Pesantren Rakyat Guru Menulis SDII Pesantren Rakyat: Sekolah Bahagia Merdeka Belajar

SDII Pesantren Rakyat: Sekolah Bahagia Merdeka Belajar

SDII Pesantren Rakyat, Sekolah Bahagia Merdeka Belajar

Pesantren Rakyat Online – Saat mendengar istilah Pesantren Rakyat dan kurikulum merdeka melekat dengan sebuah metode dan strategi pembelajaran variatif sesuai kehendak anak. Kebebasan anak untuk belajar tak hanya di dalam kelas tetapi di halaman, di sawah bahkan di atas pohon-pun jadi. Bahkan, sambil menikmati buah ceri sekalipun tidak menjadi masalah.

Kebebasan anak dalam mengekspresikan diri sesuai potensinya masing-masing merupakan gagasan utama sejak awal berdirinya Pesantren Rakyat. Karena demikian itu membuat anak bisa menyalurkan minat bakatnya dengan baik. Kemudian ide tersebut hari ini dikenal dengan istilah merdeka belajar.

Merujuk pada program yang diusung oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, merdeka belajar adalah sebuah program untuk mewujudkan kemerdekaan dalam belajar. Melansir dari quipper.com, merdeka belajar berarti seorang siswa memiliki kebebasan untuk berpikir dan berekspresi.

Keseharian para santri di Pesantren Rakyat adalah potret nyata merdeka belajar. Mereka mengikuti moving class biasanya berjalan dari satu kelas ke kelas lainnya melalui pematang sawah. Meski seragam tak tampak putih, sampai hampir kecoklatan, tak peduli yang penting senang. Itulah anak Pesantren Rakyat yang memiliki ciri khas unik, sikap dan perilakunya. Walaupun begitu, di dalam pikirannya tidak kalah dengan anak-anak yang lain.

Memiliki keunikan yang tak dimiliki sekolah lain, Sekolah Dasar Islam Integratif (SDII) Pesantren Rakyat tak berkutat dengan teori saja. Pembelajaran di sini menekankan praktik pembelajaran interaktif dan komunikatif.

Baca juga: Meriah! Kampanye Terbuka & Mini Konser KPO SMPII-SMA Pengusaha Tuai Apresiasi

Tentang Penggagas dan Pengasuh Pesantren Rakyat

Kiai Abdullah SAM, sebagai penggagas dan pengasuh Pesantren Rakyat telah memberikan inspirasi kepada siapapun untuk menjadi pribadi yang tegas, bijak dan tangguh dengan perjuangan tanpa mengenal lelah. Apalagi dalam dunia pendidikan, beliau dikenal dengan kegigihannya dalam mewujudkan pendidikan gratis, murah, terjangkau tetapi berkualitas dengan jargon merakyat bermartabat.

Penggagas Pesantren Rakyat adalah sosok manusia yang cerdas berwawasan luas. Penulis yang mengenalnya sejak kecil mengumpamakan perjuangannya telah melewati batu karang yang terjal, menyingkirkan unak dan duri dan menginjak kerikil-kerikil tajam. Ia tidak menghiraukan petir dan badai yang dilalui dengan sikap tegar, niat dan doa untuk menggapai bintang harapan.

Walau telah mencapai keberhasilan dan pangakuan dari banyak kalangan Masyarakat, Kiai Abdullah SAM masih ingin kebahagiaan ini harus dinikmati banyak orang. Ia mampu merangkul siapapun dari kalangan pejabat, konglomerat, orang ‘melarat’ bahkan pengkhianat ia satukan, didudukkan sampai memiliki derajat sama yakni menjadi orang yang bermartabat.

Berangkat dari nurani yang tulus dicurahkan ilmu apapun sehingga bermanfaat dan dinikmati banyak orang. Dengan perjuangan yang keras hingga pahit getir diberikan, pengasuh mampu ciptakan model sekolah bahagia. Untuk mencapai nikmat yang bisa dirasakan, semua membutuhkan perjuangan dan proses.

Baca juga: Kandidat Doktor Mengabdi UNISMA Gelar Pelatihan Literasi di Pesantren Rakyat

Lebih heran lagi, yang tak dapat kami bayangkan, Pengasuh Pesantren Rakyat selalu jeli sehingga tahu perkembangan sekecil apapun. Penulis mengibaratkan, jarum jatuh di dasar laut sekalipun beliau tahu. Ia tak pernah berhenti untuk berpikir bagaimana cara Pesantren Rakyat semakin hebat berwawasan nasional bahkan internasional sampai mendunia, sehingga impian menjadi kenyataan

SDII Pesantren Rakyat tersedia sarana prasarana (sarpras) untuk mengembangkan bakat dan minat disertai instruktur yang berpengalaman dan berbobot. Para guru memiliki ketelatenan dalam membimbing dengan tulus sesuai kemampuan dan kemauan siswa satu persatu. Di situlah letak kebahagian yang tak ternilai harganya.

Penulis hanya bisa bercerita dari lubuk hati yang terdalam sembari berpikir, “kok bisa jadi begini ya”. Begitulah kiranya aku menulis sambil membayangkan anak kecil yang cerdik, sholih, cerdas dan punya cita cita.

Adakah kira kira anak kecil sekarang yang seperti itu? Langka banget!

“Segala yang beliau ucapkan selalu menjadi inspirasi”, tulis Kiai Abdullah SAM.

Penulis: Wiwik Hadarini, S.Pd. (Guru SDII Pesantren Rakyat Al-Amin)
Editor: Chandra Djoego

2 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.