Pesantren Rakyat Pesantren Corner Santri Pesantren Rakyat Menembus Batas, Ikuti Studi Lintas Iman IPTh

Santri Pesantren Rakyat Menembus Batas, Ikuti Studi Lintas Iman IPTh

Santri Pesantren Rakyat Menembus Batas, Ikuti Studi Lintas Iman IPTh Balewiyata

Pesantren Rakyat Online – Komunitas Women’s Interfaith Peacebuilding (WIP) lanjutan program Studi Intensif Lintas Iman (SILI) di Institut Pelatihan Theologia (IPTh) Balewiyata, Kota Malang, pada Jumat-Minggu (31-2/10-11/2025). Studi yang berlangsung selama 1 tahun itu, diikuti oleh 26 peserta dari berbagai unsur, diantaranya adalah Pesantren Rakyat Al-Amin.

Pada kesempatan ini, pesantren yang didirikan oleh Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd., mengirimkan dua santrinya untuk belajar pada program tersebut. Mereka adalah Azka Nadziroh dan Griselda Raissa, Lurah dan Sekretaris Pengurus Santri Pesantren Rakyat Al-Amin.

Menurut penuturan Griselda, santri asal Tuban, program SILI yang ia ikuti telah berlangsung selama 3 bulan sejak Agustus 2025 lalu. Masih menurutnya, studi lintas iman ini berlangsung 1 bulan sekali dengan menitikberatkan beberapa isu seputar pendidikan, kepemimpinan, lingkungan, politik dan pemberdayaan perempuan.

Pada bulan Agustus dan September 2025, peserta SILI fokus pembelajaran di dalam ruangan dan mengadakan Festival of Faith yang dihadiri oleh pendeta dari Malang dan Surabaya. Sementara bulan Oktober 2025 ini, studi lintas iman mengadakan kegiatan live in di sejumlah tempat.

“Pada awal pembelajaran, peserta hanya melakukan pembelajaran rutin di dalam ruangan saja. Dan pada hari ini (Jumat-Minggu, red) saya dan seluruh peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengikuti kegiatan live in di berbagai tempat ibadah dan lembaga pendidikan”, kata Raras, sapaan akrabnya.

Baca juga: Dari Jerman ke Pesantren Rakyat, Peserta SILI IPTh Belajar Kehidupan Santri

Untuk diketahui, seluruh peserta program SILI adalah aktivis perempuan. Raras menjelaskan bahwa para perempuan dalam program ini diberikan ruang untuk belajar, berekspresi dan menunjukkan perannya dalam berbagai bidang. Ia merasakan, selama 3 bulan menjalani program tersebut banyak mendapat pembelajaran mulai dari pentingnya berdiskusi hingga menghargai perbedaan.

“Para perempuan disini banyak mendapat pemahaman tentang isu stereotype yang beredar. Kemudian memahami bahwasanya didalam semua agama mengajarkan kedamaian bukan hanya pada sesama tapi juga kepada mereka yang berbeda, baik suku, agama, ras”, ungkapnya.

Dalam lanjutan program SILI ini, Raras bersama Azka mendapat kesempatan belajar, meneliti, mengobservasi dan live in di Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Tulungrejo, Kota Batu. Berdasar penuturannya, banyak hal yang didapat dari interaksi sosial bersama pendeta, jemaat dan masyarakat sekitar.

Tak berhenti disitu, seusai live in ini Raras dan Azka bakal melanjutkan program SILI dengan kegiatan yang berbeda setiap bulannya. “Semoga kami bisa mengambil inspirasi kebaikan dari kegiatan ini apalagi bisa belajar langsung dengan tokoh perempuan internasional dari Jerman, Srilanka dan Filipina”, harap Raras. (grs/cha)

Reporter: Griselda
Editor: Chandra Djoego

2 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.