Pesantren Rakyat Organisasi Seminar PMII Unira, KH Abdullah SAM Dorong Kader Perkuat Kaderisasi Hingga Kecakapan Digital

Seminar PMII Unira, KH Abdullah SAM Dorong Kader Perkuat Kaderisasi Hingga Kecakapan Digital

Seminar PMII Unira, KH Abdullah SAM Dorong Kader Perkuat Kaderisasi Hingga Kecakapan Digital - 1

Pesantren Rakyat Online – Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin, Dr (c) KH Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd., mendorong kader PMII tidak berhenti pada identitas organisatoris, tetapi memperkuat kapasitas intelektual, keberanian berpikir, dan kecakapan digital. Pesan itu disampaikan saat menjadi keynote speaker Seminar Puncak PMII 66 Evolve di Aula KH Moch Said Universitas Raden Rahmat Malang, Rabu (6/5/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pengurus Komisariat PMII Universitas Raden Rahmat Malang itu digelar dalam rangka memperingati Harlah PMII ke-66. Selain itu, moemen tersebut juga sebagai ajang konsolidasi gerakan, serta penguatan wawasan pergerakan kader.

Seminar ini dihadiri sejumlah tokoh dan pengurus PMII, di antaranya keynote speaker Dr Sutomo, S.Ag., M.Sos., Wakil Rektor III Unira Dr Hasan Bisri, M.Pd.I., Ketua IKAPMII Unira KH Abdul Kholiq, M.Pd., Ketua PC PMII Kabupaten Malang Syahrul Majid, S.M., Ketua Komisariat PMII Unira Santra Eda Yudha, Ketua Kopri PK PMII Unira Khalidatussabila Hanifa, para ketua rayon di bawah Komisariat Unira, serta seluruh kader PMII Unira.

Dalam paparannya, KH Abdullah SAM menyoroti pentingnya kaderisasi formal PMII, mulai MAPABA, PKD, PKL, hingga jenjang kaderisasi lainnya. Menurutnya, kader PMII tidak boleh meremehkan proses kaderisasi karena dari ruang itulah tradisi organisasi, disiplin gerakan, dan kapasitas intelektual dibentuk.

“Banyak kader meremehkan PKD, MAPABA, PKL, dan kaderisasi lainnya di PMII”, ujar kiai yang juga Ketua PC ISNU Kabupaten Malang itu.

KH. Abdullah SAM juga mengingatkan pengurus agar memiliki daya tarik intelektual dan kemampuan membaca kebutuhan zaman. Menurutnya, PMII akan semakin relevan jika kader mampu memadukan basis ideologis, kecakapan organisasi, dan kemampuan praktis yang dibutuhkan generasi muda hari ini.

Lebih lagi, aktifis yang menjadi langganan narasumber gerakan itu menyebut kader PMII perlu mendapat bimbingan dari rayon maupun komisariat untuk memanfaatkan platform digital secara produktif, termasuk peluang ekonomi kreatif seperti affiliate, e-sport, live streaming dan berbagai ruang digital lainnya.

“Apalagi di era sekarang, jika kalian mau jadi politikus atau jadi apa pun, harus bisa bermedia”, katanya.

Kandidat doktor multikultural dalam gagasannya menegaskan, kecerdasan kader hari ini tidak cukup hanya diukur dari IQ, EQ, dan SQ. Kader juga perlu memiliki Digital Quotient atau kecerdasan digital, yakni kemampuan menggunakan teknologi secara cerdas, produktif, dan bertanggung jawab.

Baca juga: Ingatkan Makna Sarjana, KH Abdullah SAM Dorong Pengurus Pesantren Rakyat Terus Upgrade Pengetahuan

Seminar PMII Unira, KH Abdullah SAM Dorong Kader Perkuat Kaderisasi Hingga Kecakapan Digital - 2
Potret: Ketua PC PMII Kabupaten Malang, Syahrul Majid (kiri) bersama Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin dan Ketua PC ISNU Kabupaten Malang, KH Abdullah SAM (kanan)

Dalam forum tersebut, KH Abdullah SAM mengajak kader PMII menghidupkan kembali tradisi diskusi dan keberanian berpikir. Ia mengutip gagasan René Descartes “cogito ergo sum” atau “saya berpikir maka saya ada” sebagai penanda bahwa eksistensi intelektual kader dibangun melalui kerja berpikir.

“Bangsa ini, sebagai kader tidak bisa maju karena tidak berani mengide, tidak berani berpikir sendiri. Padahal perbedaan itu sendiri adalah sunnatullah”, tegasnya.

Menurutnya, kader PMII perlu membangun identitas dan karakter keilmuan masing-masing. Kiai yang gemar membaca itu kemudian menyinggung Paulo Freire dan adagium sapere aude yang dikenal sebagai ajakan untuk berani berpikir sendiri. Dalam konteks gerakan mahasiswa, keberanian berpikir itu menjadi modal penting untuk merumuskan gagasan, membaca realitas sosial dan menentukan peran kader di tengah masyarakat.

Lebih daripada itu, kiai pendiri 137 Pesantren Rakyat di Indonesia mengaitkan pentingnya membaca dengan kemampuan berpikir. Ia mencontohkan kreativitas Wali Songo dalam melakukan dakwah kultural melalui media yang dekat dengan masyarakat, seperti wayang dan gamelan.

“Kalau kita tidak membaca, bagaimana bisa berpikir. Wali Songo itu berpikir bagaimana wayang yang dari India bisa masuk di masyarakat, gamelan diubah menjadi kebiasaan dan bahasa Jawa sehari-hari”, jelasnya.

Di hadapan peserta, KH Abdullah SAM meminta kader PMII membedah kembali Nilai Dasar Pergerakan (NDP), terutama nilai tri moto PMII zikir, pikir, dan amal saleh. Menurutnya, salah satu identitas PMII adalah intelektual yang tidak boleh lepas dari ilmu, bacaan dan pengabdian.

“Ayo dibreakdown Nilai Dasar Pergerakan PMII, zikir, pikir, amal saleh. Membaca adalah perintah Qur’an. Kita tidak akan meraih apa pun tanpa ilmu”, katanya. (grs/cha)

Reporter: Griselda Raissa
Editor: Chandra Djoego

0 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.