tutup KH Abdullah SAM. (*)
Penulis: Chandra Djoego