
Pesantren Rakyat Online — Penguatan kapasitas kepemimpinan menjadi sorotan utama dalam Briefing Harian Yayasan Pesantren Rakyat Al-Amin yang digelar pada Jumat pagi (24/4/2026) di Ndalem Pengasuh. Dalam giat rutin tersebut, para pengurus dibekali wawasan tentang pentingnya kemampuan prediktif sebagai ciri utama seorang pemimpin yang intelektual dan visioner.
Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin, Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd., dalam arahannya menegaskan bahwa seorang pemimpin harus memiliki kemampuan memprediksi arah kerja dan dampak dari setiap keputusan yang diambil. Hal ini penting agar setiap program yang dijalankan memiliki perencanaan matang dan terukur.
“Pekerjaan itu harus diprediksi. Jika kita melakukan sesuatu, maka harus bisa membaca dampaknya akan menjadi apa. Kalender pendidikan misalnya, itu bisa menjadi acuan dalam menjalankan program di sekolah”, jelasnya.
KH Abdullah SAM menjelaskan bahwa kemampuan prediktif menjadi salah satu indikator penting dari intelektualitas seorang pemimpin. Oleh karena itu, kemampuan tersebut harus terus diasah melalui pengalaman, pembelajaran, dan keterbukaan terhadap evaluasi.
“Ciri-ciri intelektual itu memiliki kemampuan prediktif. Ini yang harus dilatih terus-menerus”, tegasnya.
Dalam kesempatan itu, kiai yang memiliki pengalaman segudang sebagai seorang organisatoris ini juga mendorong seluruh pengurus untuk membangun budaya komunikasi yang terbuka dalam menyelesaikan persoalan lembaga.
KH Abdullah SAM mengingatkan agar setiap permasalahan tidak dipendam, melainkan disampaikan dalam forum untuk dicarikan solusi bersama.
“Tolong jika ada masalah disampaikan dalam forum ini. Jangan dipendam karena malu atau takut dimarahi”, pesannya.
Baca juga: Kunjungan Balai Bahasa Jatim ke SDII Pesantren Rakyat, Perkuat Literasi Sekolah
Lebih lanjut, pengasuh Pesantren Rakyat memaparkan tiga pendekatan dalam menyelesaikan masalah. Pertama, menyelesaikan dengan kekuatan sumber daya yang dimiliki. Kedua, melalui pendekatan komunikasi atau lobi. Ketiga, untuk masalah pribadi dapat disikapi secara bijak, sementara untuk masalah lembaga yang tidak mampu diemban, kiai menegaskan perlunya sikap legawa untuk mundur dari tanggung jawab.
“Kalau tidak siap, monggo bisa keluar saja. Tapi kalau siap, ayo lanjut membangun bersama-sama”, ujarnya dengan tegas.
Lebih lagi, kiai yang visioner itu juga menekankan bahwa kedisiplinan dan kebiasaan baik tidak selalu lahir secara instan, melainkan harus dilatih bahkan dipaksakan hingga menjadi karakter. Dalam hal ini, KH Abdullah SAM mengutip prinsip ulama tentang pentingnya memaksa diri dalam kebaikan.
“Membiasakan kedisiplinan dan kebaikan itu harus dipaksa. Seperti dawuh KH. Achmad Masduqi Mahfudz, niat ingsun mekso awak”, kisah Ketua PC ISNU Kabupaten Malang.
Briefing harian ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Pesantren Rakyat Al-Amin dalam membangun tata kelola lembaga yang profesional dan disiplin.
Usai kegiatan, seluruh civitas Pesantren Rakyat Al-Amin melanjutkan agenda dengan mengikuti peletakan batu pertama pembangunan rumah Ustaz Muhammad Siddiq, Ketua Program Takhasus, sebagai bentuk kebersamaan dan dukungan terhadap pengabdian di lingkungan pesantren. (cha)
Reporter: Chandra Djoego