Pesantren Rakyat Guru Menulis Tiga Tanda Munafik: Saat Kejujuran Hilang dan Kepercayaan yang Dikhianati

Tiga Tanda Munafik: Saat Kejujuran Hilang dan Kepercayaan yang Dikhianati

Tiga Tanda Munafik, Saat Kejujuran Hilang dan Kepercayaan yang Dikhianati

Pesantren Rakyat Online – Selepas sholat zuhur berjamaah di Masjid Baitul Ihsan Pesantren Rakyat Al-Amin, suasana hening perlahan berganti dengan lantunan asmaul husna dari para santri yang bersiap mengaji. Setiap waktu ini, Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd., Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin memberikan tausiyah dan pembelajaran kepada seluruh jamaah. Pada kesempatan ini, beliau mengupas sebuah hadis pendek yang diambil dari kitab Mukhtarul Ahadits.

آية المنافق ثلاث : إذا حدث كذب ، وإذا وعد أخلف، وإذؤتمن خان. رواه الشيخان عن ابى هريرة

“Ada tiga tanda pada orang munafik: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanat ia berkhianat” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah ra.)

Hadis ini, kata KH. Abdullah SAM, bukan sekadar nasihat moral. Ia adalah cermin bagi setiap manusia, terutama bagi mereka yang merasa beriman namun tergelincir dalam perilaku yang mengkhianati hati nurani. 3 ciri orang munafik yang beliau jelaskan adalah 1) Berbohong atau berdusta saat berbicara; 2) Kalau berjanji ia ingkar (blenjani atau nulayani); 3) Kalau dipercaya menghianati atau cidro.

Luka yang Datang dari Orang Terdekat

Kiai yang juga menjabat sebagai Ketua PC ISNU (Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) Kabupaten Malang ini membuka penjelasan dengan nada yang lirih tapi tegas, “Orang munafik itu kelak berada di neraka jahanam paling bawah. Dan yang lebih menyakitkan, orang munafik sering kali adalah orang terdekat kita”.

Para santri dan jamaah terdiam. Lalu beliau menuturkan kisah yang mengguncang sejarah Islam, kisah tentang para pembunuh yang justru datang dari kalangan sendiri. Umar bin Khattab, sahabat mulia Rasulullah, dibunuh oleh Abu Lu’lu’ah. Ali bin Abi Thalib dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang penghafal Al-Qur’an. Cucu Rasulullah, Husein bin Ali, dipenggal dalam tragedi Karbala oleh pasukan yang juga mengaku Islam. Bahkan Hasan bin Ali meninggal karena diracun, menurut riwayat, oleh istrinya sendiri.

Baca juga: Santri Pesantren Rakyat Belajar Interaktif Lewat Smartboard Bantuan Presiden

“Yang membunuh mereka bukan orang kafir, tetapi orang Islam dan bahkan orang terdekat” kata KH. Abdullah dengan sorot mata tajam. Itulah wajah paling mengerikan dari kemunafikan, pengkhianatan yang datang dari dalam lingkaran sendiri atau orang terdekat kita.

Beliau lalu menyinggung bagaimana kisah Karbala bahkan membuat sebagian kiai sepuh di era 1980-an enggan dengan sepak bola, karena teringat pada simbol kepala cucu Rasul yang ditendang-tendang. Bagi mereka, pengkhianatan itu meninggalkan trauma spiritual yang dalam.

Pengkhianatan yang Melintasi Zaman

Namun, KH. Abdullah tidak berhenti di situ. Ia membawa para santri melintasi sejarah dunia ke zaman Romawi. Ia bercerita tentang Brutus, sahabat dekat Julius Caesar, yang justru menjadi penikamnya.

“Dari sinilah kita belajar bahwa untuk merobohkan dinasti, menghancurkan kebaikan, sering kali cukup menggunakan orang terdekat yang bisa dibeli, dipengaruhi, atau disesatkan. Itulah wajah orang munafik”, jelasnya.

Beliau menekankan, kebohongan adalah akar dari semua pengkhianatan. Sekali seseorang berdusta, ia akan terus menganggap dustanya benar. Ia akan mengubur kebenaran di bawah tumpukan pembenaran palsu yang dipelihara bertahun-tahun. “Dan jika dusta itu diulang, lama-lama orang lain pun percaya, bahkan ia sendiri pun lupa bahwa itu dusta”, ujarnya sambil menatap jamaah.

Bahaya Menikam dari Belakang

Dalam bagian yang paling menyentuh, KH. Abdullah menegaskan pesan moral bagi kehidupan pesantren bahwa jangan menjadi orang yang menikam dari belakang. “Kisah para pembunuh sahabat dan cucu Rasul itu terjadi karena mereka tidak mau duduk bersama, tidak mau ‘jagong maton’ untuk menyelesaikan masalahnya”, katanya.

Di pesantren, perbedaan pendapat adalah hal biasa. Namun ketika kejujuran hilang, musyawarah diganti dengan bisik-bisik dan amanah diabaikan, maka yang tersisa hanyalah api kecil yang menunggu waktu untuk membakar. “Dan yang perlu kita pahami bahwa ini adalah sejarah dan sejarah akan selalu berulang”, tegasnya.

Ilmu yang Tidak Diamalkan

KH. Abdullah lalu menyinggung bahaya lain dari kemunafikan yakni keilmuan tanpa pengamalan. Ia mengutip ungkapan dari Kitab Alala:

Fasadun kabirun ‘alimun mutahattikun, wa akbaru minhu jahilun mutanassikun

“Kerusakan besar adalah orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya, tapi lebih besar lagi kerusakan yang disebabkan oleh orang bodoh yang ahli beribadah”.

Baca juga: Tiga Tanda Munafik: Saat Kejujuran Hilang dan Kepercayaan yang Dikhianati

Beliau menjelaskan, jika kiai atau santri berbuat maksiat, itu sudah cukup merusak. Tapi jika orang bodoh tampil seolah-olah alim dengan macak khusyuk, bersurban, membawa tasbih ke mana-mana maka kerusakannya jauh lebih besar. Masyarakat akan mengira ia panutan, padahal sejatinya ia menyesatkan.

“Orang berilmu itu setiap tindakannya berdasarkan dalil, baik aqli (akal) maupun naqli (nash: Al-Qur’an, hadis, ijma, qiyas)”, jelas KH. Abdullah.

Untuk itu, kiai yang memiliki nama panggung Kiai Sableng itu meminta santri untuk tidak jadi orang yang bodoh. “Makanya, biar gak jadi wong pekok, ngajio!”, tegasnya. Karena sejatinya meskipun topik ngajinya sama, rasanya selalu beda setiap kali dibahas.

Cermin untuk Generasi Penerus

Menjelang akhir pengajian, suasana masjid terasa kian dalam. Kiai mengingatkan bahwa generasi penerus pesantren harus berhati-hati terhadap kemunafikan. “Jangan sampai ada yang lain di mata, lain di hati, lain di langkah,” pesannya.

Beliau memberi contoh, jika ada seseorang datang tiba-tiba menebar kebaikan, menyalami semua orang, memberi uang, atau seolah-olah membawa misi kebaikan, maka jangan langsung percaya. “Orang munafik itu seperti orang baik, wajahnya seperti mendukung, mencintai, ikhlas tapi nunggu momen tertentu untuk melakukan penghianatan”, imbuhnya.

Mengembalikan Makna Kejujuran

Dari pengajian ini, tersirat pesan kuat bahwa kemunafikan bukan sekadar masalah moral pribadi, tapi ancaman sosial yang bisa menghancurkan lembaga, persaudaraan, bahkan peradaban. KH. Abdullah SAM mengajak santrinya menumbuhkan budaya kejujuran, musyawarah, dan keterbukaan. Tiga hal yang menjadi antitesis dari tanda-tanda munafik.

Dalam dunia yang semakin bising dengan kepalsuan, pesan sederhana itu terasa menyejukkan. Bahwa kejujuran bukan lagi pilihan, melainkan jalan keselamatan. Bahwa menjaga amanah bukan sekadar kewajiban, tapi cermin dari iman.

Baca juga: Rahma dan Zaki, Santri Pesantren Rakyat Tampil di MTQ Nasional

Pesan moral dalam kajian ini adalah agar tidak menjadi orang yang berkhianat. Hal ini merupakan alarm dan peringatan halus bagi semua orang agar tidak terjerumus menjadi “orang terdekat” yang justru mengkhianati kebaikan.

Dan mungkin, sebagaimana yang sering diucapkan KH. Abdullah SAM dalam setiap akhir pengajiannya, hikmah sejati bukanlah yang hanya didengar, tapi yang direnungkan lalu diamalkan. (*)

Penulis: Chandra Djoego
Selasa, 12 November 2025

1 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.