
Pesantren Rakyat Online – Sebanyak enam delegasi Program Studi Intensif Lintas Iman (SILI) Institut Pendidikan Theologia (IPTh) Balewiyata Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Malang melakukan kegiatan live in di Pesantren Rakyat Al-Amin, Sumberpucung, Sabtu-Minggu (01-02/11/2025). Mereka yang belajar tentang kehidupan pesantren, ada yang berlatar belakang pendeta, guru, pengusaha, mahasiswa dan Co-worker United Evangelical Mission (UEM) dari Jerman.
Pada tahun ini (2025, red), kegiatan SILI mengambil tema “In Her Hands: Perempuan Agen Perdamaian” dan memilih Pesantren Rakyat Al-Amin sebagai tempat belajar yang merepresentasikan kehidupan pendidikan agama Islam berbasis pesantren. Sebelum ini, termasuk dalam rangkaian program SILI adalah kunjungan 40 pendeta Perempuan Asia yang juga belajar tentang kepemimpinan perempuan di Pesantren Rakyat Al-Amin pada 30 Oktober 2025 lalu.
Kedatangan para peserta disambut hangat oleh Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin, Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd., dan Nyai Silfia Heni Abdullah, M.Pd., berbagi cerita tentang peran perempuan dalam membangun perdamaian lintas agama. Dalam suasana cair dan akrab, diskusi mengalir tentang dogma-dogma di masing-masing agama, hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari, dan nilai kemanusiaan yang menjadi jembatan universal antariman.
Menjelang malam, kegiatan berlanjut dengan diskusi bersama kiai tentang lambang Nahdlatul Ulama (NU) dan makna filosofinya. Percakapan ringan itu membuka ruang refleksi bagi peserta tentang nilai-nilai moderasi Islam dan semangat kebangsaan yang dibawa oleh pesantren.
Baca juga: Nyai Heni Abdullah: Di Pesantren Rakyat, Semua Wajib Terus Belajar!

Usai diskusi, denting gamelan mulai terdengar. Di bawah arahan Ghofur Yajalali, Ketua Sanggar Seni Jagong Maton, para peserta berlatih memainkan dua lagu klasik: Gambang Suling dan Gugur Gunung. Julia, Co-worker UEM asal Jerman bersama peserta lainnya tampak antusias memainkan setiap note lagu secara harmoni.
“Terima kasih atas kesempatan ikut latihan gamelan. Ini pengalaman baru yang indah,” ujar Julia, peserta asal Jerman ini.
“Matur nuwun, semua orang di sini sangat ramah”, imbuhnya.
Sementara itu, respon baik atas pengalaman yang diterima oleh peserta disampaikan oleh Nike, mahasiswa Universitas Kristen Petra Surabaya, malam itu meninggalkan kesan mendalam. “Senang sekali bisa berdialog langsung dengan kiai, ikut karawitan, dan melihat santri mengaji. Kami jadi tahu lebih banyak tentang cara pesantren memahami dogma dan kehidupan”, tuturnya.
Tak hanya praktik langsung bermain gamelan, tetapi para pendeta mud aini juga menyaksikan langsung proses pembelajaran yang berlangsung di kelas takhasus kitab Pesantren Rakyat Al-Amin. Mereka menyaksikan para santri melakukan syawir, atau diskusi bahasa Arab (nahwu–sharaf), lalu membaca kitab kuning yang dipilih langsung oleh peserta.
“Tidak hanya membaca saja, tapi para santri juga menjelaskan cara memahami dan mengi‘rob”, jelas Nyai Heni Abdullah kepada redaksi.
Di hari kedua, para peserta diajak oleh pengasuh berkeliling area pesantren. Mereka melihat santri-santri Pagar Nusa berlatih pencak silat, belajar singkat tentang perawatan bonsai, memelihara kambing dan ikan lele, hingga memetik jambu air di kebun pesantren.
“Saya senang melihat bagaimana santri hidup mandiri, bukan hanya belajar agama, tapi juga budaya, pertanian, dan seni,” kata Olive, siswi SMKN 1 Malang.
“Di pesantren, semuanya saling terhubung antara agama, budaya, dan kehidupan”, ungkapnya.
Baca juga: 2 Santri Pesantren Rakyat Tumbuhkan Perspektif Lintas Iman di GKJW Batu

Senada dengan Olive, Siska Tyas yang berasal dari GKJW Singosari sekaligus guru di Sekolah Kristen Althesia Malang mengungkapkan pengalaman berkesan atas kegiatan live in yang dijalaninya. “Kami dapat memperkaya ilmu dan memperdalam rasa persaudaraan”, responnya singkat.
Di lain hal, bagi Ayu, peserta dari Kraksaan Probolinggo, dua hari di pesantren menjadi pengalaman yang tak terlupakan. “Rasanya menyenangkan sekali. Semua orang di sini sangat terbuka dan ramah. Saya belajar banyak tentang kesederhanaan”, tuturnya.
Sementara itu, Pdt. Yulius Setyo Nugroho, M.Fil., selaku penanggung jawab kegiatan, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih. “Kami sangat berterima kasih, di tengah kondisi yang kurang kondusif, Pesantren Rakyat mau menerima kami dengan tangan terbuka”, ujarnya.
“Berbicara perdamaian itu bukan hanya teori, tapi percakapan sehari-hari seperti yang kita alami di sini”, jelas Pdt. Yulius.
Dua hari yang singkat itu meninggalkan kesan mendalam kepada peserta bahwa perdamaian tidak harus lahir dari forum besar. Ia bisa tumbuh dari ruang sederhana, erambi pesantren, nada gamelan, dan percakapan santai antara iman yang berbeda.
“Semoga pengalaman live in ini berkesan dan tidak membuat kapok untuk berkunjung ke Pesantren Rakyat lagi. Jadikan kesederhanaan pesantren sebagai simbol bahwa dakwah sejati berangkat dari kesederhanaan yang menebar kedamaian”, kata Nyai Heni Abdullah.
Pesantren Rakyat Al-Amin membuktikan bahwa agama tidak membatasi perjumpaan, justru memperluasnya. KH. Abdullah SAM menyampaikan terima kasih kepada pihak Balewiyata dan para pendeta muda yang hadir. “Mudah-mudahan pertemuan ini bisa menjadi sinergi untuk menjaga perdamaian dan saling menyapa sebagai bangsa”, harap kiai yang juga Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Malang itu.
“Perdamaian, kebersamaan, keilmuan, persaudaraan, pendidikan, kesehatan, dan sosial adalah urusan kita bersama yang tidak memandang agama,” tutup KH. Abdullah SAM. (cha)
Penulis: Chandra Djoego