Pesantren Rakyat Pengasuh Metafora Daun, Pesan Reflektif KH Abdullah SAM

Metafora Daun, Pesan Reflektif KH Abdullah SAM

Metafora Daun, Pesan Reflektif KH Abdullah SAM

Pesantren Rakyat Online – Daun yang gugur sering tidak sempat pamit. Ia jatuh pelan, mengering, lalu hilang di tanah. Bertahun-tahun kemudian, orang mungkin tidak lagi melihat bekasnya. Tetapi pohon yang tumbuh besar pernah ditopang oleh daun-daun itu. Ia menangkap cahaya, mengolah makanan, memberi tenaga untuk batang, ranting, akar dan buah.

Dari peristiwa sederhana itu, Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd., Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin, mengajak kepala lembaga dan pengurus membaca hidup dengan lebih jernih. Manusia, katanya, itu seperti daun. Hari ini hijau, terlihat, dicatat, dibutuhkan. Tetapi suatu saat akan gugur. Bahkan kita sebagai manusia bisa tidak mengenal jejak keluarga, bisa samar, bahkan mungkin tidak lagi mengenali silsilah hingga kakek, buyut, canggah, atau gantung siwur dan yang lebih tinggi lagi.

Secara biologis, daun memang menjadi pusat kerja penting bagi tanaman. Daun adalah tempat utama fotosintesis, proses yang mengubah cahaya menjadi energi untuk menopang kehidupan tumbuhan. Ketika daun jatuh dan membusuk, ia dapat menjadi bagian dari humus. Ia tidak lagi tampak sebagai daun, tetapi manfaatnya masuk ke tanah (Encyclopaedia Britannica, n.d.-b).

Di situlah pesan KH Abdullah SAM terasa tajam. Tidak semua jasa harus tercatat sebagai nama besar. Kita melewati jalan beraspal tanpa tahu siapa pekerja yang menuang bahan, meratakan permukaan, atau menjaga proyek tetap berjalan. Kita menikmati rumah, sekolah, pesantren, sawah dan lembaga yang dibangun oleh orang-orang yang sebagian besar namanya tidak pernah masuk buku sejarah.

“Rumus orang besar ada dua. Yang pertama, kamu punya prestasi apa tidak. Yang kedua, kamu punya prasasti apa tidak”, tambahnya.

Prestasi adalah kerja nyata. Prasasti tidak selalu berarti batu bertulis atau monumen megah. Ia bisa berupa murid yang tercerahkan, lembaga yang tetap bergerak, jalan yang dipakai orang banyak, ilmu yang diwariskan atau nilai yang hidup dalam generasi berikutnya. Dalam psikologi perkembangan, Erik Erikson menyebut dorongan untuk merawat dan membimbing generasi berikutnya sebagai generativity. Studi Faßbender, Wiebe, dan Bates (2019) menjelaskan bahwa warisan fisik dan budaya dari generasi sebelumnya dapat meningkatkan daya hidup generasi setelahnya.

Dalam tradisi Islam, gagasan ini dekat dengan hadis tentang amal yang terus mengalir. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa ketika manusia meninggal, amalnya terputus kecuali tiga yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakan (Muslim ibn al-Hajjaj, n.d.). Artinya, hidup tidak diukur semata dari panjang nama yang dikenang, tetapi dari panjang manfaat yang terus bekerja setelah seseorang tidak lagi hadir.

KH. Abdullah SAM menyebut nama James Watt, Marconi, Imam Bukhari, Ibn Athaillah dan tokoh-tokoh lain sebagai contoh betapa ingatan manusia selalu terbatas. James Watt dikenang karena penyempurnaan mesin uap yang ikut mendorong revolusi industri (Encyclopaedia Britannica, n.d.-c). Guglielmo Marconi dikenang melalui pengembangan telegrafi nirkabel dan menerima Nobel Fisika 1909 (Nobel Prize, n.d.). Imam Bukhari dihormati sebagai penyusun hadis yang sangat selektif dan berpengaruh dalam tradisi Sunni. Namun, tidak semua orang tahu rumah, makam atau detail hidup mereka. Yang bertahan adalah manfaat, karya dan pengaruh.

Karena itu, menjadi “daun” bukan posisi rendah. Daun yang baik tidak sibuk menuntut namanya diukir pada batang. Ia bekerja, memberi makan, lalu siap kembali ke tanah. Dalam konteks Pesantren Rakyat, pesan ini menjadi ajakan untuk melepas ego. “Apa gunanya kita turun wali, kiai, gus, tapi tidak berguna dan tidak bermanfaat”, ujar KH Abdullah SAM.

Ketua PC ISNU Kabupaten Malang itu menegaskan pentingnya memahami jalan dan rumah pengabdian. “Apa agama kita? Islam, Islam Indonesia, dimana? Jawa Timur, Malang, Sumberpucung, lebih spesifik lagi di Pesantren Rakyat”, Abdullah mengumpamakan.

Baca juga: KH M Ilyas Thohari Wafat, Pengasuh Pesantren, Guru Besar dan Akademisi Hadiri Shalat Jenazah

Identitas itu bukan untuk menyempitkan pandangan, melainkan menegaskan pijakan. Orang yang tahu akarnya lebih siap tumbuh. Akar tanaman berfungsi menambatkan tubuh, menyerap air dan mineral, serta menyimpan cadangan makanan. Lembaga pun demikian. Tanpa akar ia mudah roboh oleh musim.

Pohon besar juga tidak tumbuh dengan menolak cuaca. Ia menerima panas, hujan, angin, dan perubahan musim. Tidak semua pohon kuat di semua tempat, karena setiap jenis memiliki daya tahan masing-masing. Maka manusia dan lembaga perlu membaca suhu sosialnya.

“Kapan bergerak cepat, kapan menahan diri, kapan menyesuaikan bahasa dan kapan memperkuat akar”, tegas KH Abdullah SAM.

Pengasuh kemudian dalam briefing harian Rabu pagi (3/6/2026) mengingatkan, “Pohon itu selalu mengikuti arah matahari. Orang kalau ingin hidup harus mencari sinar matahari. Sinar itu adalah ilmu dan jangan puas untuk terus belajar”.

Dalam ilmu tumbuhan, gerak bagian tanaman menuju cahaya disebut fototropisme (Encyclopaedia Britannica, n.d.-f). Dalam kehidupan manusia, “cahaya” itu dapat dibaca sebagai ilmu, pengalaman, nasihat dan kesediaan memperbaiki diri. Pesantren, guru, santri dan pengurus tidak boleh berhenti mencari sinar. Begitu kita merasa cukup maka sejatinya pertumbuhan bakal berhenti.

Pada akhirnya, metafora daun bukan ajakan untuk kecil hati. Ia justru mengajarkan keberanian menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Tidak semua orang harus menjadi batang. Tidak semua orang menjadi cabang. Ada yang menjadi akar, ranting, daun, bunga atau humus. Semua punya peran.

Yang berbahaya, kata KH Abdullah SAM, adalah ketika seseorang menyembunyikan kepentingan pribadi di balik kata-kata bijak. Dalam lembaga, ambisi semacam itu mudah membuat orang lelah, kecewa dan stres ketika perubahan tidak sesuai keinginannya. Maka ikhlas bukan pasif. Ikhlas adalah bekerja sungguh-sungguh tanpa menjadikan diri sebagai pusat segala hal.

Daun akan gugur. Nama akan pudar. Tetapi manfaat bisa tinggal lebih lama. Selagi masih hijau, selagi masih mendapat cahaya, tugas manusia adalah terus mewarnai kehidupan dengan hal-hal yang bermanfaat dan pengaruh baik bagi lingkungan kehidupannya.

“Jangan menunggu sempurna”, tutup pengasuh. (*)

Penulis: Chandra Djoego

0 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.