Pesantren Rakyat Jagong Maton Pesantren Rakyat dan Multikulturalisme

Pesantren Rakyat dan Multikulturalisme

Pesantren Rakyat dan Multikulturalisme

Pesantren Rakyat Online – Letak geografis pulau-pulau Indonesia yang berada diantara persimpangan benua-benua dan lalu lintas perairan kuno membentuk orang Indonesia memiliki karakter yang macam-macam, baik ras, etnis, kepercayaan, Bahasa, seni, budaya ataupun agama. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan multikultural. Sehingga sangat cocok kita memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika yang memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu.

Indigenous languages atau bahasa daerah yang ada di Indonesia jumlahnya kurang lebih 715, belum mencakup dialek, menjadi negara pemilik bahasa terbanyak kedua di dunia setelah papua 840 bahasa. Ras yang hidup di Indonesia diantaranya adalah ras Australoid, ras Mongoloid Barat, ras Weddoid, ras Negroid, ras Melayu, ras Deutro Melayu, ras mongoloid, hingga ras Melanesoid.

Agama yang diakui ada tujuh yaitu Islam, Kristen, Katolik, Konghucu, Hindu dan Budha. Belum lagi aliran kepercayaan yang tumbuh berkembang di Indonesia ada 187 kelompok, hingga ada kolom khusus di Kartu Tanda Penduduk (KTP) yaitu kolom agama diisi penghayat atau kepercayaan. Belum lagi 17.000 pulau yang ada juga memiliki pengaruh tersendiri dalam kehidupan sehari-harinya, belum lagi pengaruh 112 kerajaan dan kesultanan yang pernah jaya di Nusantara dan keunikan-keunikan lainnya.

Untuk itu, Pesantren Rakyat lahir tepat satu abad dari pada kebangkitan Nasional 1908. Pesantren Rakyat lahir pada tahun 2008. Memiliki kesadaran penuh untuk mengembangkan jiwa santri, jamaah dan masyarakat agar sadar akan pentingnya memahami adanya kesadaran multikultural. Pengembangan pendidikan multikultural tidak cukup dengan wacana, ceramah, literasi atau di awang-awang saja, namun perlu dipraktikkan dan dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: MoU Pesantren Rakyat–UM: Kuatkan Pendidikan, Riset, dan Pengabdian Masyarakat

Pesantren Rakyat yang memiliki pengertian pesantren dengan aktifitas dan kurikulumnya ala rakyat ini memiliki jargon yaitu kita yang mengajar, kita yang belajar dan kita yang memberi gelar. Selain itu ada kalimat lain, Pesantren Rakyat adalah kuliah tanpa bangku, semua orang adalah guru, semua tempat adalah kelas, setiap kejadian mengandung pelajaran, bearalaskan bumi dan langit adalah atapnya. Jadi Pesantren Rakyat tidak fokus berbicara gedung, tetapi bagaimana santri mampu bersinergi, berkolaborasi dengan lingkungan dan alam sekitar sebagai sumber inspirasi dan ilmu.

Untuk membekali dan menginspirasi santri tidak jarang Pesantren Rakyat mengadakan kegiatan bersama tokoh agama lain. Bahkan, peletakan batu pertama Masjid Pesantren Rakyat saja dihadiri semua tokoh lintas agama Malang Raya, mulai dari ilama, pendeta, biksu, dan tokoh-tokoh agama lainnya.

Lebih lagi, untuk menghidupi santri tidak sedikit bantuan dari sahabat-sahabat Konghucu Klenteng En Ang Kiong Kota Malang dan agama lainnya. Selalu didengungkan, untuk urusan pendidikan, sosial, kesehatan, kemanusian dan perdamaian adalah urusan semua orang, semua golongan dan semua agama.

Guna mempertajam jiwa multikulturalisme pada santri, Pesantren Rakyat menambah beberapa fasilitas pendukung yang kuat agar santri ketika terjun di kehidupan yang sesungguhnya tidak mudah kaget. Santri disediakan beberapa alat musik tradisional yang lumayan lengkap, alat musik religi, alat musik modern, keterampilan beternak, berkebun, perikanan, konstruksi bangunan, warung, LSM, CV, PT, Teknik mesin, listrik, pelatihan coding, pembuatan website, koran, TikTok dan Youtube. Semuanya turut didukung dengan sedikitnya 17 komputer terkoneksi internet serta sinergi dengan segala potensi yang ada di masyarakat yang sesungguhnya sangat banyak dan itu adalah laboratorium  gratis dan atau murah.

Santri Pesantren Rakyat datang dari 25 kabupaten atau kota yang ada di Indonesia sehingga dari perbedaan asal santri, berbedaan bahasa, seni, budaya dan kebiasaan menjadikan semakin mudahnya pihak pesantren menginternalisasikan nilai-nilai multicultural. Sesungguhnya hal itu adalah sebuah keniscayaan yang tidak terbantahkan.

Nilai-nilai atau pesan multikulturalisme perlu sejak dini diimplementasikan dan diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan masifnya berbagai informasi kian cepat dan sulitnya mencari kebenaran yang sesungguhnya, maka generasi penerus harus memiliki kesadaran bahwa perbedaan adalah rahmat, perbedaan adalah kekuatan, perbedaan adalah indah. Dari hal tersebut, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan tetap lestari, terjaga persatuan dan kesatuanyna hingga Indonesia menemui kejayaannya.

Baca juga: Semarak Hari Pahlawan SDII Pesantren Rakyat: Belajar Nilai Perjuangan Sejak Dini

Terlebih lagi, santri harus menjadi ujung tombak utama untuk melestarikan penggerak multikulturalisme. Sejak zaman wali, para ulama dan kiai-kiai terdahulu yang ikut mendirikan negara ini sudah sangat sadar dan bahkan sampai harus merelakan menghapus beberapa kata yang telah ditulis dalam piagam Jakarta.

Pada sila pertama piagam Jakarta, yang berbunyi ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya, menjadi Ketuhanan yang Maha Esa. Muslim berkorban demi kokohnya NKRI yang hingga hari ini semakin menuju kejayaan. untuk menghapus 7 kata di atas perdebatan sengit terjadi antar umat Islam sendiri. Namun itulah pengorbanan umat Islam demi kebesaran, kejayaan, dan keutuhan NKRI.

Indonesia penduduk terbesarnya adalah Islam. Islam terbesar di Indonesia adalah Nahdlatul Ulama (NU). NU adalah pesantren besar. Pesantren adalah NU kecil. Di dalam pesantren adalah santri. Jadi jika Indonesia ingin tetap jaya, utuh, terjaga persatuan dan kesatuannya, maka santrilah yang harus dikuatkan dan disadarkan atas pentingnya pemahaman multikulturalisme. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika akan tetap kokoh jika jiwa-jiwa multikulturalime tumbuh bersemi dengan subur di seluruh pelosok negeri.

Sumberpucung, 7 Desember 2023
Penulis: Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd.
Editor: Chandra Djoego

21 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.