
Pesantren Rakyat Online — Suasana Briefing Harian Yayasan Pesantren Rakyat Al-Amin pada Kamis (23/4/2026) tampak berbeda dari biasanya. Kegiatan yang berlangsung rutin di Ndalem Pengasuh pagi ini dihadiri oleh Cak Suro, seorang aktor, konten kreator, dan komedian asal Surabaya.
Pada momen singkat itu, Cak Suro membagi pengalaman dan wawasan praktis tentang media sosial (medsos). Jajaran pengurus yang hadir pada kesempatan ini tampak antusias menyimak materi yang disampaikan.
Dalam pemaparannya, Cak Suro menegaskan bahwa perubahan zaman menuntut adaptasi cepat, terutama dalam memahami perkembangan media sosial.
“Dunia sekarang ini beda dengan era 90-an dan kita harus sadar kita hidup di era 2026. Antara waktu dan pikiran itu lebih cepat waktu”, katanya.
Cak Suro menjelaskan bahwa hampir seluruh aktivitas hari ini bermuara pada media sosial, sehingga diperlukan kecakapan dalam mengelolanya. Menurutnya, media sosial ibarat pisau bermata dua yang bisa membawa manfaat besar sekaligus risiko jika tidak digunakan secara bijak.
“Hampir semua menggunakan medsos. Anak-anak harus berhati-hati. Ada UU ITE, kalau tidak paham dan tidak bijak, bisa berbahaya”, tegasnya di hadapan peserta briefing.
Namun demikian, Cak Suro juga menyoroti potensi besar media sosial sebagai sarana produktif, bahkan bagi anak-anak usia sekolah. Ia mencontohkan fenomena konten kreator muda yang mampu meraih penghasilan fantastis dari platform digital.
“Ada anak SD berpenghasilan miliaran hanya dari medsos. Bahkan ada yang hanya memfoto pohon, dijual di medsos, bisa menghasilkan. Artinya, apa yang kita anggap tidak bernilai, bisa jadi sangat bernilai di tempat lain”, jelasnya.
Lebih lagi, pemeran film Punk in Love itu mendorong lembaga pendidikan, khususnya tingkat SMA, untuk mulai memberikan pembelajaran praktis terkait pemanfaatan media sosial secara positif, termasuk memahami algoritma platform digital seperti TikTok yang berfungsi membangun popularitas.
Baca juga: Sejumlah Tokoh Hadiri Peletakan Batu Pertama PPMH Loka, Langkah Awal Wujudkan Desa Santri

Lebih jauh, Cak Suro juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai sopan santun di tengah arus digitalisasi yang kian deras. Menurutnya, perubahan perilaku sosial di era media sosial perlu diimbangi dengan pendidikan karakter yang kuat.
“Sopan santun di negara kita mulai luntur. Anak-anak juga harus tetap dididik adabnya, termasuk di era medsos”, imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Cak Suro juga menyampaikan empat usulan strategis untuk pengembangan media di Pesantren Rakyat Al-Amin. Pertama, pembentukan tim media untuk memproduksi sketsa komedi berbasis syiar kehidupan santri. Kedua, penguatan personal branding kiai melalui dokumentasi intensif. Ketiga, tim khusus yang mengikuti dan mendokumentasikan pengajian kiai. Keempat, pengembangan program podcast sebagai media dakwah alternatif.
Cak Suro menegaskan bahwa di era saat ini, keberhasilan tidak lagi semata ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga kerja cerdas dengan memanfaatkan teknologi yang ada.
“Kalau dulu kerja keras, sekarang eranya kerja cerdas. Harus diingat, ini sudah tahun 2026″, katanya.
Menutup pemaparannya, Cak Suro mengajak seluruh peserta untuk terus membuka diri terhadap perubahan dan meningkatkan literasi, khususnya dalam memahami perkembangan digital.
“Jangan malas membaca, dan terbuka akan apa pun”, pungkasnya. (cha)
Reporter: Chandra Djoego