Pesantren Rakyat Uncategorized Prof. Imam Suprayogo Menulis Penggagas dan Pendiri Pesantren Rakyat: Selain Mengasuh Pesantren Rakyat, Abdullah Sam Aktif Menulis

Prof. Imam Suprayogo Menulis Penggagas dan Pendiri Pesantren Rakyat: Selain Mengasuh Pesantren Rakyat, Abdullah Sam Aktif Menulis

Setiap mendengar  kabar ada alumni sukses, sebaga seorang guru, saya selalu bertanya-tanya tentang berbagai hal terkait denagn lulusan itu. Demikian pula,  sepulang meninjau pesantren rakyat yang dirintis oleh Abdullah Sam,  sarjana Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan dinilai sukses, saya ingin tahu tentang latar belakang  kehidupan keluarganya,  aktifitasnya sewaktu kuliah, orang-orang yang pernah dijadikan mentor, dan lain sebagainya.

Mendengarkan cerita tentang Ustadz Abdullah Sam, justru saya segera teringat nasehat ibu saya   sendiri sewaktu masih menjadi mahasiswa, yaitu agar saya berani hidup prihatin. Sedangkan yang dimaksud dengan hidup prihatin itu adalah mengurangi tidur, makan, dan tidak mengikuti  hawa nafsu. Menginginkan menjadi orang sukses, menurut pandangan ibu saya yang seumur-umur tinggal di desa, harus mampu menjaga diri, hidupnya tidak berlebihan, dan bahkan  sebaliknya, mengurangi  kenikmatan dengan cara  banyak berpuasa, rajin berdoa, shalat malam, dan sejenisnya.

Rupanya begitu juga yang dialami oleh Abdullah Sam. Oleh karena keterbatasan ekonomi orang tuanya, ia harus berani hidup amat sederhana. Mulai dari klas 4 SD sudah mencari uang sendiri dengan cara ngasong, semakin besar mengayuh becak, berjualan kopi, pekerja cuci mobil, kernet, dan lain-lain. Namun suatu saat oleh karena kegiatan itu tidak lagi bisa dijalani sepenuhnya, karena padatnya kegiatan di kampus, maka hingga tidak makan seharian dianggap sebagai hal biasa. Jika mengalami  kekurangan penghasilan, ia hanya mengkonsumsi ketela pohon  yang dibakar sendiri di tempat yang tidak diketahui oleh temannya.

Penderitaannya seperti yang digambarkan itu, Abdullah Sam tidak mau diketahui temannya hingga harus dikasihani. Bukan karena malu, tetapi  jiwanya tidak mau menjadi beban orang lain. Namun suatu ketika, keadaannya yang sebenarnya itu diketahui oleh penjaga kampus dan dilaporkan kepada salah seorang dosennya. Mendengarkan apa yang dialami oleh Abdullah Sam itu, dosennya merasa iba, kemudian membantu dengan cara memberikan kunci rumahnya dan berpesan agar  kapan saja, ia dipersilahkan makan  di  rumahnya  itu. Mendengarkan cerita tentang penderitaan Abdullah Sam tersebut,   dosen dimaksud tidak tega membiarkannya.

Keterbatasan dan penderitaan hidup yang dialami seperti digambarkan tersebut  tidak pernah disampaikan kepada siapapun.  Menjalani hidup seperti itu,  ia mengaku,  di dalam hatinya protes, tetapi tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Ia merasakan bahwa  dalam kehidupan di dunia ini tidak keadilan. Orang-orang yang berpunya dan bahkan berlebihan, sekalipun sehari-hari membaca al Qur’an dan hadits nabi, ternyata hatinya tidak mampu bergerak untuk berbagi  kepada  banyak orang yang sedang menderita dan berkekurangan. Abdullah Sam, menurut pengakuannya, kesedihan hatinya itu disalurkan melalui tulisan.  Pada saat-saat tertentu, ketika sedang merenungkan  pesan-pesan langit yang sedemikian indah tetapi  ternyata hanya dijadikan bacaan untuk  mengumpulkan pahala belaka itu, ustadz yang sekarang menjadi pengasuh pesantren rakyat ini menulis. Hingga akhirnya, menurut pengakuannya, ada beberapa naskah buku yang berhasil ditulis, sekalipun belum ada yang diterbitkan.

Ketika  sedang menggali informasi tentang pribadinya, saya diberikan beberapa buku dimaksud, di antaranya  sudah siap cetak sekitar 150  halaman.  Isi buku yang ditulis sejak mahasiswa tersebut memang menarik sekali. Pandangannya tentang Islam, tentang  keadilan, tentang para tokoh Islam  yang tidak peduli pada persoalan  umat yang miskin, bodoh, dan terbelakang telah ditulis olehnya dengan jelas. Melalui tulisan itu, Ia menginginkan ada gerakan implementasi nilai-nilai  Islam, agar agama yang dibawa oleh Muhammad saw, benar-benar menjadi kekuatan untuk memakmurkan, mensejahterakan, memajukan, dan membuat suasana adil  di tengah-tengah kehidupan ini.

Sekalipun beberapa buku dimaksud ditulis ketika ia masih menjadi mahasiswa, ternyata isinya sedemikian bagus. Kritik sosialnya sedemikian tajam, tidak terkecuali kritik itu  juga ditujukan kepada para dosen, kepada para kyai, dan tokoh masyarakat lainnya. Dalam tulisan itu, ia menyebutnya sebagai tulisan bebas tanpa terikat  oleh aturan formal atau resmi. Akan tetapi, dengan  kebebasan itu, isi buku dimaksud  justru  tampak orisinalitasnya.  Sebenarnya sudah lama Ustadz Abdullah Sam bermaksud menerbitkan buku-buku yang ditulisnya itu. Namun oleh salah seorang mentor, atau ibu asuhnya sendiri, yaitu Dr. Hj. Mufidah, khawatir akan melahirkan polemik,  mempertimbangkan terlalu kerasnya  isi buku dimaksud , disarankan  agar   penerbitan itu ditunda dulu.

Membaca naskah buku Abdullah Sam itu,   saya menganggap sebagai hal biasa. Memang ada kritik yang keras, seperti misalnya, dia membuat statemen agar muncul  gerakan Islam Protestan. Jika di kalangan nasrani muncul Kristen Protestan, maka menurut Abdullah Sam,  juga tidak mengapa muncul  gerakan Islam Protestan. Islam yang  disebut-sebut  dalam sejarah telah menjadi kekuatan pengubah masyarakat dari jahiliyah menjadi masyarakat beradab, ternyata pada masa-masa selanjutnya dianggap olehnya tidak membawa bukti apa-apa. Para tokoh dan pemimpin Islam sendiri, seolah-olah tidak peduli pada keadaan yang menyedihkan itu. Abdullah Sam begitu  sedih dan prihatin mengetahui sendiri,  bahwa  banyak  wanita yang terpaksa menjual diri,  ikut menjadi penghuni tempat   prostitusi  agar mendapatkan uang untuk membiayai sekolah anaknya.

Kenyataan  semacam itu diketahui jumlahnya cukup banyak, tetapi tidak ada tokoh yang peduli. Harta kekayaan mereka  justru dipamerkan lewat  berbagai kegiatan ritual yang berbiaya mahal,  membangun rumah dan membeli kendaraan mewah, menyelenggarakan pesta berlebih-lebihan, dan bahkan juga ironis ada yang digunakan  untuk membeli  kekuasaan. Sementara itu disebutkan bahwa, umatnya dibiarkan bodoh, terbelakang, dan miskin. Dengan demikian itu, agama seolah-olah dikesankan tidak mengajarkan agar peduli terhadap orang-orang yang sedang mengalami penderitaan. Padahal, menurut Abdullah Sam, sebagaimana dinyatakan oleh al Qur’an dengan amat jelas,  bahwa mengabaikan anak yatim dan orang miskin adalah disebut sebagai  pendusta agama. Melalui bukunya itu, ia  mengingatkan dengan keras kepada para pemimpin dan tokoh umat, hingga memandang bahwa, sudah waktunya  ada kebangkitan Islam dalam makna yang  sebenarnya. Wallahu a’lam

 

https://www.facebook.com/notes/imam-suprayogo-v/selain-mengasuh-pesantren-rakyat-abdullah-sam-aktif-menulis/1445856462393990

1 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.