
Pesantren Rakyat Online — SD Islam Integratif (SDII) Pesantren Rakyat Al-Amin memberikan himbauan tegas kepada seluruh siswa untuk tidak mengikuti tren gerakan freestyle yang berbahaya. Edukasi tersebut disampaikan pada saat jam belajaran berlangsung di Masjid Baitul Ihsan, dengan melibatkan siswa kelas 1 hingga kelas 6, Rabu (6/5/2026).
Kegiatan ini difokuskan pada upaya pencegahan terhadap maraknya tren “sujud freestyle” yang belakangan viral di media sosial dan mulai ditiru oleh anak-anak. Melalui pendekatan edukatif, pihak sekolah mengingatkan bahwa tidak semua tren layak diikuti, terlebih jika berisiko terhadap keselamatan.
Penyampaian materi dilakukan secara interaktif menggunakan smartboard dengan menayangkan video dari YouTube sebagai contoh konkret. Siswa tampak antusias menyimak sekaligus diajak memahami dampak negatif dari tindakan yang sekadar bertujuan gaya-gayaan.
Kepala SDII Pesantren Rakyat, Rizki Anis Sholikhah, M.Pd, menegaskan pentingnya kesadaran siswa terhadap risiko dari setiap tindakan yang dilakukan. Menurutnya, anak-anak harus memahami bahwa tidak semua tren bisa dilakukan hanya untuk gaya-gayaan saja.
Baca juga: Seminar PMII Unira, KH Abdullah SAM Dorong Kader Perkuat Kaderisasi Hingga Kecakapan Digital

“Mereka harus paham bahwa setiap yang dilakukan ada risikonya, termasuk tren sujud freestyle ini. Dalam kesehatan sangat tidak dianjurkan karena dapat mengganggu sistem pernapasan dan dapat cedera parah. Bahkan risiko terberatnya adalah meninggal dunia”, katanya.
Kepala SDII juga menekankan peran penting orang tua dalam mengawasi penggunaan media sosial oleh anak. Menurutnya, arus informasi digital memiliki pengaruh besar terhadap perilaku anak sehingga diperlukan sinergi antara sekolah dan wali murid.
“Kita harus menghimbau juga kepada wali murid agar bijak dalam penggunaan media sosial yang pengaruhnya sangat nyata terhadap anak-anak. Perlu banyak edukasi, baik kepada wali murid maupun anak-anak sendiri”, tambahnya.
Melalui kegiatan ini, sekolah berharap siswa tidak hanya memahami bahaya tren berisiko, tetapi juga mampu menyaring informasi serta bijak dalam mengikuti perkembangan di media sosial. Edukasi semacam ini menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan berkarakter. (sev/cha)
Reporter: Syevia Nur Amanah
Editor: Chandra Djoego