Pesantren Rakyat Pengasuh Fakta Mengejutkan! Pendidikan RI Tertinggal 128 Tahun, Ini Kata KH Abdullah SAM

Fakta Mengejutkan! Pendidikan RI Tertinggal 128 Tahun, Ini Kata KH Abdullah SAM

Fakta Mengejutkan! Pendidikan RI Tertinggal 128 Tahun, Ini Kata KH Abdullah SAM - 1

Pesantren Rakyat Online – Ada sebuah fakta menggelitik soal dunia pendidikan Indonesia. Menurut ekonom pendidikan Harvard, Lant Pritchett, menyebutkan bahwa pendidikan Indonesia tertinggal hingga 128 tahun dibanding negara-negara maju.

‎KH Abdullah SAM mengatakan data tersebut bukan bukan untuk merendahkan, melainkan sebagai pemantik dan menyentil kesadaran. “Secepat apa pun kita berjalan, kita harus berani mengakui bahwa kita masih tertinggal, tapi bukan berarti kita harus menjadi inferior”, katanya.

‎Dalam penjelasan lebih jauh, Pendiri Pesantren Rakyat itu menegaskan bahwa masalah pendidikan Indonesia bukan sekadar soal akses, tetapi menyangkut kualitas dan arah sistem itu sendiri. Mengacu pada analisis Pritchett, ada sejumlah faktor yang membuat pendidikan kita tertinggal, diantaranya kualitas pembelajaran yang belum optimal, kompetensi tenaga pengajar yang belum merata, kurikulum yang sering berubah, serta kesenjangan infrastruktur antar wilayah.

Lebih pelik lagi, pendidik, guru masih seringkali terjebak dan berjibaku pada  persoalan administrasi dan kepatuhan kurikulum, bukan pada pengembangan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Pandangan ini sejalan dengan berbagai studi internasional yang menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang terlalu birokratis cenderung menghasilkan lulusan yang kurang adaptif terhadap perubahan (World Bank, 2018).

Baca juga: KH Abdullah SAM: Kunci Sukses Ada pada Mindset dan Lingkungan

Budaya Membaca dan Tradisi Intelektual

‎Salah satu indikator paling nyata dari ketertinggalan tersebut, menurut KH. Abdullah SAM, adalah rendahnya budaya membaca. Dengan nada reflektif, beliau membandingkan kondisi Indonesia dengan negara seperti Jepang, Singapura, dan Jerman, di mana membaca telah menjadi bagian dari gaya hidup.

‎“Di negara maju, orang pergi ke mana-mana membawa buku. Membaca itu rekreasi”, katanya.

‎Sebaliknya, di Indonesia, kebiasaan membaca masih sangat rendah. Data yang sering dikutip dari UNESCO menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya sekitar 0,001%, artinya, dari 1.000 orang, hanya satu yang benar-benar rajin membaca.

Selain itu, hasil PISA (Programme for International Student Assessment) 2022 mencatat skor literasi Indonesia berada di angka 359 poin, jauh di bawah rata-rata negara OECD dan tertinggal dari negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia (OECD, 2023).

Lebih dari itu, KH. Abdullah SAM mengajak para pegiat pendidikan melihat sejarah panjang peradaban dunia. Beliau menyinggung bagaimana bangsa-bangsa maju telah membangun tradisi intelektual sejak berabad-abad lalu.

‎Kiai dengan julukan Kiai Sableng itu mencontohkan Belanda yang sejak empat abad lalu telah memiliki pengetahuan detail tentang geografi dan potensi alam Indonesia, mulai dari aliran air hingga tata ruang kota seperti kawasan Ijen di Malang yang dirancang dengan visi jangka panjang.

Lebih jauh, Abdullah mengingatkan bahwa Eropa, khususnya Jerman, menjadi pusat perkembangan filsafat sejak era Renaissance hingga Aufklärung (abad 15–18), yang melahirkan tradisi berpikir kritis dan ilmiah.

Baca juga: Pendampingan Jelang Akreditasi, SMPII Pesantren Rakyat Bentuk Tim Khusus

‎Dari tradisi inilah lahir berbagai penemuan yang mengubah dunia seperti mesin cetak oleh Johannes Gutenberg (1440), listrik oleh Michael Faraday dan Benjamin Franklin, telepon oleh Alexander Graham Bell (1876), hingga internet yang dikembangkan oleh tim ARPA pada abad ke-20. ‎Sebuah peradaban itu dibangun dari membaca, menulis, dan berpikir dan bukan dari cerita-cerita mitos semata.

‎Dalam refleksi yang lebih tajam, KH. Abdullah SAM mengkritik posisi Indonesia yang masih lebih banyak menjadi konsumen daripada produsen teknologi.

‎“Kita ini pengimpor mobil terbaik, tapi bukan produsen. Kita hanya merakit, belum benar-benar menciptakan”, kritiknya.

‎Pernyataan ini mencerminkan fenomena yang sering disebut dalam literatur ekonomi sebagai middle-income trap, di mana suatu negara terjebak sebagai pengguna teknologi tanpa mampu menjadi inovator (Gill & Kharas, 2007). Namun, Presiden Prabowo tetap meyakini dalam pidatonya tentang program industrialisasi nasional yang dicanangkan pemerintah dalam 3 tahun ke depan sejak tulisan ini dibuat.

Pesantren dan Lompatan Kesadaran

‎Di tengah realitas tersebut, KH. Abdullah SAM melihat pesantren sebagai ruang strategis untuk melakukan lompatan. Pengasuh yang pernah tabarukan di Pesantren Lasem Rembang itu menyebut bahwa Pesantren Rakyat telah berusaha melompat 10 tahun ke depan dalam berbagai aspek.

‎Namun, Abdullah tetap mengingatkan agar tidak cepat puas. “Bagi orang lain mungkin ini sudah maju. Tapi bagi kita, ini masih bagian dari perjalanan panjang, jangan cepat puas”, tegasnya.

‎Kesadaran akan ketertinggalan, menurutnya, justru menjadi energi untuk terus bergerak. Dan motivasi untuk terus upgrading harus selalu tertanam dalam setiap guru.

Baca juga: Kepala SDII Pesantren Rakyat Ikuti Penguatan Bahasa dan Literasi di Museum Panji

Pada akhirnya, KH Abdullah SAM kembali pada satu solusi sederhana namun fundamental yaitu membaca. Beliau bahkan memberi contoh pribadi bahwa di tengah kesibukannya, Ketua PC ISNU Kabupaten Malang itu masih mampu membaca hingga lima buku dengan bantuan teknologi digital.

‎Dari aktivitas membaca itulah, menurutnya, lahir inspirasi yang tidak pernah berhenti. “Mulailah suka membaca karena buku adalah jendela dunia”, pesannya.

Kesadaran adalah Awal Kebangkitan

‎Dari refleksi pendidikan ini, satu pesan utama dapat diambil soal kesadaran akan ketertinggalan bukanlah tanda kelemahan, melainkan awal dari kebangkitan

‎Pendidikan tidak bisa berubah hanya dengan kebijakan, tetapi harus dimulai dari perubahan budaya, dari cara berpikir, cara belajar, dan cara memandang ilmu pengetahuan.

‎Dan di tengah dunia yang terus bergerak cepat, mungkin benar apa yang disampaikan KH Abdullah SAM bahwa lompatan besar tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari kebiasaan kecil, seperti membuka satu halaman buku, lalu membacanya dengan sungguh-sungguh. (*)

‎Penulis: Chandra Djoego

0 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.