
Pesantren Rakyat Online – Rahma Nurul Azizah dan Muhammad Zaki Fattah Karim, santri Pesantren Rakyat Al-Amin ikut berpartisipasi dalam Musabaqoh Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) di Bogor, Jumat-Minggu (07-09/11/2025). Kompetisi ini digelar oleh Pengurus Besar Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia (PB JAI) bersama Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis Indonesia (FKMTHI).
Rahma, santri asal Sumbertempur Lor, Gunung Kawi dan Zaki, santri asal Wonosobo ditugaskan oleh Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin, Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd., mengikuti perlombaan ini, bersaing dengan delegasi seluruh Indonesia. Ada peserta dari daerah Nusa Tenggara Barat (NTB), Lombok, Jawa Timur, Jawa Tengah, Cirebon, Bogor, Garut, Kalimantan Timur hingga Lampung. Pesaing Rahma dan Zaki berasal dari latar belakang yang beragam, seperti pesantren, perguruan tinggi, sekolah menengah atas (SMA) hingga organisasi Masyarakat (ormas) seperti NU, Muhammadiyah, Ahmadiyah, dan Syiah.
MTQN yang berlangsung selama 3 hari itu bertempat di Jami’ Mahmudah Bogor. Panitia kegiatan mengusung tema Memancarkan Islam Penuh Cinta dan Kedamaian dengan semangat cinta Al-Qur’an dan mempererat ukhuwah Islamiyah. Pada momen ini, Rahma, putri dari Ust. Yamudi, Pengasuh Pesantren Rakyat Sumbertempur Lor itu mendapat nomor urut 9 dalam perlombaan. Sementara, Zaki yang juga mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ibnu Sina Malang mendapat nomor urut 23.
Sebelum mengikuti MTQN ini, santri Pesantren Rakyat yang mulai mondok di usia sekolah menegah pertama (SMP) itu dilatih oleh Ust. Faisol Nur Mukhlis, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Sumberpucung yang juga pernah menjadi 10 besar terbaik MTQ tingkat Jawa Timur. Pada perlombaan, Rahma dan Zaki secara berurutan membawakan surat Al-Isra’ ayat 9-11 dan surat Ali Imran ayat 143-144. Selama waktu 7 menit yang diberikan oleh panitia, mereka menampilkan bacaan terbaik di depan para juri.
Baca juga: Santri Pesantren Rakyat Belajar Langsung ke Kampus Ternama Malang
Rahma, santri yang memiliki keahlian di bidang suara ini bersyukur bisa mendapat kesempatan berkompetisi hingga ke level nasional. “Alhamdulillah sangat senang karena bisa bersaing dengan banyak orang dan dari asal daerah yang berbeda-beda”, katanya.
“Semoga kedepan bisa mendapat kesempatan belajar dan menjadi lebih baik lagi”, kata santri yang saat ini duduk di bangku kelas 12 SMA Pengusaha Pesantren Rakyat itu.
Di sisi lain, KH. Abdullah SAM mengatakan bahwa penting seorang santri mengikuti kompetisi-kompetisi yang ada agar mereka bisa melatih percaya diri saat berada di luar pesantren dan bertemu dengan khalayak luas. “Percaya diri dan terus belajar!”, pesannya.
Dalam ragkaian MTQN ini terdapar sejumlah agenda yang mengikuti seperti cabang lomba tilawah mujawwad untuk kelompok laki-laki dan perempuan kategori usia 18 tahun ke atas. Kemudian ada juga pameran Al-Qur’an, seminar nasional dengan tema Keutamaan Al-Qur’an dan Sejarah Tafsir di Indonesia penampilan qasidah dan puncaknya pengumuman juara dengan hadiah utama umrah.
Santri Pesantren Rakyat Mengenal Aliran Ahmadiyah
Di hari pertama sebelum kegiatan dimulai santri Pesantren Rakyat yang mengikuti kompetisi ini disambut hangat oleh para mahasiswa Ahmadiyah. Mereka yang saat itu mengajak keliling lingkungan markas Ahmadiyah yaitu Maulana Yunus Zulkarnain, Farhan Ahmad, dan Halim Ahmadi.
Rahma dan Zaki yang didampingi oleh Azka Nadziroh, Lurah Pengurus Santri Pesantren Rakyat melihat aktifitas jemaat Ahmadiyah mulai dari kampus, perpustakaan mubarak, asrama dan guest house. Ketika mengunjungi markas tersebut para santri mendapat pengetahuan baru bagaimana komunitas Ahmadiyah berperan dalam kerukunan untuk menjunjung nilai perdamaian.
Dari pengalaman, santri mendapatkan informasi tentang tantangan yang dihadapi oleh jemaat Ahmadiyah berupa penolakan oleh masyarakat sekitar ketika akan mengadakan sebuah perayaan. Meskipun sudah 1 abad berdirinya Ahmadiyah namun pro kontra tetap saja masih ada.
Baca juga: PAUD Pesantren Rakyat Tanamkan Semangat Kepahlawanan Sejak Dini
Disisi lain, untuk menyikapi pro kontra tersebut para jemaat mengadakan MTQN ini sebagai wadah untuk saling mengenal dan meluruskan kesalahpahaman yang telah beredar. “Jadikan perbedaan ini suatu keindahan dan dari perbedaan tidak menjadikan perpecahan dalam Islam itu sendiri” ungkap Novi Nayara sebagai Wakil Ketua Lajnah Imaillah Indonesia.
Di tengah beragam pandangan dan perbedaan ideologi, langkah ini menunjukkan bahwa Pesantren Rakyat Al-Amin bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga ruang tumbuhnya kedewasaan berpikir dan keluasan hati.
Pesantren Rakyat mengajarkan bahwa memahami perbedaan bukan berarti kehilangan prinsip. Dengan hadir di kegiatan lintas ideologi, santri belajar langsung bagaimana menjaga adab dalam pergaulan antar mazhab, tanpa harus menghapus identitas keislamannya dan menghargai keyakinan orang lain tanpa menghakimi.
Di kompetisi MTQN ini, pemenang utama peserta perempuan berhasil diraih oleh delegasi dari Institut Ilmu Al-Qur’an dan peserta laki-laki dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alaudin Makassar. (azn/cha)
Reporter: Azka Nadziroh
Editor: Chandra Djoego