Pesantren Rakyat Uncategorized Pesantren Rakyat dan Multikulturalisme

Pesantren Rakyat dan Multikulturalisme

Oleh: Abdullah Sam (Kolam Lele: 7 Desember 2023)

Letak Geografis Pulau-Pulau Indonesia yang berada diantara persimpangan benua-benua dan lalu lintas perairan kuno, membentuk orang Indonesia memiliki karakter yang macam-macam, baik ras, etnis, kepercayaan, Bahasa, seni, budaya ataupun agama, bangsa Indonesia adalah bangsa yang majmuk dan multikultural. Sehingga sangat cocok kita memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika yang memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu.

Indigenous languages atau Bahasa daerah yang ada di Indonesia jumlahnya kurang lebih 715, belum mencakup dialek, menjadi negara pemilik Bahasa terbanyak ke-dua di dunia setelah Papua 840 bahasa. Ras yang hidup di Indonesia diantaranya adalah ras Australoid, ras Mongoloid Barat, ras Weddoid, ras Negroid, ras Melayu, ras Deutro Melayu, ras mongoloid, hingga ras Melanesoid.

Agama yang di akui ada tuju yaitu Islam, Kristen, Katolik, Konghucu, Hindu dan Buda, belum lagi aliran kepercayaan yang tumbuh berkembang di Indonesia da 187 kelompok, hingga ada kolom kusus di Kartu Tanda penduduk yaitu kolom agama diisi Penghayat atau kepercayaan. Belum lagi 17.000 pulau yang ada juga memiliki pengaruh tersendiri dalam kehidupan sehari-harinya, belum lagi pengaruh 112 kerajaan dan kesultanan yang pernah jaya di Nusantara dan keunikan-keunikan lainya.

Untuk Pesantren Rakyat lahir tepat satu abad dari pada kebangkitan Nasional 1908, pesantren rakyat lahir 2008. Memiliki kesadaran penuh untuk mengembangkan jiwa santri, jamaah dan masyarakat agar sadar akan pentingnya memahami adanya kesadaran multikultural. Pengembangan pendidikan multicultural tidak cukup dengan wacana, ceramah, literasi atau di awang-awang saja, namun perlu di praktikan dan di manifestasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pesantren Rakyat yang memiliki pengertian pesantren yang aktifitas dan kurikulumnya ala rakyat ini memiliki jargon yaitu kita yang mengajar, kita yang belajar dan kita yang memberi gelar. Juga selalu di dengangkan santri pesantren rakyat kuliah tanpa bangku, semua orang adalah guru, semua tempat adalah kelas, setiap kejadian adalah mengandung pelajaran, bearalaskan bumi dan langit adalah atapnya. Jadi pesantren rakyat tidak fokus berbicara Gedung, tetapi bagaimana santri dan civitas mampu bersinergi, berkolaborasi dengan lungkungan dan alam sekitas sebagai sumber inspirasi dan ilmu.

Untuk membekali dan menginspirasi santri tidak jarang Pesantren Rakyat mengadakan kegiatan Bersama tokoh agama lain, hingga peletakan batu pertama masjid Pesantren Rakyat saja dihadiri semua tokoh lintas agama Malang Raya, mulai dari Ulama, Pendeta, Biksu, dan tokoh-tokoh agama lainya. Bahkan untuk menghidupi santri tidak sedikit bantuan dari sahabat-sahabat konghucu klenteng En Ang Kiong kota malang dan agama lainya. Selalu di dengungkan untuk urusan Pendidikan, sosial, Kesehatan, kemanusian, dan perdamaian adalah urusan semua orang, semua golongan dan semua agama.

Untuk mempertajam jiwa multikulturalisme pada santri kita tambah beberpa fasilitas pendukung yang kuat, biar santri ketika terjun di kehidupan yang sesungguhnya tidak mudah kaget, santri kita sediakan beberapa alat music tradisional yang lumayan lengkap, alat music religi, alat music modern, ketrampilan beternak, berkebun, perikanan, kontruksi bangunan, warung, LSM, CV, PT, Teknik mesin, listrik, pelatihan koding, pembuatan website, koran, tiktok, yooyube dengan sedikitnya 17 komputer terkoneksi internet serta sinergi dengan segala potensi yang ada di masyarakat yang sesungguhnya sangat banyak dan itu adalah laboratorium  gratis dan atau murah.

Santri pesantren rakyat dating dari 25 kabupaten kota yang ada di Indonesia, sehingga dari perbedaan asal santri, berbedaan Bahasa, seni, budaya dan kebiasaan, ini menjadikan semakin mudahnya pihak pesantren menginternalisasikan nilai-nilai multicultural yang sesungguhnya itu adalah sebuah keniscayaan yang tidak terbantahkan.

Nilai-nilai atau pesan kesan multikulturalisme perlu sejak dini di implementasikan dan di internalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dengan sliweranya berbagai informasi yang sekian cepat dan sulitnya mencari kebenaran yang sesungguhnya, maka generasi penerus harus memiliki kesadaran bahwa perbedaan adalah rahmat, perbedaan adalah kekuatan, perbedaan adalah indah, sehingga khususnya Negara Kesatuan Republik Indonesia akan tetap lestari, terjaga persatuan dan kesatuanya, hingga Indonesia menemui kejayaanya.

Terlebih lagi santri, santri harus jadi ujung tombak utama untuk melestarikan penggerak multikulturalisme, sejak jaman wali, para ulama dan kyai-kyai terdahulu yang ikut mendirikan negara ini sudah sangat sadar dan bahkan sampai harus merelakan menghapus beberapa kata yang telah di tulis dalam piagam Jakarta, pada sila pertama, yang berbunyi Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya, menjadi Ketuhanan yang Maha Esa, Muslim berkorban demi kokohnya NKRI yang hingga hari ini semakin menuju kejayaan, untuk menghapus 7 kata di atas perdebatan sengit terjadi antar umat Islam sendiri, namun itulah pengorbanan umat Islam demi kebesara, kejayaan, dan keutuhan NKRI.

Indonesia penduduk terbesarnya adalah Islam, Islam yang di Indonesia yang terbesar adalah Nahdlotul Ulama, Nahdlotul Ulama adalah Pesantren Besar, Pesantren adalah Nahdlotul Ulama Kecil, di dalam Pesantren adalah Santri, jadi jika Indonesia ingin tetap jaya, utuh, terjaga persatuan dan kesatuanya, maka santrilah yang harus di kuatkan di sadarkan atas pentingnya pemahaman multikulturalisme. Semoyan Bhineka Tunggal Ika akan tetap kokoh jika jiwa-jiwa multikulturalime tumbuh bersemi dengan subur di seluruh pelosok negeri. Wes ngunuae sek, nglemesno tangan

2 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.