
Pesantren Rakyat Online – Yayasan Pesantren Rakyat Al-Amin menggelar Rapat Harian di Ndalem Pengasuh, Rabu (6/5/2026). Rapat tersebut menjadi forum upgrading kepala lembaga dan pengurus, sekaligus ruang penyamaan visi, evaluasi program harian, dan penguatan disiplin organisasi pesantren.
Rapat dipimpin langsung oleh Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin, Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd. Kegiatan ini diikuti pengurus yayasan, direktur fakultatif, kepala lembaga dari KB, TK, SDII, SMPII, SMAII, TPQ, Madrasah Diniyah, Program Takhasus, serta para kepala unit.
Dalam arahannya, KH Abdullah SAM menekankan pentingnya pengurus pesantren terus meningkatkan kapasitas diri. Kiai menyebut briefing pagi tidak boleh berhenti sebagai rutinitas administratif, tetapi perlu menjadi ruang belajar yang berkelanjutan.
“Jika setelah ada materi pagi saat briefing, bisa dilakukan pendalaman masing-masing. Jangan jadikan briefing pagi ini hanya sebatas formalitas, agar terus bisa melakukan upgrade pengetahuan”, pesannya.
Menurutnya, pengurus pesantren perlu memiliki kepekaan dalam membaca situasi dan memahami orang lain. Salah satu hal yang disinggung ialah pentingnya mempelajari psikologi wajah sebagai bagian dari upaya mengenali ekspresi dan kondisi seseorang secara lebih cermat.
“Mempelajari psikologi wajah itu penting. Ada cabang ilmu psikologi yang mempelajari tentang wajah, sehingga bisa melihat seseorang dari wajah seseorang”, kata KH Abdullah SAM.
Pesan tersebut relevan dengan kebutuhan pengelolaan lembaga pendidikan yang menuntut kepekaan sosial, terutama dalam memahami santri, guru, wali santri, dan dinamika kerja antar pengurus. Dalam konteks pesantren, kepekaan itu perlu tetap ditempatkan secara proporsional, sebagai alat bantu memahami keadaan, bukan untuk memberi penilaian tergesa-gesa terhadap seseorang.
Baca juga: Era Coding, KH Abdullah SAM Tekankan Kecerdasan Digital dan Guru Jangan Cepat Puas
Pengasuh yang juga Wakil Direktur Pesantren Center Nusantara itu juga menegaskan pentingnya pembagian tugas dalam organisasi. Menurut dia, pekerjaan pesantren harus dikelola dengan sistem yang jelas agar tidak menumpuk pekerjaan sehingga bisa lebih efisien dan cepat.
“Mengerjakan sesuatu itu harus dibagi habis. Kalau tidak, pasti lama. Pekerjaan itu dibagi rata dan itu gunanya organisasi”, tuturnya.
Dalam briefing tadi (Rabu, red), pengasuh juga mengingatkan kembali makna kesarjanaan. Kiai kandidat doktor multikultural itu menyebut sarjana tidak cukup hanya memiliki ijazah, tetapi harus menghidupkan tradisi keilmuan.
“Sarjana itu adalah ilmuwan. Ciri-ciri sarjana ada tiga, yaitu belajar mengajar, penelitian, dan pengabdian Masyarakat”, katanya.
Gagasan tersebut beririsan dengan prinsip Tridharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam lingkungan pesantren, nilai itu dapat diterjemahkan melalui pengembangan budaya riset, pembelajaran yang terus diperbarui, serta kebermanfaatan program bagi masyarakat sekitar.
Selain briefing dan evaluasi harian, rapat juga membahas film yang dibuat Cak Suro bersama santri Pesantren Rakyat untuk diberikan masukan. Cak Suro sendiri adalah seorang aktor, komedian nasional yang telah mendampingi produksi sketsa komedi kreatif di Pesantren Rakyat selama 1 bulan terakhir sejak tulisan ini dimuat.
Forum tersebut turut menindaklanjuti rencana pelatihan guru riset. Kepala SDII Pesantren Rakyat, Rizki Anis Sholikhah, M.Pd., diminta berkoordinasi dengan Dr Alfin Mustikawan dari Kampus Desa Indonesia dan Prof Agus Zainul Fitri, Guru Besar UIN SATU Tulungagung. (cha)
Reporter: Chandra Djoego