Banyak Kiai Berpolitik, Dijuluki Kiai Jangkrik

0
191

Pesantren rakyat mungkin masih asing di telinga. Namun, bagi warga Sumberpucung, Kabupaten Malang, nama itu sudah familiar. Sebuah pesantren yang didirikan oleh generasi muda NU yang prihatin melihat kondisi pesantren saat ini.

Wartawan KHOLID AMRULLAH

Tidak ada papan nama layaknya sebuah pesantren atau bangunan yang banyak biliknya untuk para santri. Begitu memasuki Pesantren Rakyat di RT 7/RW 1 Desa Sumberpucung, Kabupaten Malang, semua seperti kampung biasa.

Hanya sebuah ruangan yang kira-kira berukuran 4 x 6 meter dan seperangkat gamelan tertata rapi. Juga ada sejumlah wayang kulit. Lalu di lantai bawah tanah, terdapat beberapa komputer yang terkoneksi dengan internet.

Bangunan itu dijadikan pusat informasi. Sejumlah santri yang lebih tepat disebut teman Abdullah, terlihat sibuk menemani alumni UIN Maliki Malang ini. Tapi tidak setiap hari, karena hampir semua binaan Cak Dul, begitu Abdullah Sam disapa- punya kesibukan sendiri-sendiri sebagaimana orang kampung lainnya.

Ya, Cak Dul memang sengaja mendesain pesantrennya berbeda dengan pesantren salaf atau pesantren modern seperti yang ada saat ini. Karena, menurut suami Trilianti itu, saat ini banyak pesantren yang kiainya kurang dekat dengan masyarakat.

Bahkan, terkesan ada jarak yang jauh antara kiai dengan lingkungan sekitarnya. Apalagi dengan masyarakat abangan. Hal ini karena sang kiai sibuk dengan urusan lain. Salah satunya sibuk berpolitik. Anak-anak kiai kini juga banyak yang bergaya hidup hedonis yang tidak mencerminkan sebagai sosok panutan. ”Padahal kiai dulu tidak begitu, mereka benar-benar menyatu dengan masyarakat di sekitarnya,” ujar pemuda kelahiran 16 Agustus 1982 ini.

Berangkat dari berbagai keprihatinan itu, ayah Abdullah Hajidz ini memeras otak untuk melakukan sesuatu yang berbeda dan bermanfaat langsung kepada masyarakat. Namun, dia sempat ragu, karena dia bukan keturunan seorang kiai.

Sempat khawatir idenya akan ditolak masyarakat. Tapi dengan niat tulus dan kerja yang serius, dia yakin siapapun yang berniat baik Allah SWT akan memberi jalan. Pada 2008, dia pun memulai menjalankan konsep pesantren rakyat itu. ”Awalnya tak banyak yang menghiraukan, tapi saya tetap berjalan,” kenang Cak Dul.

Yang dia lakukan saat memulai programnya, Cak Dul tidak mau memosisikan dirinya sebagai sosok kiai atau guru. Malahan, dia menekankan bahwa di pesantren itu tidak ada guru tidak ada murid, tetapi semuanya adalah sama-sama belajar dan mengajar. ”Jadi, kita yang belajar, kita yang mengajar, dan kita yang memberi gelar. Artinya adalah belajar bersama-sama,” terangnya.

Karena itu Cak Dul juga tidak mau dihormati seperti kiai sebagaimana umumnya. Jika toh belakangan ada sebutan santri, itu hanya untuk kemudahan penyebutan. Dalam praktiknya tidak seperti antara santri dan kiai. Begitu juga untuk biaya, semua digratiskan, tidak ada santri yang membayar sebagaimana di pesantren. Tapi mereka bersama-sama untuk bekerja dan belajar.

Ditanya soal materi kajian, Cak Dul menyampaikan, materi pengajian yang diajarkan juga sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kadang ada pelajaran wirausaha, mengaji kitab-kitab kuning seperti di pesantren pada umumnya, ada materi kesenian dan budaya serta aplikasi berwirausaha. Semua itu sudah dijadwal. Sehingga sebagian santri Pesantren Rakyat ini juga memiliki keilmuan layaknya di pesantren. Ada pelajaran nahwu, jurumiah, fikih, dan lainnya.

Menurutnya, salah satu usaha yang kini telah berjalan baik adalah ternak jangkrik. Dalam sebulan usaha yang dikelola bersama masyarakat dan dikomandani oleh seorang polisi yang bertugas di Polsek Sumberpucung itu, telah mampu menghasilkan 2 kuintal jangkrik dalam sebulan. ”Sampai ada yang menyebut saya ini kiai jangkrik,” ujar Cak Dul sambil terbahak.

Bukan hanya itu, ada sejumlah usaha produktif lain seperti budidaya ikan, pertanian dan usaha lain yang akan terus dirintis. Karena, dia ingin semua yang pernah belajar di Pesantren Rakyat memiliki jiwa mandiri, bukan peminta-minta.

Salah satu caranya, dia menyarankan agar semua yang belajar di pesantren rakyat untuk memanfaatkan berapapun lahan yang dimiliki di sekitar rumah. Yaitu, dengan menanam berbagai jenis sayuran dan palawija. Dengan begitu, minimal mereka bisa mencukupi kebutuhan untuk sayur mayur dan masyarakat bisa hidup mandiri mulai dari hal-hal yang kecil.

Rupanya usaha keras Cak Dul kini mulai membuahkan hasil. Sekitar 60 santri binaannya yang berasal dari berbagai umur dan profesi ini banyak yang mendapatkan manfaat dari sistem pembelajaran di pesantren rakyat ini. Tanpa mengurangi aktivitas keseharian, mereka bisa menambah ilmu agama, pengetahuan wirausaha dan lainnya.

Bukan hanya itu, Pesantren Rakyat kini juga banyak dikunjungi perguruan tinggi untuk studi banding tentang konsep pendidikan ala Pesantren Rakyat. Cak Dul menyebut ada dari universitas di Palembang, Universitas Bengkulu, seorang profesor dari UNY, UIN, Unmer, dan sejumlah peneliti.

Termasuk ada juga pesantren salaf yang berkunjung untuk melihat konsep yang dikembangkan. Sedangkan dia, sudah ratusan kali diminta menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan. Honor yang dia terima sebagian juga masuk di pesantren.

Karena unit usaha yang dikelola banyak yang berhasil, sejumlah bank juga telah menawarkan bantuan modal usaha. Bank ternama di Kota Malang yang rela mengucurkan batuan. Namun, karena ada persyaratan yang dinilai memberatkan, dia pun menolaknya. ”Saya itu ingin kalau ada yang ingin bantu-bantu saja, tidak usah pakai syarat yang berat. Toh ini semua bukan untuk saya, tetapi untuk masyarakat semua,” jelas pemuda yang juga menjabat sebagai ketua Korp Mubalig Kabupaten Malang ini.

Selain itu, banyak tawaran proyek yang ingin bekerja sama dengan pesantren rakyat. Namun, banyak proyek yang terpaksa dia tolak meski siap mengucurkan dana yang besar. Karena ada persyaratan yang bertentangan.

Apalagi tujuan utama dia mendirikan Pesantren Rakyat bukan untuk mencari proyek. Tetapi murni untuk melakukan perubahan di masyarakat sekitar. Mendekatkan antara kalangan santri dengan abangan, mendekatkan Islam dengan budaya setempat.

Untuk itu, dalam berdakwahpun dia sangat berhati-hati dan mejaga hati masyarakat sekitar. Tidak serta merta melarang dan mengharamkan dengan suara lantang. Tetapi dengan cara yang halus dan pelan-pelan. Dia mengaku ingin sekali mencontoh cara berdakwah para wali.

Disinggung soal pengalaman hidupnya, Cak Dul malu-malu menyampaikan. Dia mengaku pernah menjadi tukang becak bertahun-tahun, menjadi pedagang asongan di SPBU dan kereta api, serta berjualan kopi di pasar Sumberpucung hingga saat ini. ”Dari jualan kopi itu saya banyak berinteraksi dengan masyarakat. Dari situ pula banyak inspirasi saya muncul,” terangnya. Untuk itu, sampai saat ini usaha warung kopi masih ada dan tidak akan dia tinggalkan. (*/ziz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.