Ngaji ala Jagong Maton: Ojo Wedi Ambil Resiko

0
362
Jagong Maton

Pesantren Rakyat Online – Bagi pemula yang menginginkan perubahan dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan lingkungan sosialnya harus berani berbuat sesuatu demi kehidupan yang lebih baik. Dalam buku yang saya tulis tahun 2004 waktu saya masih mahasiswa baru Fakultas Psikologi UIN Malang yang berjudul “Ide Bebas”, disitu saya membuat judul “Gila Sebuah Keniscayaan”.

Kenapa saya tulis judul “Gila Sebuah Keniscayaan”, bagi siapa saja yang menginginkan sebuah perubahan harus melihat ratusan bahkan ribuan sejarah yang telah lalu, selalu terulang kejadian-kejadian yang sebenarnya mirip-mirip saja. Sepertinya belum banyak ditemukan orang sukses yang ikut mewarnai perubahan dunia, sekaligus tercatat di buku-buku sejarah semua negara, tanpa melalui resiko-resiko yang hebat dan di anggap gila.

Coba kita hadirkan beberapa tokoh dunia, baik dalam penemuan, politik, sosial dan sebagainya, pasti mereka melalui resiko-resiko yang hebat dan bahkan berujung kematian pada dirinya. Berat memang bagi orang yang berpikir out of the box “gendeng”. Beliau-beliau yang berpikir maju kedepan tidak begitu berpikir resiko, tetapi lebih pada berpikir opportunity walau sangat sempit tetap aja apa yang diyakini benar, tetap akan dilaluinya.

Saya teringat ada sebuah buku “How To” yang saya baca sejak kelas 1 Aliyah berjudul “Jiwa Wiraswasta”. Buku tersebut saya anggap buku yang paling memberi motivasi pada kehidupanku sampai saat ini, buku ini juga saya simpan rapi. Buku yang berbentuk photocopy ini ada tulisan “Untuk Kalangan Sendiri”. Saya mendapatkannya dari kakak saya, Soedewo Nur Santo waktu beliau kerja di PT. Wika, yang sekarang Mas Nur sapaan akrabnya pindah ke PT. yang beroperasi di hampir seluruh dunia yaitu PT. Freyssinet.

Baca juga: Puisi: Pesantren Rakyat

Di dalam buku ini ada satu paragraf yang membuat jiwaku tidak pernah gentar dengan resiko-resiko apapun ketika saya berpikir dan yakin sesuatu itu baik dan akan baik walau menurut banyak orang di anggap kurang baik. Berbunyi seperti apa ungkpan itu, kurang lebihnya seperti ini “JIKA ORANG INGIN SUKSES, MASUKLAH UNIVERSITAS KEGAGALAN, FAKULTAS PUKUL-PUKULAN, JURUSAN CEMOOHAN, MATA KULIAH HINAAN, REFERENSI DIANGGAP BODOH”.

Lha dari sinilah saya tidak pernah takut ngambil resiko. Setelah saya pikir baik, saya rasa baik, tidak melanggar Al-Quran dan Hadits, tidak melanggar Pancasila dan UUD 45, apapun kata orang tetap akan saya lakukan dengan segala resiko walau ribuan cemoohan datang bertubi-tubi menghantamku.

Maaf, dari ribuan judul buku yang pernah saya baca, baik filsafat, ekonomi, politilk, sosial, agama, dimana setiap ilmu memiliki ratusan teori dan tidak ada masalah dan itu sah, hal tersebut membuatku semakin yakin bahwa berbeda itu gak masalah. Tidak diyakini orang benar gak ngurus, toh mereka memandang kita kan dengan kaca mata pengetahuan dan kepentingan mereka sendiri dan kita merdeka menentukan nasib kita sendiri.

Kemudian, dengan adanya beberapa contoh tokoh dunia yang hidupnya disiksa, dipenjara, dibuang, sampai dibunuh, toh kemudian sejarah tanpa paksaan pun harus mengakui mahakarya orang-orang yang memiliki kegigihan mempertahankan kebenaran yang diyakini serta memperjuangkan dengan berbagai resiko.

Kanjeng Nabi Muhammad saat itu sudah ada sedikitnya 360 tuhan di Ka’bah. Namun Kanjeng Nabi Muhammad SAW yakin dan telah dituntun oleh malaikat Jibril bahwa Tuhan Yang Maha Suci, Maha Benar adalah Allah SWT. Dan Rasulullah saat itu juga dianggap gila oleh orang-orang jahiliyah. Namun Rasulullah tidak bergeming sedikitpun, tidak mundur satu langkah pun memperjuangkan kebenaran Islam, hingga harus hijrah ke Madinah karena situasi yang sangat mendesak. Dan akhirnya Kebenaran Islam semakin semerbak ke seluruh penjuru dunia.

Kita lihat Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei membalik teori geosentris menjadi heliosentris yang nyawanya ditaruhkan demi kebenaran yang terus dipertahankan. Albert Einstein penemu e = mc2 yang dianggap dungu. Thomas Alva Edison penemu bola lampu yang divonis autis. Kemudian yang paling dekat dengan kita bangsa Indonesia Ir. Soekarno, saat perjuangan dianggap gila, bagaimana bisa melawan Belanda, karena Belanda memiliki segalanya baik meriam, tank, senjata api lain, tentara, markas. Adapun Soekarno dan bangsa Indonesia tidak memiliki senjata apapaun, kecuali alat perang tradisional. Kemudian zaman Jepang, dimana Jepang sudah hampir menguasai Asia dengan teknologi perang canggih. Bung Karno tetap saja mengajak melakukan Revolusi. Namun akhirnya apa yang terjadi, hari ini semua mata terbelalak, bahwa bangsa Indonesia sudah merdeka, sudah bisa menentukan nasibnya sendiri, walau sebagian juga masih mitos.

Daripada itu semua, pada tanggal 25-06-2008 tepat satu abad dari kebangkitan nasional 1908, Pesantren Rakyat lahir ingin turut andil mengisi kemerdekaan. Pesantren Rakyat bercita-cita bagaimana bangsa Indonesia betul-betul bisa mewujudkan cita-cita pendiri bngsa ini yang termaktum dalam pembukaan UUD 45. “Menghapus penjajahan, merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut membantu melaksanakan ketertiban dunia” walau sifatnya hanya dengan doa dan status WA. Dan semoga saja “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Indonesia” segera tercapai dalam tempo sesingkat-singkatnya dengan wasilah peran yang sangat remeh Pesantren Rakyat. Resiko, bodoh amat, gak wurungo yo bakale mati kabeh.

Ditulis oleh Kyai Sableng, KH. Abdullah SAM, S.Psi. Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin. 11 Februari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.