
Pesantren Rakyat Online – Rapat harian Pesantren Rakyat Al-Amin pada pagi ini, Selasa (5/5/2026) dimulai lagi dengan pembicaraan tentang coding. Bukan soal coding yang dimulai dari layar komputer, bahasa pemrograman, namun dimulai dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari yakni perintah, respons, kebiasaan dan adab.
Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd., Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin, mengajak para kepala lembaga dan pengurus yang hadir di momen ini untuk membaca coding dengan cara yang lebih luas. Setiap orang menyampaikan pandangan pribadi. Dari sana, satu gagasan mengemuka bahwa coding bukan hanya soal programmer. Coding telah bekerja dalam banyak sendi kehidupan manusia, bahkan dalam pola sosial yang selama ini dianggap biasa.
“Ketika satu perintah bisa dijalankan, secara tidak langsung telah menjalankan perintah coding”, kata KH Abdullah SAM.
Kiai memberi contoh sederhana saat mengucap salam. Ketika seseorang mengucapkan salam, tanpa komando dan secara otomatis orang sudah memahami bagaimana menjawabnya. Ada input, ada respons. Ada nilai, ada tata cara. Ada pola yang telah tertanam dalam kesadaran sosial. Begitu pula ketika seseorang menerima instruksi dan arahan, lalu mengetahui apa yang harus dilakukan. Dalam bahasa teknologi, pola itu mirip algoritma sederhana. Dalam bahasa kehidupan, itulah keteraturan.
Cara pandang ini membuat coding tidak lagi terasa jauh. Ia bukan sekadar baris kode di layar gelap, melainkan logika menjalankan perintah, memilah pilihan, menyusun langkah dan memahami akibat. Di dapur, seseorang membuat urutan memasak. Di pesantren, santri mengikuti jadwal belajar. Di organisasi, pengurus menjalankan arahan. Di keluarga, anak belajar mengenali aturan. Semua memiliki pola jika begini, maka begitu.
Jeannette M. Wing, ilmuwan komputer yang mempopulerkan istilah computational thinking, menulis bahwa berpikir komputasional adalah keterampilan dasar untuk semua orang, bukan hanya ilmuwan komputer. Pandangan itu menegaskan bahwa inti coding bukan hanya kemampuan teknis, tetapi cara berpikir bagaimana memecah masalah besar menjadi bagian kecil, mengenali pola, membuat urutan, dan mencari solusi yang dapat dijalankan.
Baca juga: KH Abdullah SAM: Membaca Zaman dengan Bahasa Coding
Di Indonesia, cara berpikir ini juga mulai masuk ke pendidikan dasar. Dalam Capaian Pembelajaran Informatika Kemendikdasmen, peserta didik sejak fase awal diarahkan untuk menerapkan berpikir komputasional dalam persoalan sehari-hari dengan mengidentifikasi, membandingkan, memilih, memilah, mengelompokkan, dan mengurutkan objek konkret. Artinya, pendidikan digital yang sehat tidak berhenti pada kemampuan memakai gawai, tetapi membentuk nalar.
Dari sinilah pembicaraan Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin bergerak ke kecerdasan manusia. Dalam bahasa populer, masyarakat lama mengenal beberapa jenis kecerdasan: IQ, EQ, SQ, dan kecerdasan sosial. IQ dikaitkan dengan kemampuan nalar, logika, dan pemecahan masalah. EQ berkaitan dengan kemampuan mengenali dan mengelola emosi. SQ sering dipahami sebagai kecerdasan makna, nilai, dan spiritualitas. Sementara kecerdasan sosial tampak dalam kemampuan membangun hubungan, membaca suasana, dan hidup bersama orang lain.
Namun zaman telah bergerak lebih cepat. KH Abdullah SAM mengangkat sebuah gagasan bahwa kecerdasan hari ini tidak saja yang emoat tadi. Kiai yang juga Ketua Ikatan Sarjana NU Kabupaten Malang itu mengingatkan bahwa kini ada kecerdasan baru yang perlu dipahami dan dikuasai yaitu kecerdasan digital atau bisa disebut dengan DQ (digital quotient).
Kecerdasan digital atau Digital Quotient (DQ) bukan sekadar kemampuan membuka aplikasi, mengunggah foto, atau menggunakan media sosial. Istilah ini dapat didefinisikan sebagai seperangkat kompetensi teknis, kognitif, metakognitif, dan sosial-emosional yang berlandaskan nilai moral universal agar manusia mampu menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang kehidupan digital. Di dalamnya ada identitas digital, keamanan, privasi, literasi informasi, komunikasi, empati digital, hingga hak digital.
Dengan kata lain, orang yang cerdas digital bukan hanya orang yang bisa memakai teknologi, tetapi orang yang tahu kapan harus memakai, kapan harus berhenti, apa yang boleh dibagikan, bagaimana menjaga data, bagaimana tidak menyakiti orang lain di ruang digital, dan bagaimana memakai teknologi untuk kebaikan.
Di titik ini, coding bertemu dengan adab. Dunia digital bekerja dengan perintah, tetapi manusia harus tetap bekerja dengan nilai. Algoritma bisa mempercepat pekerjaan, tetapi nurani menentukan arah. Aplikasi bisa membantu komunikasi, tetapi empati menjaga agar komunikasi tidak berubah menjadi kekerasan. Kecerdasan digital yang tidak disertai EQ, SQ, dan kecerdasan sosial akan melahirkan manusia yang mahir memakai alat, tetapi miskin kebijaksanaan.
Pesan KH Abdullah SAM kepada para kepala lembaga, guru dan pengurus juga menjadi kunci. Menurutnya, menjadi guru tidak boleh membuat seseorang merasa selesai belajar. Setiap hari dan setiap malam harus terus memperbarui diri.
“Jangan cepat merasa puas dan merasa pintar”, tegasnya.
Baca juga: Upacara Senin, Kepala TU Pesantren Rakyat Al-Amin Beri Pesan untuk Santri Kelas Akhir
Di era digital, guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi, tetapi tetap menjadi penjaga arah. Mesin pencari bisa memberi jawaban, kecerdasan buatan bisa menyusun teks, tetapi guru membantu murid memahami mana yang benar, mana yang baik dan mana yang bermanfaat.
Maka, ketika salam dipakai sebagai contoh coding, yang tampak bukan penyederhanaan teknologi, melainkan pendalaman makna. Salam mengajarkan bahwa respons terbaik lahir dari pemahaman. Perintah tidak cukup dijalankan secara mekanis. Ia harus dibaca dengan konteks dan adab. Begitu pula kehidupan digital. Setiap klik adalah pilihan. Setiap unggahan adalah jejak. Setiap data memiliki konsekuensi.
Di era ketika coding masuk ke sekolah, kantor, pesantren, pasar, rumah, dan ruang batin manusia, tantangan terbesar bukan hanya menjadi pintar. Tantangannya adalah menjadi cerdas secara utuh yakni bernalar dengan IQ, berperasaan dengan EQ, bermakna dengan SQ, berhubungan dengan kecerdasan sosial, dan bertanggung jawab dengan kecerdasan digital.
Sebab masa depan tidak cukup dibangun oleh orang yang mampu menjalankan perintah. Masa depan membutuhkan manusia yang tahu perintah mana yang layak dijalankan, untuk siapa ia dijalankan, dan nilai apa yang harus dijaga setelahnya. (*)
Penulis: Chandra Djoego