Pendidikan Anak Usia Dini Pesantren Rakyat Al-Amin

0
47

PAUD Pesantren Rakyat “Al Amin” Merakyat dan Bermartabat

 Muhammad N. Hasan

(Mahasiswa UIN MALIKI Malang)

 

Sejak anak dilahirkan hingga memasuki pendidikan dasar merupakan masa keemasan atau disebut “golden age”. Masa ini merupakan masa dimana anak mulai tumbuh kembang, sehingga tepat untuk meletakkan dasar-dasar pengembangan kemampuan fisik, bahasa, sosial – emosional, konsep diri (mental), seni, moral maupun nilai-nilai agama (spiritual), yang bermuara pada pertumbuhan dan perkembangan anak yang sehat, cerdas dan mandiri. Pada usia dini (0-6 tahun) tersebut, otak  menerima dan menyerap berbagai macam informasi.

Berlatar belakang hal itu lah, mulai tanggal 23 Juli 2003 Presiden Republik Indonesia mencanangkan pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se Indonesia bersamaan dengan puncak hari anak Nasional. Mulai saat tu, setiap kelurahan yang ada di Indonesia didorong untuk memiliki minimal satu PAUD. Upaya ini telah dilakukan sebagai wujud pembinaan yang ditujukan kepada anak setelah lahir sampai dengan usia enam tahun diberikan rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan belajar di sekolah.

Pemerintah juga berkeinginan melalui PAUD dapat tercipta sumber daya manusia yang bermutu. Karena ini merupakan tahapan yang sangat strategis yang dilakukan secara bertahap dan sistimatis. PAUD memegang peranan penting dan penentu bagi sejarah perkembangan anak selanjutnya, Sebab, merupakan fondasi dasar bagi kepribadian anak dan pendidikan pertama yang menentukan masa depan. Oleh karenanya siswa siswi PAUD dapat dikatan sebagai generasi harapan.

Namun dewasa ini masih banyak anak usia dini yang belum mendapatkan layanan pendidikan anak usia dini. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala diantaranya adalah masih kurangnya lembaga penyelenggara PAUD, jumlah tenaga pendidik baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya, serta masalah ekonomi. Karena masuk PAUD sekarang tidak cukup uang 1 juta apalagi PAUD yang dibilang favorit malah lebih dari 5 juta itu sudah termasuk biaya pendaftaran, unag pangkal, uang gedung, buku pelajaran dan seragam. Belum lagi ditambah SPP per bulannya saja mulai 200 ribu sampai 500 ribu. Biaya PAUD yang mahal inilah menjadi faktor utama orang tua tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya pada usia dini.

 

Padahal setiap anak mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan seperti yang tertera di Undang-Undang Dasar, yaitu hak mendapat pendidikan pada pasal 31 ayat (1). Jangan sampai nanti anak-anak menjadi terlantar dan tidak mendapatkan pendidikan hanya karena tidak mampu membayar biaya pendidikan. Anak di usia dini juga berhak mengenal teman-temannya dan bermain bersama, mengembangkan kempuan berbahasa, motorik, kognitif dan sosial. Untuk memujudkan hak-hak tersebut perlu adanya lembaga yang menghimpun agar anak bisa lebih terkontrol.

Jika mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 58 Tahun 2009 Tentang Standar PAUD, stantar pendidikan PAUD dibagi menjadi 4 kelompok yaitu: (1) Standar tingkat pencapaian perkembangan; (2) Standar pendidik dan tenaga kependidikan; (3) Standar isi, proses, dan penilaian; dan (4) Standar sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan. Akan tetapi PAUD Pesantren Rakyat Al Amin Sumberpucung untuk mencerdaskan anak bangsa melalui standart pendidikan PAUD di atas tidaklah harus dengan biaya pendaftaran yang mahal, SPP tinggi, bangunan megah, dan seragam mentereng. Dengan slogannya yang merakyat dan bermartabat.

PAUD ini bercita-cita menjadi lembaga pendidikan yang termurah (merakyat) namun bermartabat (berkualitas). Dengan pendidikannya yang ala rakyat, aktivitas dan kultur belajarnya juga ala rakyat. Bangunannya meskipun sederhana namun sudah cukup memadai. Permainannya pun tidak kurang dari 50 jenis permainan, baik modern atau tradisional. Jumlah gurunya sudah ada 8 orang, dari profesional, sarjana dan satu ahli psikologi. PAUD Pesantren Rakyat menjadi satu-satunya PAUD di kecamatan Sumberpucung yang memiliki ahli Psikologi dan gurunya magister. Murid-muridnya pandai memainkan musik gamelan, tari-tari daerah seperti tari kipas, badinding, ngapoteh, dan lain sebagainya. Tempat belajarnya pun langsung ke lapangan, jika disuruh gambar gunung harus keluar melihat pemandangan gunung, jika belajar ilmu pertanian atau peternakan diajak ke sawah dan kandang ternak, bahkan sampai belajar cara pengoperasian kereta api di stasiun dan ke tempat pendidikan TNI-AD. Inovasi-inovasi inilah yang menjadikan PAUD Pesantren Rakyat Al Amin sering mendapat kunjungan dari berbagai instansi.

Siswa-siswinya sampai sekarang sudah tersebar sampai ke wilayah dusun lain dengan jumlah peserta didik sekitar 45 anak. Meski usianya masih belia, baru meluluskan 2 angkatan. Namun  PAUD Pesantren Rakyat Al-Amin memiliki tujuan yakni mampu menjawab persoalan masyarakat yang sulit memasukkan anaknya ke PAUD karena alasan terkendala dana. Di samping itu PAUD yang didirikan oleh Pesantren Rakyat Al-Amin ini berkeinginan kuat mencetak lulusan yang berkualitas dengan cara melakukan pembinaan serta meningkatkan dan memfasilitasi pengembangan peserta didik maupun tenaga pendidiknya melalui tradisi kerakyatan. Sehingga harapan ke depannya akan menjadi PAUD percontohan tingkat nasional bahkan internasional. []1490632_672696966086979_1723131043_o

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.