Pesantren Rakyat Pesantren Corner 40 Pendeta Asia Belajar Kepemimpinan Perempuan di Pesantren Rakyat Al-Amin

40 Pendeta Asia Belajar Kepemimpinan Perempuan di Pesantren Rakyat Al-Amin

40 Pendeta Asia Belajar Kepemimpinan Perempuan di Pesantren Rakyat Al-Amin

Pesantren Rakyat Online — Pesantren Rakyat Al-Amin kedatangan 40 pendeta dan aktifis Perempuan lintas iman Indonesia-Asia, Kamis pagi (30/10/2025). Para pemuka agama yang melakukan study excursion (kunjungan lapangan) tersebut tergabung dalam Joint Program United Evangelical Mission (UEM) Asia dan PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia) yang digawangi oleh Institut Pendidikan Theologia Balewiyata Majelis Agung Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW).

Bertempat di Auditorium Masjid Baitul Ihsan, para pendeta disambut alunan musik gamelan dan atraksi pencak silat Pagar Nusa oleh santri Pesantren Rakyat Al-Amin. Pada moemn ini, mereka ingin belajar tentang kepemimpinan perempuan dengan tajuk “Women’s Leadership and Political Education”.

Untuk itu, Pengurus UEM Asia, Irma Riana Simanjuntak mengatakan bahwa kami datang bukan hanya untuk melihat Pesantren Rakyat, tetapi belajar langsung tentang kepemimpinan perempuan, pendidikan politik, serta kehidupan lintas iman yang damai dan setara.

Dalam sambutannya, Irma mengungkapkan rasa kagumnya terhadap konsep pendidikan yang dikembangkan Pesantren Rakyat Al-Amin. Pengurus UEM Asia itu melanjutkan, dari 90% peserta yang hadir adalah pendeta perempuan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan Asia.

Baca juga: Apel HSN 2025: Nyai Heni Ajak Santri Pesantren Rakyat Warnai Dunia

40 Pendeta Asia Belajar Kepemimpinan Perempuan di Pesantren Rakyat Al-Amin - 1
Harmoni: 40 pendeta Asia belajar kepemimpinan perempuan di Pesantren Rakyat Al-Amin

“Kami ingin menyerap inspirasi dari dunia pesantren. Kami ingin mengetahui sejarah Pesantren Rakyat, nilai pendidikan inklusifnya, hingga posisi perempuan dalam Islam. Kami belajar bagaimana Islam memuliakan perempuan dan bagaimana pesantren menjadi ruang pemberdayaan”, ungkap Irma.

Lebih lagi, menurut Irma, kunjungan ini adalah bagian dari perjalanan panjang perempuan di Asia untuk memahami bagaimana pendidikan keagamaan bisa menjadi ruang tumbuh bagi kepemimpinan yang inklusif dan penuh kasih.

Sementara itu, dari pemaparan materi diskusi yang disampaikan oleh Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd., Penggagas Pesantren Rakyat sekaligus Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Malang dan Nyai Silfia Heni Abdullah, M.Pd., Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin, berujung pada kesimpulan bahwa agama, pendidikan, dan kemanusiaan tidak dapat dipisahkan.

Pesantren Rakyat yang dikenal sebagai pesantren inklusif, tanpa dinding, tanpa pagar, gratis nyatanya menjadi rumah bersama untuk belajar, diskusi dan menyebarkan misi perdamaian. Menurut KH. Abdullah SAM, Islam tidak hanya berbicara tentang kesalehan spiritual, tetapi juga tentang kesalehan sosial.

“Bagaimana kita menebar kasih, menjaga perdamaian, dan mengangkat martabat manusia tanpa membedakan latar belakang apa pun. Pesantren Rakyat menjadi bukti nyata bagaimana nilai Islam ahlussunnah wal jamaah diterjemahkan dalam bentuk pendidikan inklusif, pemberdayaan masyarakat, dan kesetaraan gender”, kata Abdullah.

Bahkan lebih daripada itu, santri Pesantren Rakyat, baik laki-laki maupun perempuan, didorong untuk terus belajar, berpikir terbuka, dan berkontribusi nyata bagi bangsa. Perempuan diberi ruang yang sama untuk memimpin, berpendidikan tinggi, dan berperan aktif dalam kehidupan masyarakat, sebuah bukti bahwa Islam sejati menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan.

Baca juga: Live in GKJW Kepanjen di Pesantren Rakyat Teguhkan Kerukunan Lintas Iman

40 Pendeta Asia Belajar Kepemimpinan Perempuan di Pesantren Rakyat Al-Amin - 2
Apresiasi: Pengurus UEM Asia, Irma Riana Simanjuntak (dua dari kiri) memberikan cenderamata kepada Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin

“Disini, santri tidak hanya diajarkan untuk taat beribadah, tetapi juga untuk berpikir terbuka, mencintai ilmu, dan peduli terhadap sesama”, tutur kiai yang berhasil mengembangkan Pesantren Rakyat hingga ke 137 titik di Indonesia itu.

Dalam diskusi yang berjalan singkat itu, masing-masing narasumber menyampaikan materi dengan poin yang berbeda-beda misalnya KH. Abdullah SAM menyampaikan tentang sejarah Pesantren Rakyat, perempuan dalam perspektif Al-Qur’an, dan peningkatan SDM santri. Disisi lain, Nyai Silfia Heni Abdullah menyampaikan tentang pendidikan formal dan informal, penguatan kapasitas personal dan komunal serta relasi sosial Masyarakat.

Namun demikian, keduanya sampai pada suatu kesimpulan bahwa agama harus menjadi energi pemersatu, bukan sumber perpecahan. Bahwa ilmu tanpa kemanusiaan tidak berarti, dan iman tanpa aksi sosial hanyalah simbol tanpa makna.

Narasumber mengajak seluruh pihak untuk terus belajar, menebar manfaat, dan menjaga perdamaian, sebagaimana cita-cita luhur Islam dan pesan luhur bangsa Indonesia yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan memanusiakan manusia.

Seusai diskusi dan dialog dengan para peserta, acara ini ditutup dengan doa bersama lintas agama yang dipimpin oleh Pdt. Yulius Setyo Nugroho, M.Fil. dan KH. Abdullah SAM, Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin. (cha)

Penulis: Chandra Djoego

5 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.