
Pesantren Rakyat Online – Sebanyak 40 pendeta dan aktivis perempuan dari berbagai wilayah Indonesia-Asia mengunjungi Pesantren Rakyat Al-Amin untuk belajar tentang kepemipinan Perempuan dari perspektif pesantren, Kamis (30/10/2025). Mereka hadir sebagai bagian dari Joint Program United Evangelical Mission (UEM) Asia dan PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia) yang digawangi oleh Institut Pendidikan Theologia Balewiyata Majelis Agung Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW).
Kegiatan study excursion dengan tema Women’s Leadership and Political Education ini menjadi bukti bahwa dialog lintas iman bukan hanya retorika belaka. Melainkan sebuah wujud nyata pendidikan kebangsaan yang inklusif, bermartabat, dan membumi. Di tengah tantangan moderasi beragama dan gejolak global, pertemuan lintas iman ini menghadirkan narasi bahwa perdamaian bisa tumbuh dari mana saja, termasuk dari pesantren.
Di hadapan para pemuka agama, akademisi, dan pengurus UEM-PGI, Penggagas Pesantren Rakyat Al-Amin sekaligus Ketua PC ISNU Kabupaten Malang, Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd., menyampaikan gagasan yang tegas, luas, sekaligus humanis. “Islam tidak dikatakan Islam jika tidak percaya dengan kitab-kitab Allah lainnya, termasuk injil”, katanya.
“Di Al-Qur’an disebutkan kewajiban bagi umat Islam untuk mempercayai kitab-kitab Allah seperti injil, taurat dan zabur”, imbuhnya singkat.
Pernyataan itu sekaligus menepis prasangka yang kerap menjerat relasi antarumat beragama. Bahwa iman bukan benteng untuk mencurigai, melainkan jembatan untuk memahami dan saling menguatkan.
Baca juga: 40 Pendeta Asia Belajar Kepemimpinan Perempuan di Pesantren Rakyat Al-Amin
“Pertemuan ini semoga bisa menginspirasi dan menekan ketegangan di seluruh dunia. Jangan karena agama malah perang itu meletus”, lanjut Kiai Abdullah.
Kepada para peserta diskusi, Ketua PC ISNU Kabupaten Malang itu bahwa menegaskan posisi agama adalah sebagai sumber kedamaian, bukan pemantik konflik. Sehingga ketika muncul sebuah konflik, dirinya ragu jika itu timbul karena agama.
Gagasan besar Pesantren Rakyat Al-Amin lahir bukan dari ruang kosong. Ia tumbuh dari kegelisahan atas realitas sosial. Saat ini semakin banyak lembaga agama atau lembaga pendidikan yang semakin besar, tetapi kemiskinan terus merajalela.
“Banyak pesantren, gereja, tetapi kemiskinan masih ada. Itu berarti ada yang salah. Agama jangan hanya dimaknai spiritual, tetapi juga kesalehan sosial”, tegasnya.

Pesantren Rakyat hadir sebagai jawaban atas amanat konstitusi yakni di pembukaan UUD 1945, mencerdaskan kehidupan bangsa. Di sini pendidikan digratiskan, fasilitas dibuka untuk publik, dan ilmu pengetahuan tidak dibatasi oleh tembok. Pesantren Rakyat adalah pesantren tanpa pagar, bermakna lebih sebagai simbol keterbukaan, penerimaan, dan keberanian untuk hadir bersama masyarakat.
“Pesantren Rakyat hadir di 137 titik di Indonesia. Kita belajar dari saudara kita yang peduli pada kaum lemah. Kita tiru yang baik”, ungkapnya.
Menyinggung soal peran Perempuan, Pesantren Rakyat menempatkannya pada posisi terhormat, sebagaimana sabda Nabi. “Ketika Rasul ditanya siapa yang dihormati dulu, beliau menjawab, ibu, ibu, ibu, baru bapak. Itu menunjukkan perempuan berada pada tempat tertinggi”, jelas KH. Abdullah SAM.
Ia menolak pemahaman sempit tentang relasi gender. Baginya, laki-laki bukan penguasa perempuan, melainkan pendamping, motivator, dan pelindung. Perspektif ini tak lepas dari pengaruh Prof. Mufidah Ch, aktivis gender yang ikut menginspirasi pemikiran progresif kiai dalam mengembangkan pendidikan di Pesantren Rakyat.
“Perempuan itu bukan konco wingking”, tegas Kiai Abdullah.
Baca juga: Apel HSN 2025: Nyai Heni Ajak Santri Pesantren Rakyat Warnai Dunia
Dalam pandangannya, pendidikan harus membangun nalar kritis, bukan hanya penguasaan kitab. Maka Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin mewajibkan para pengajar di pesantren untuk terus belajar hingga jenjang doktoral. “Kalau tidak sekolah, tidak bisa berpikir terbuka. Dogma sempit dan salah tafsir akan semakin menyebar”, ujar Wakil Direktur Pesantren Center ini.
Santri Pesantren Rakyat tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga filsafat, pemikiran modern, hingga kecakapan era digital, AI (artificial intelligence) dan media sosial. “Kami mengajarkan berbagai pemikiran agar mereka tidak fanatik. Anak-anak diajak berpikir terbuka”, katanya.
Bahkan Pesantren Rakyat, menurut penjelasannya menjadi salah satu pesantren yang popular dimuat dan dirujuk di Google Scholar. Hal tersebut adalah sebuah pencapaian yang jarang terjadi di dunia pendidikan pesantren.
Baginya, pendidikan tanpa memiliki jiwa kepemimpinan hanyalah wacana. “Ilmu tanpa kepemimpinan tidak akan bermanfaat bagi orang lain,” jelasnya.
Di penghujung dialog, Kiai Abdullah menegaskan kepada para pendeta dan peserta yang hadir, satu hal penting yakni tentang konflik yang sering digiring sebagai isu agama sejatinya hanyalah pertarungan kepentingan ekonomi dan politik. “Sejatinya kita ini satu. Konflik bukan soal agama, tetapi agraria, politik, dan sebagainya”, ucapnya.
Indonesia, baginya, adalah hadiah Tuhan yang mesti dijaga bersama. Dan Pesantren Rakyat adalah ikhtiar kecil tetapi berarti, menghadirkan pendekatan agama yang merangkul, memerdekakan, dan memberdayakan.
“Untuk itu kami tidak punya pagar. Semua lingkungan sudah mendukung. Kita ini sebangsa dan sama”, ungkapnya.
Pada akhirnya, forum ini mengingatkan bahwa agama harus menjadi energi pemersatu, bukan sumber perpecahan. Bahwa ilmu tanpa kemanusiaan tidak berarti, dan iman tanpa aksi sosial hanyalah simbol tanpa makna.
Dan dari Pesantren Rakyat, harapan itu terus tumbuh dengan tenang, bersahaja tapi mampu menggerakkan dunia. (cha)
Penulis: Chandra Djoego