
Pesantren Rakyat Online – Di Pesantren Rakyat Al-Amin, kepemimpinan bukan hanya teori. Ia merupakan praktik keseharian dalam proses pendidikannya. Untuk itu sebanyak 40 pendeta dan aktivis perempuan dari sejumlah wilayah Indonesia hingga Asia hadir dalam kunjungan study excursion bersama United Evangelical Mission dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (UEM-PGI) di Pesantren Rakyat Al-Amin, Kamis (30/10/2025).
Kedatangan para pemuka agama tersebut disambut oleh alunan musik gamelan Jagong Maton dan atraksi Pencak Silat Pagar Nusa. Mereka berdiskusi tentang peran perempuan dalam kepemimpinan politik dan keagamaan di Pesantren Rakyat Al-Amin.
Ada dua narasumber yang memantik diskusi dengan tema Women’s Leadership and Political Education. Keduanya adalah Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin, Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd., dan Nyai Silfia Heni Abdullah, M.Pd. Dari beberapa poin yang disampaikan oleh pemantik diskusi, penulis menangkap poin menarik yang disampaikan oleh Nyai Heni kaitannya dengan pembelajaran seumur hidup.
Bagi Nyai Heni, pendidikan adalah napas. Tidak ada batas waktu bagi siapapun untuk menuntut ilmu. “Di Pesantren Rakyat ini semua santri diwajibkan untuk belajar. Tiada hari tanpa membaca buku”, katanya.
Kalimat itu tidak hanya menjadi pedoman bagi santri, tetapi juga komitmen bagi semua civitas di Pesantren Rakyat Al-Amin. Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin itu mengungkapkan bahwa ia sendiri diminta sang suami, KH. Abdullah SAM, untuk terus melanjutkan pendidikan.
“Saya oleh kiai diminta untuk melanjutkan pendidikan S2. Ini menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya di dapur saja tetapi juga bisa memimpin”, tuturnya.
Pendidikan adalah jalan pembebasan, penguatan diri, dan keberkahan. Oleh karena itu, tidak ada hari tanpa membaca dan mengaji.
Sebagai alumni salah satu pondok besar di Malang, Pondok Pesantren An-Nur 2 Al-Murtadlo, Nyai Heni mengakui bahwa Pesantren Rakyat adalah pengalaman baru sekaligus tantangan. “Pertama kali saya masuk di Pesantren Rakyat, pesantrennya berbeda dari pesantren lain. Pesantren ini tidak ada pagar, sehingga tidak ada yang kabur karena memang tidak ada pagar”, katanya sambil tersenyum.
Tidak adanya pagar bukan kelemahan, melainkan filosofi keterbukaan. Santri tidak dikungkung tembok, tetapi dipenuhi aktivitas positif yang menumbuhkan kontrol diri. “Kita merancang kegiatan-kegiatan yang padat dan positif”, jelasnya.
Sikap Pesantren Rakyat terhadap perempuan bukan slogan, tetapi ekosistem. “Di sini, pengurus lurah saja Perempuan”, ungkap Nyai Heni, menegaskan bahwa ruang pengabdian dan kepemimpinan terbuka lebar tidak terbatas pada hal-hal tertentu.
Baca juga: 40 Pendeta Asia Belajar Kepemimpinan Perempuan di Pesantren Rakyat Al-Amin

Ia menolak narasi lama yang memosisikan perempuan sebagai pelengkap. Di Pesantren Rakyat, perempuan juga memegang peran dan pengambil kebijakan. “Perempuan jangan sampai mau kalah kalau berhubungan dengan pendidikan. Karena kita semua mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki”, tegasnya.
Inspirasi itu juga ia ambil dari sosok akademisi dan aktivis gender Prof. Mufidah Ch. “Jika dogma agama sudah jelas, jangan diutik-utik. Tapi fungsi sosial dan peran perempuan dalam kehidupan modern itu harus kita kuatkan”, jelasnya lebih luas.
Yang menarik lagi, Nyai Henimenegaskan bahwa karakter pesantren ini mencerminkan karakter pengasuhnya yakni terbuka, inklusif, dan penuh kasih. “Pesantren Rakyat harus menjadi rumah belajar bagi siapa saja. Santri tidak sekadar diajak pandai, tetapi diajak menjadi manusia yang bermanfaat”, katanya.
Kekuatan Pesantren Rakyat bukan pada nama besar, tetapi cahaya ilmu yang tidak pernah padam. “Ada ungkapan di sini, kita yang belajar, kita yang mengajar dan kita yang memberi gelar”, ungkap alumnus Universitas Al-Qolam itu.
Karenanya, setiap guru dan santri di Pesantren Rakyat tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri. “Ilmu yang kita dapatkan, ayo kita amalkan kepada anak-anak kita,” tutup Nyai Heni dengan penuh ketegasan.
Hari itu, para pendeta pulang dengan membawa hikmah Pelajaran bahwa pendidikan perempuan tidak harus berteriak di panggung besar. Kadang, ia tumbuh dari tempat seperti pesantren yang dipandang sebelah mata.
Pesantren Rakyat bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia adalah gerakan peradaban, dibangun dari cinta ilmu, keberanian membuka diri, dan keyakinan bahwa perempuan tidak hanya partisipan, tetapi bagian dari pemimpin perubahan. (cha)
Penulis: Chandra Djoego