
Pesantren Rakyat Online – Pagi ini masih dalam kegiatan briefing di lingkungan Pesantren Rakyat Al-Amin, pengurus belajar tentang pentingnya cerita sebuah perjuangan. Mereka yang hadir duduk rapi melingkar, sebagian membawa catatan, sebagian lain menyimak dengan penuh perhatian materi yang disampaikan oleh Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin, KH. Abdullah SAM.
Pengasuh dengan julukan Kiai Sableng itu mengangkat satu gagasan bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan energi untuk membangun masa depan. Kalimat pembukanya tidak ringan. Kiai langsung membawa pengurus pada bentangan sejarah panjang yang melintasi benua dan abad tentang Perang Salib.
“Perang Salib yang dimulai sejak lama itu sejatinya belum selesai”, ujarnya perlahan.
Pernyataan itu bukan dimaksudkan untuk membangkitkan konflik, melainkan untuk mengajak berpikir bahwa dinamika peradaban, pertarungan ideologi, dan pengaruh budaya masih terus berlangsung hingga hari ini, termasuk sampai ke Indonesia.
Sejarah sebagai Energi Peradaban
Dalam penjelasannya, KH. Abdullah SAM mengurai satu pelajaran penting dari sejarah panjang hubungan Islam dan Kristen di masa Perang Salib. Beliau menyoroti bagaimana kekuatan spiritual menjadi faktor penentu dalam peperangan.
Menurutnya, salah satu kekuatan pasukan Kristen saat itu adalah narasi keagamaan yang ditanamkan sebelum perang. “Mereka dibaptis, dikuatkan secara spiritual, dijanjikan surga. Mereka yakin bahwa perang itu adalah bagian dari perintah Tuhan”, jelasnya.
Kondisi ini, lanjut beliau, menjadi perhatian serius bagi tokoh besar Islam dalam perang saat itu, Shalahuddin al-Ayyubi. Melalui strategi telik sandi, Shalahuddin berusaha memahami mengapa pasukan muslim kerap mengalami kekalahan.
Baca juga: KH Abdullah SAM: Sukses Besar Berawal dari Hal Kecil dan Konsisten
Hasilnya, alumnus sarjana Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang menemukan bahwa persoalan bukan semata pada strategi militer, tetapi pada ketahanan mental dan spiritual pasukan. Dari sanalah kemudian muncul upaya membangkitkan kembali semangat umat Islam melalui pendekatan naratif dan spiritual.
KH. Abdullah SAM kemudian menyebut nama Abdurrahman ad-Diba’i, seorang ulama yang dikenal melalui karya Maulid Ad-Diba’i, yang berisi kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad. Melalui kisah-kisah tersebut, semangat perjuangan, keteladanan, dan kecintaan kepada Nabi ditanamkan kembali kepada umat.
“Ketika umat Islam kembali memahami sejarah perjuangan Nabi, memahami penderitaan dan kemuliaannya, di situlah semangat bangkit dan akhirnya kemenangan pun datang” katanya.
Kekuatan Cerita dalam Dunia Pendidikan
Dari kisah sejarah itu, pengasuh menarik benang merah yang sangat relevan bagi dunia pendidikan, khususnya di Pesantren Rakyat Al-Amin.
“Kalau kita ingin menang, maka guru-guru harus menceritakan tentang perjuangan, baik perjuangan nabi maupun perjuangan tentang pendiri pesantren ini”, katanya tegas.
Pesan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi mengandung makna mendalam. KH. Abdullah SAM menekankan bahwa pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga transfer nilai dan semangat.
Menurut kiai yang juga Ketua PC ISNU Kabupaten Malang ini, generasi muda tidak cukup hanya diberi materi pelajaran. Mereka juga perlu diberi narasi inspiratif yang membentuk karakter, membangun daya juang, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap lembaga.
“Kalau murid mau ‘sambat’ (mengeluh), mereka harus tahu sejarahnya dulu, harus tahu bagaimana perjuangan itu dimulai, bagaimana kesengsaraan yang dilalui apa saja kemuliaannya”, tuturnya.
Dengan memahami sejarah, seorang santri tidak akan mudah menyerah. Ia bakal melihat dirinya sebagai bagian dari perjalanan panjang, bukan sekadar individu yang berdiri sendiri.
Tradisi Bercerita yang Mulai Hilang
KH. Abdullah SAM kemudian mengajak kepala lembaga dan pengurus yang hadir pada briefing itu untuk menghidupkan kembali tradisi yang kini mulai ditinggalkan, yaitu bercerita.
Beliau mengingatkan bahwa dahulu, budaya bercerita menjadi bagian penting dalam pendidikan. “Kita dulu tahu tentang suku Aria, Majapahit, bahkan Tembok Cina, itu dari cerita”, katanya.
Baca juga: Perkuat Kemandirian Ekonomi, Kadin Kop-UM Bina Koperasi Pesantren Rakyat
Tradisi mendongeng sebelum tidur, menurutnya, bukan sekadar hiburan, tetapi sarana pembentukan imajinasi, karakter, dan nilai-nilai moral. Anak-anak tumbuh dengan gambaran tentang keberanian, kejujuran, dan pengorbanan. Nilai-nilai yang sulit diajarkan hanya melalui teori.
Karena itu, KH Abdullah SAM menitipkan pesan khusus kepada para guru, sisipkan cerita dalam setiap proses pembelajaran, lebih jauh lagi tentang Pesantren Rakyat.
Kepemimpinan sebagai Penentu Arah
Selain menekankan pentingnya narasi, KH. Abdullah SAM juga menggarisbawahi peran kepemimpinan dalam lembaga pendidikan.
“Kepala lembaga harus menunjukkan leadership yang baik”, tegasnya.
Baginya, kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, tetapi tentang kemampuan mengarahkan, menginspirasi, dan membangun suasana. Seorang pemimpin harus mampu membangun komunikasi dan jejaring. Dalam dunia yang semakin terhubung, lembaga pendidikan tidak bisa berjalan sendiri.
“Harus terus membangun relasi di luar karena dari situlah peluang dan kolaborasi akan datang”, himbaunya.
Visi, Keseriusan, dan Kreativitas
Dalam bagian akhir, Pengasuh Pesantren Rakyat mengajak seluruh elemen lembaga untuk berpikir lebih strategis. “Hidup itu harus punya visi dan visi itu harus dikerjakan dengan serius”, katanya.
Visi, menurutnya, bukan sekadar slogan atau tulisan di dinding, tetapi arah yang harus diwujudkan melalui kerja nyata. Tanpa keseriusan, visi hanya akan menjadi angan-angan.
Baca juga: Briefing Harian Lembaga, KH Abdullah SAM Angkat Filosofi Pohon Jati-Sengon
Kiai menyoroti pentingnya kreativitas dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Kepala lembaga, katanya, tidak boleh terlalu santai. Harus aktif mengawal perkembangan, mendorong inovasi, dan memastikan setiap program berjalan dengan baik.
“Kalau tidak kreatif, kita akan tertinggal”, pungkasnya.
Membangun Masa Depan dari Narasi
Pengarahan KH. Abdullah SAM pagi ini bukan hanya soal cerita sejarah atau motivasi biasa. Ini merupakan ajakan untuk melihat pendidikan secara lebih utuh, sebagai proses membangun manusia, bukan hanya mengisi kepala dengan pengetahuan.
Sejarah, dalam pandangannya, adalah sumber energi. Cerita adalah alat transformasi. Dan kepemimpinan adalah kunci penggerak perubahan.
Di tengah dunia yang serba cepat dan sering kali kehilangan arah, pesan itu terasa relevan bahwa untuk membangun masa depan, kita tidak boleh melupakan cerita-cerita besar yang pernah membentuk peradaban.
Karena pada akhirnya, seperti yang penulis dapat mengambil pelajaran bahwa manusia tidak hanya hidup dari apa yang ia pelajari, tetapi juga dari apa yang ia yakini dan ceritakan kembali.
Dan di Pesantren Rakyat Al-Amin, cerita-cerita itu didorong untu terus dihidupkan menjadi pemantik semangat, menguatkan langkah, dan menuntun generasi menuju masa depan yang lebih bermakna. (*)
Penulis: Chandra Djoego