Pesantren Rakyat Pengasuh KH Abdullah SAM: Membaca Zaman dengan Bahasa Coding

KH Abdullah SAM: Membaca Zaman dengan Bahasa Coding

KH Abdullah SAM - Membaca Zaman dengan Bahasa Coding

Pesantren Rakyat Online – Briefing pagi harian di Pesantren Rakyat Al-Amin cukup mengguncang pemikiran pengurus, Senin (4/5/2026). Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin, Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd. mengajukan pertanyaan sederhana, “kita hari ini hidup di era coding. Apa kita tahu sejatinya apa itu coding?”

Pertanyaan Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin itu tidak berhenti pada dunia programmer. KH Abdullah SAM tidak sedang mengajak semua orang menjadi pembuat aplikasi atau ahli perangkat lunak. Pengasuh sedang mengajak kepala lembaga dan pengurus membaca zaman bahwa hidup hari ini semakin banyak diatur oleh kode, data, koordinat, algoritma, dan keputusan digital yang sering bekerja diam-diam di balik layar.

“Kita harus bisa memahami coding dalam arti luas,” kata KH Abdullah SAM.

Dalam arti luas itulah coding menjadi bukan sekadar urusan menulis Python, JavaScript, atau HTML. Coding adalah cara manusia menyusun instruksi, memecah masalah, membaca pola, membuat keputusan bertahap, dan memahami konsekuensi dari data. Di titik ini, coding dekat dengan kehidupan.

Seorang ibu yang mengatur belanja bulanan dengan prioritas kebutuhan, seorang santri yang menyusun jadwal hafalan dan ngaji, seorang petani yang membaca cuaca dan musim, hingga seorang guru yang merancang pembelajaran, semuanya sedang berhadapan dengan logika sederhana jika begini, maka begitu.

Dunia pendidikan menyebutnya berpikir komputasional. Dalam Capaian Pembelajaran Informatika Kemendikdasmen, sejak fase sekolah dasar, peserta didik diarahkan memakai berpikir komputasional untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari yakni membandingkan, memilah, menyusun, mengelompokkan, dan mengurutkan data. Artinya, inti pendidikan digital bukan hanya “bisa memakai gawai”, tetapi mampu berpikir runtut, kritis, dan etis.

Bagi yang belum mengerti apa itu berpikir komputasional, secara sederhana penulis dapat menggambarkan sebagai metode pemecahan masalah kompleks secara logis, sistematis, dan terstruktur, mirip cara kerja komputer. Teknik ini melibatkan dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma untuk menghasilkan solusi efisien yang dapat diterapkan manusia atau mesin, baik dalam teknologi maupun kehidupan sehari-hari.Sebelum memba

Jeannette M. Wing, ilmuwan komputer yang mempopulerkan istilah computational thinking, pernah menulis bahwa berpikir komputasional adalah keterampilan dasar untuk semua orang, bukan hanya ilmuwan komputer. Pandangan itu penting karena masyarakat sering keliru memahami coding sebagai keterampilan eksklusif anak teknik. Padahal, di era digital, yang lebih mendesak adalah kemampuan memahami bagaimana sistem bekerja, bagaimana data dikumpulkan, dan bagaimana keputusan otomatis bisa memengaruhi hidup manusia.

Baca juga: Upacara Senin, Kepala TU Pesantren Rakyat Al-Amin Beri Pesan untuk Santri Kelas Akhir

KH Abdullah SAM memberi contoh GPS (global positioning system). Dulu, alamat sering dijelaskan dengan patokan seperti dekat masjid, setelah pertigaan, sebelah pohon besar. Kini, lokasi seseorang dapat dibaca melalui titik koordinat, garis lintang, dan garis bujur.

“Dengan adanya titik koordinat tersebut, pemimpin tertinggi Iran bisa dibunuh secara tepat oleh Amerika. Itu semua karena titik dimana seseorang berada bisa dilacak secara akurat”, jelas pengasuh yang juga Ketua PC ISNU Kabupaten Malang itu.

GPS.gov menjelaskan bahwa penentuan posisi bekerja melalui trilaterasi, yakni menghitung jarak dari beberapa satelit untuk menentukan posisi penerima di bumi. Di balik kemudahan mencari rute, memesan ojek daring, atau mengirim paket, ada matematika, sinyal, data, dan kode yang bergerak sangat presisi.

Tetapi kemajuan itu juga menuntut kesadaran. “Ada yang tahu, siapa di sini yang paling punya data lengkap kita?” tanya KH Abdullah SAM.

Kiai yang penuh gagasan inspiratif itu menyebut Google sebagai salah satu pihak yang menyimpan banyak jejak digital pengguna. Pernyataan itu menemukan relevansinya dalam Kebijakan Privasi Google, yang menjelaskan bahwa layanan Google dapat mengumpulkan informasi aktivitas, perangkat, pencarian, video yang ditonton, hingga lokasi, bergantung pada penggunaan layanan dan pengaturan privasi pengguna.

Di sini, coding menjadi soal kedaulatan diri. Orang yang tidak memahami dunia digital mudah menjadi sekadar pengguna. Mereka klik “setuju” tanpa membaca, membagikan data tanpa sadar, membiarkan anak masuk ke ruang digital tanpa pendampingan, lalu terkejut ketika kebiasaan, selera, lokasi, bahkan perhatian keluarga ikut dibentuk oleh algoritma.

Pertanyaan KH Abdullah SAM tentang anak-anak menjadi sangat relevan. Mereka lahir ketika layar atau gadget sudah menjadi bagian dari rumah. Sejak kecil, mereka mengenal video pendek, game, pencarian suara dan rekomendasi otomatis. UNICEF dalam laporan Children in a Digital World menegaskan bahwa teknologi digital dapat menjadi peluang besar bagi anak, tetapi juga dapat menciptakan jurang baru dan risiko jika tidak diimbangi perlindungan serta pendampingan.

Maka tugas orang tua bukan sekadar melarang gawai, melainkan mengarahkan. Anak tidak cukup diajari menonton, tetapi juga mencipta. Mitch Resnick dari MIT, pengembang Scratch, pernah menekankan gagasan “coding to learn”. Gagasan ini mengarahkan bahwa anak belajar coding agar dapat belajar banyak hal lain. Dengan coding, anak belajar sabar, mencoba, gagal, memperbaiki, bekerja sama, dan memahami bahwa sebuah hasil lahir dari proses.

Baca juga: Madin Pesantren Rakyat Gelar Pelatihan Pemulasaraan Jenazah untuk Santri

Dalam suasana yang sedikit serius, KH Abdullah SAM menekankan kepada Kepala SDII Pesantren Rakyat Al-Amin, Rizki Anis Sholikhah kolaborasi dengan PAUD Pesantren Rakyat Al-Amin untuk memberikan materi pelajaran coding for kids kepada anak sejak dini.

“Segera adakan workshop dan penerapan coding for kids ini”, tegasnya.

Di sisi lain, dalam dunia kerja, pesan ini semakin nyata. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menempatkan analytical thinking sebagai keterampilan inti paling dicari pemberi kerja, disusul ketahanan, kelenturan, kepemimpinan, dan creative thinking. Menariknya, ini menunjukkan bahwa masa depan tidak hanya membutuhkan orang yang bisa menulis kode, tetapi manusia yang mampu berpikir jernih, beradaptasi dan memakai teknologi secara bertanggung jawab.

Karena itu, memahami coding dalam arti luas adalah memahami adab baru kehidupan digital. Ada logika, tetapi juga etika. Ada kecepatan, tetapi juga kebijaksanaan. Ada data, tetapi juga martabat manusia. Pesantren, sekolah, keluarga, dan komunitas memiliki peran penting agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan subjek yang sadar.

Pada akhirnya, pertanyaan KH Abdullah SAM bukan pertanyaan teknis, melainkan pertanyaan peradaban. Apakah kita hanya akan hidup di dalam sistem yang dibuat orang lain, atau mulai belajar membaca sistem itu? Apakah anak-anak kita hanya akan digerakkan algoritma, atau mampu mengendalikannya dengan akal sehat dan nilai?

Era coding sudah tiba. Yang dibutuhkan bukan kepanikan, melainkan literasi. Bukan sekadar kemampuan mengetik perintah komputer, melainkan keberanian menata ulang cara berpikir yaitu runtut, kritis, kreatif, dan manusiawi. (*)

Penulis: Chandra Djoego

0 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.