
Pesantren Rakyat Online – Sebanyak dua santri Pesantren Rakyat Al-Amin mengikuti kegiatan lanjutan program Studi Intensif Lintas Iman (SILI) yang digelar oleh Institut Pendidikan Theologia (IPTh) Balewiyata – Majelis Agung Greja Kristen Jawi Wetan (MA GKJW) Malang, pada Sabtu-Minggu (01-02/11/2025). Mereka yang ditugaskan mengikuti program ini adalah Azka Nadziroh dan Griselda Raissa, Lurah dan Sekretaris Pengurus Santri Pesantren Rakyat Al-Amin.
Kegiatan dengan tema ‘In Her Hands: Perempuan Agen Perdamaian’, sejatinya telah dimulai sejak Agustus 2025 dan mencapai puncaknya pada bulan ini (November, red). Program tersebut diikuti oleh 28 orang yang berasal dari berbagai profesi dan latar belakang berbeda-beda. Mereka perwakilan gereja-gereja Malang Raya dan Surabaya dari latar belakang pendeta, mahasiswa, pengusaha, peneliti hingga murid SMA dan SMK. Selain itu, ada juga delegasi dari agama Hindu, komunitas muslim yang tergabung dalam organisasi Ahmadiyah, Syiah, Muhammadiyah dan santri yang diwakili oleh Pesantren Rakyat Al-Amin.
Menurut informasi yang dihimpun oleh redaksi, kegiatan live in ini merupakan bagian akhir dari program SILI. Para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok yang ditugaskan untuk mengenal, meneliti dan berinteraksi dengan warga atau masyarakat agama di lingkungan berbeda. Pada kesempatan ini, Azka dan Griselda tergabung dalam kelompok 1 yang ditugaskan untuk live in di GKJW Selecta, Desa Tulungrejo, Kota Batu.
Di lokasi kegiatan, Azka beserta tim kelompok 1 disambut hangat oleh Pendeta (Pdt.) Sinta. Seusai perkenalan singkat, peserta diajak oleh Pdt. Sinta berkeliling lingkungan GKJW Selecta mulai dari tempat peribadatan gereja induk hingga gereja pepantan atau cabang yang berada di wilayah Santrean. Saat mengunjungi tempat tersebut, anggota live in yang berjumlah tiga orang ini mengobservasi sejarah, budaya, adat dan kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh jemaat dan warga sekitar.
Menurut penuturan Azka, di hari pertama live in kelompoknya mendapat pengetahuan tentang pengenalan cara beribadah, kebiasaan dan nilai utama yang diajarkan dalam ajaran Kristen. Tak berhenti disana, ia bersama anggota lainnya berdiskusi bersama warga tentang hubungan antarumat beragama.
“Di sini, kami mendapat banyak pandangan baru tentang bagaimana komunitas Kristen berperan dalam menghadapi isu sosial seperti kemiskinan, perdamaian dan keterlibatan pemuda”, kata santri asal Kepanjen itu.
Baca juga: Perempuan, Perdamaian dan Pesantren: Pesan Kemanusiaan KH Abdullah SAM
Dari pengalaman tersebut, Azka menemukan sejumlah tantangan yang dihadapi oleh jemaat saat mendirikan tempat ibadah. Menurut Lurah yang saaat ini duduk di bangku kelas 12 SMA Pengusaha Pesantren Rakyat Al-Amin itu, sempat ada penolakan dari warga muslim sekitar saat proses pendiriannya utamanya Gereja Pepantan di Dukuh Santrean.
“Gereja ini telah berdiri sekitar 39 tahun yang lalu, namun pro-kontra masyarakat sekitar masih kentara. Menurut penuturan warga sekitar, hal tersebut disikapi dengan pelibatan tokoh masyarakat dalam menjelaskan kesalingterbukaan antarumat dalam menjaga kerukunan”, jelas Azka.
Masih menurut Azka, kerukunan yang dijalankan oleh warga Santrean tidak sebatas soal ibadah saja. Lebih daripada itu, umat kristiani disana juga berusaha terbuka dalam kegiatan-kegiatan sosial masyarakat, membaur dengan komunitas umar beragama lain apalagi yang berhubungan dengan pembangunan masjid.
Di sisi lain, menyikapi perbedaan dan pro-kontra tersebut, para Panatua Diaken atau tokoh tetua dan majelis jemaat menyampaikan pentingnya tetap menjaga rasa saling mengasihi dan menyayangi kepada siapapun. “Yang kita lakukan adalah menjalani hal-hal baik sesuai keyakinan dalam kitab kita”, kata Pak Pur, salah satu majelis jemaat.
Selama dua hari di tempat live in, peserta semakin memahami bahwa perbedaan bukanlah hal yang harus ditakuti. “Selain itu, kami menyadari pentingnya menghormati dan komunikasi karena komunikasi adalah skill dan trik yang perlu dilatih”, ungkap Azka.
“Komunikasi yang perlu dibangun, idealnya tanpa kekerasan yang bertujuan untuk menyatukan perspektif dan menghilangkan stereotipe yang muncul. Dan dalam live in kali ini, saya dan teman-teman mendapat pelajaran penting tentang kehidupan lintas agama”, imbuhnya.
Dari kegiatan live in ini, santri Pesantren Rakyat Al-Amin mendapat pengalaman dan mindset lebih terbuka dalam menghargai keberagaman. “Kami termotivasi untuk menjadi santri yang membawa semangat perdamaian di manapun berada”, tutup Azka. (azn/cha)
Reporter: Azka Nadziroh
Editor: Chandra Djoego