Rumusan judul tulisan ini kiranya sangat mudah dipahami, dan memang seharusnya begitu. Kecil kemungkinannya orang yang berada di tempat yang saling berjauhan berhasil sang mempengaruhi. Jauh yang dimaksud bisa saja bermakna fisik atau pun non fisik . Orang yang secara fisik berada di tempat yang saling berjauhan, akan sulit saling memahami, dan apalagi mempengaruhi. Begitu pula jarak yang bersifat non fisik, misalnya adanya perbedaan pemikiran, emosi atau terkait rasa akan menjadikan tidak mudah saling mempengaruhi.
Orang yang merasa jauh oleh karena tidak memiliki hubungan emosional, atau juga tidak memiliki kesamaan pemikiran, kelompok, organisasi, dan lain-lain, maka mereka tidak akan mudah dipengaruhi. Orang dimaksud akan bertahan pada pendapat atau pikirannya sendiri. Siapapun yang dianggap sebagai orang lain, atau orang yang berbeda, akan diperlakukan sebagai orang yang tidak perlu didengarkan pendapatnya, juga didekati, apalagi diikuti saran atau nasehatnya.
Oleh karena itu, cara terbaik mempengaruhi orang lain seharusnya adalah dengan cara mendekat. Untuk mempengaruhi orang NU, maka harus mendekati orang NU dan bahkan harus menjadi bagian dari organisasi itu. Siapa saja yang akan mempengaruhi orang Muhammadiyah, maka harus dekat dengan orang Muhammadiyah. Demikian pula, siapapun yang bermaksud ingin mempengaruhi rakyat agar mereka memilih dirinya menjadi pemimpin, maka harus berusaha mendekat pada rakyat yang diharapkan akan memilihnya itu.
Apa yang dilakukan oleh Ustadz Abdullah Sam, ketika awal mula merintis pesantren rakyat di kampungnya, maka lulusan Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang ini berusaha melakukan pendekatan dengan masyarakat di sekeliling tempat itu. Sekalipun Ustadz Abdullah sendiri sebenarnya adalah kelahiran kampung yang akan dijadikan tempat pesantren rakyat, tetapi dia tetap sadar, bahwa jika tidak dilakukan pendekatan, maka programnya akan gagal.
Masyarakat Desa Sumber Pucung sebenarnya sudah mengenal Ustadz Abdullah dengan baik. Sewaktu belum meninggalkan kampung itu, dia dikenal sebagai anak yang ulet dan mandiri. Sejak di SD, Abdullah Sam sudah berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri dengan berbagai cara halal yang bisa dilakukan. Keunikan anak santri dari keluarga yang tidak terlalu istimewa itu menjadikan dia sejak kecil sudah dikenal oleh masyarakat lingkungannya. Kemandiriannya itu ternyata bertahan hingga ketika ia mengaji ke pondok pesantren, bahkan sampai berhasil menyelesaikan kuliah di Fakultas Psikologi UIN Malang.
Melihat latar belakang Ustadz Abdullah, yaitu sebagai alumni pesantren dan juga sebagai lulusan UIN, maka secara psikologis terasa kontras dengan masyarakat kampungnya sendiri, yang sehari-hari mereka itu menyukai bermain judi, meminum minuman keras, menjadi preman, dan bahkan terbiasa dengan kehidupan prostitusi. Umpama saja kehadiran dan program Ustadz Abdullah Sam ditolak oleh masyarakat kampungnya sendiri adalah sangat mudah dimengerti. Tetapi, oleh karena ia mampu melakukan pendekatan secara tepat, sekalipun program pesantren rakyat terasa asing dan sangat kontras dengan kebiasaan masyarakat, maka berhasil diterima.
Keberhasilan pesantren rakyat tumbuh di tengah-tengah masyarakat, yang menurut akal sehat, tidak akan mendukungnya adalah merupakan hasil pendekatan yang dilakukan oleh Ustadz Abdullah sebagai perintis pesantren rakyat ini. Sehari-hari, dia tidak pernah membuat jarak dengan warga masyarakat, sekalipun sadar bahwa dirinya sebagai seorang sarjana. Statusnya sebagai seorang alumni pesantren dan juga sarjana itu justru dijadikan modal untuk lebih mendekat pada masyarakat. Bahkan, menurut pengakuannya, sekalipun dikenal sebagai ustadz, ia sehari-hari selalu berpakaian dan berpenampilan sama dengan pakaian dan penampilan masyarakatnya.
Selain itu, masih dalam kaitannya untuk mendekati masyarakat, pada saat awal mendirikan pesantren, ia menggunakan pengaruh orang-orang tertentu di kampungnya itu. Menurut Ustadz yang masih kelihatan sangat muda ini, sebagai upaya memperkenalkan keinginannya untuk membangun pesantren rakyat, ia menghubungi semua komunitas masyarakat setempat melalui orang-orang yang dianggap berpengaruh tanpa kecuali, mulai dari pejabat pamong desa, hingga tukang becak dan bahkan pencopet.
Abdullah Sam tidak ingin bekerja sendiri. Para pemimpin kelompok masyarakat yang berada di kampung itu terlebih dahulu didekati. Berkali-kali mereka itu didatangi ataudisobo rumahnya, dihargai, diakui akunya, dan bahkan jika perlu, menurut Ustdaz Abdullah, jika harus disembah, maka ia bersedia melakukannya. Berjuang, menurut pengakuannya, dirasakan memang sulit, tetapi harus dilakukan. Selain itu, menurut keyakinannya, bahwa berjuang harus diikuti dengan berkorban, dan prinsip itu juga dilakukannya.
Melalui berbagai pendekatan, sekalipun harus melewati waktu lama, akhirnya usaha itu berasil. Orang-orang yang disebut memiliki pengaruh di komunitasnya akhirnya berpihak pada Ustadz Abdullah Sam. Selanjutnya, mereka yang lainnya akan mengikuti. Akhirnya, upaya memperkenalkan konsep pesantren rakyat berhasil mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Pendekatan itu semakin terasa hasilnya ketika pesantren rakyat sudah mulai berjalan dan diapresiasi oleh banyak orang, misalnya lewat kunjungan para pejabat dan orang-orang penting. Sekarang ini, pesantren rakyat terbukti telah menjadi kekuatan pengubah masyarakat dan bahkan juga sebagai kebanggaan warga kampung itu.
Proses memperkenalkan konsep pesantren rakyat itu tentu memelukan waktu lama, tahap demi tahap harus dilalui. Bahkan pada fase awal, Ustadz Abdullah Sam juga harus menggunakan strategi bagaikan seorang marketing. Misalnya, beberapa warga desa yang bisa dipercaya, pada setiap saat diminta untuk menyampaikan rasa syukur atas berdirinya pesantren rakyat kepada siapapun yang ditemui. Dengan selalu mendengar ucapan rasa syukur itu dimaksudkan agar orang-orang kampung itu mengenal dan menerima berdirinya pesantren rakyat serta mengikuti kegiatannya. Agar masyarakat tidak tercerabut dari akar budayanya, penggagas pesantren ini tidak pernah mengubah tradisi lama yang dianggap baik. Misalnya, kesenian berupa gamelan jawa masih tetap dipertahankan. Demikian pula, tradisi lain yang dianggap baik dan menjadi milik warga kampung tetap dipelihara.
Maka, kata kunci agar gagasan baru diterima oleh masyarakat, dan kemudian bahkan mendapatkan dukungan, maka harus disampaikan dengan cara yang tepat, pemilik gagasan harus bersedia mendekat, tidak melawan tradisi, adanya kesediaan untuk memahami, mengakui, menghargai, dan mencintai orang lain. Sebaliknya, tidak boleh dilakukan dengan cara menunjukkan benarnya sendiri, menakut-nakuti, menyalahkan orang lain, dan apalagi lewat ancaman atau bahkan kekerasan. Siapapun, ———-tidak terkecuali orang kampung, pasti memiliki harga diri, mereka memerlukan akunya diakui, tidak mau dikritik atau disalahkan. Dengan demikian, kebaikan ternyata harus disampaikan dengan cara yang baik pula, ialah dengan cara mendekat itu. Ustadz Abdullah Sam yang telah menggagas dan sekaligus mengembangkan konsep pesantren rakyat ternyata sudah berhasil membuktikan atas kebenaran prinsip-prinsip dimaksud. Wallahu a’lam.