Oleh Prof. Dr.KH. Imam Suprayogo: Contoh Keberhasilan Sarjana Membangun Kampung Halamannya

0
28

Banyak sekali orang  berharap  anak-anak  desa yang belajar ke kota, setelah menjadi sarjana agar bersedia pulang ke kampung, tempat kelahirannya. Mereka itu diharapkan ikut bersama-sama membangun kampung halamannya. Harapan ideal seperti itu sebenarnya tidak saja datang dari para pemimpin perguruan tinggi, tokoh masyarakat,  lebih-lebih adalah juga menjadi harapan  pemerintah.

Harapan tersebut adalah sedemikian  mulia dan sangat mungkin bisa dilaksanakan. Akan tetapi pada kenyataannya tidak banyak terwujud.  Setelah lulus, para sarjana lebih suka menetap di kota. Pulang ke desa dianggapnya belum tentu bisa berperan banyak, dan atau tenaganya tidak selalu dibutuhkan. Selain itu, membangun masyarakat desa bukan pekerjaan gampang, bahkan niat baiknya itu belum tentu direspon. Berbagai alasan itulah akhirnya menjadikan sarjana tidak banyak yang pulang ke desa.

Pilihan pemuda desa yang telah lulus menjadi sarjana di antaranya adalah bertahan di kota, atau pergi ke tempat lain untuk mendapatkan pekerjaan. Apalagi, setelah menjadi sarjana,  biasanya akan segera mendapatkan tantangan baru, ialah berkeluarga. Sedangkan untuk memenuhi tuntutan itu, mereka harus  mencukupi kebutuhan  keluarganya. Keadaan seperti digambarkan itulah yang menjadikan idealismenya yang semula berkobar-kobar, yaitu  ingin membangun masyarakatnya, akhirnya  menjadi  surut, atau setidaknya bekurang.

Di dalam suasana sedemikian sulitnya memenuhi harapan ideal, yaitu agar  sarjana mau dan mampu membangun desanya sendiri, ———sekalipun jumlahnya amat kecil, ternyata  ada yang  mewujudkannya, dan bahkan  sukses.  Keberhasilan yang dimaksudkan  itu, sebenarnya  harus diakui,  sangat menyolok, oleh karena ia mampu mengubah masyarakat dari yang semula berkebiasaan buruk, seperti suka berjudi, meminum menuman keras, narkoba, dan bahkan kampung itu digunakan untuk perzinahan, akhirnya menjadi masyarakat yang bersih dari kegiatan  tercela  tersebut.

Seorang yang dianggap berhasil, dan sangat patut dicontoh tersebut, adalah bernama Abdullah Sam,  lulusan Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Setelah  lulus, ia  pulang ke tempat kelahirannya dan memprakarsai pembangunan masyarakat yang ada di kampungnya dan ternyata sukses. Keberhasilannya itu telah tampak dan bisa dilihat,  sehingga  akhirnya banyak orang  meniru,  dan  berkunjung    untuk  melakukan studi banding,  dan bahkan  juga  menjadikan bahan kajian  ilmiah,  untuk   penulisan  skripsi, thesis  atau lainnya.

Abdullah Sam, adalah seorang yang pernah mengaji di pesantren dan kemudian belajar di  fakultas psikologi UIN Maliki Malang. Setelah lulus  dari kampusnya, ia langsung pulang ke kampung halamannya. Dalam penuturannya, ia merasa sangat sedih dan merasa menderita tatkala mendengar dan menyaksikan sendiri,  kampungnya sudah sekian lama oleh kalangan luas diberi label sebagai kampung hitam. Label yang tidak menyenangkan itu tidak bisa dibantah,  oleh karena di tempat itu banyak orang miskin, yang sehari-hari berjudi, meminum minuman keras, bahkan juga tempat perzinahan liar.

Di  masyarakatnya yang  miskin itu, banyak pemudanya tidak bekerja, pada   umumnya berpendidikan rendah,  dan bahkan banyak di antara mereka yang tidak pernah bersekolah.  Bahkan lebih parah lagi, banyak orang yang pekerjaannya sehari-hari hanya  sebagai tukang parkir atau penjaga keamanan lokalisasi wanita tuna susila terbesar di Malang,  yang  terletak  di RT, kampung sebelahnya. Keadaan seperti itu, maka pantas,  lokasi  itu disebut sebagai daerah hitam.

Hal lain yang mendorong  Abdullah Sam  segera  kembali ke kampung halamannya  adalah terinspirasi oleh keyakinannya, bahwa Islam bukan sebatas tuntunan kegiatan ritual yang hanya akan mengantarkan  seseorang  sebatas meraih kesalehan spiritual, tetapi juga seharusnya menjadi sempurna hingga meraih kesalehan sosial. Disebutkannya bahwa tidak ada gunanya, seseorang mslim yang hanya tekun di masjid banyak berdzikir, tetapi mengabaikan atau tidak peduli pada  lingkungannya yang dirudung  oleh kemiskinan, kebodohan, dan penderitaan lainnya.

Berbekalkan ilmu yang diperoleh, baik yang berasal dari pesantren maupun sebagai sarjana, ia memulai  tampil di desanya.  Ia mengenalkan konsep, apa yang disebut dengan pesantren rakyat. Konsep itu  tergolong baru. Banyak sebutan pesantren, tetapi bukan pesantren yang melibatkan semua rakyat hingga disebut pesantren rakyat.  Selain itu, pesantren rakyat, bukan sebagaimana  pesantren pada umumnya, yaitu para santrinya belajar mengaji ilmu agama  kepada kyai  sebatas di lingkungan pesantren.

Aktivitas pesantren rakyat, selain berupa kegiatan mengaji kepada kyai atau ustadz yang diikuti oleh para santri, juga berupa kegiatan  lain yang diikuti oleh semua warga masyarakat  yang berminat.  Selain itu, apa yang dipelajari bukan sebatas kitab kuning,  tetapi  juga  berbagai jenis ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan.  Warga masyarakat  yang membutuhkan ketrampilan bertani, beternak, berdagang, kesenian,  dan lain dilayani semuanya oleh pesantren rakyat. Pengajar pesantren rakyat bukan saja kyai atau ustadz  tetapi adalah dari kalangan rakyat sendiri, yaitu dari mereka yang lebih mengerti tentang bidangnya masing-masing. Oleh karena itu, pesantren rakyat memiliki semboyan : “ mengajar bersama, belajar bersama, dan mendapatkan gelar bersama”.

Melalui konsep  pesantren rakyat itu, Abdullah Sam, ternyata berhasil menggerakkan warga kampungnya. Setalah berjalan  sekitar 8 tahun, yakni kegiatan itu dimulai sejak sekitar tahun 2018  hingga sekarang, di  kampung  itu sudah tidak ada lagi kegiatan berjudi, meminum minuman keras, narkoba, dan apalagi perzinahan. Di kampung itu sudah berdiri 4 mushalla dan selalu digunakan untuk shalat berjama’ah lima waktu oleh warga kampungnya.

Dalam bidang ekonomi, masyarakat berhasil diajak bekerjasama. Mereka yang tergolong kaya  bersedia  menolong yang mikin, lewat berbagai cara. Misalnya, mereka yang memiliki modal diajak mengembangkan ternak kambing dengan cara bagi hasil, memberi modal usaha untuk membuat kerajinan pandai besi hingga  berhasil  menyerap puluhan orang, membuat kolam renang, memproduksi bibit tanaman, dan lain-lain. Pesantren rakyat juga berhasil memberikan modal tanpa agunan dan juga tanpa bunga hingga lebih dari dua milyard rupiah.

Tampaknya konsep pesantren rakyat, insya Allah,  akan semakin berkembang dan ditiru oleh banyak orang di tempat lain. Beberapa orang yang melakukan studi banding, akhirnya juga ada yang  meniru untuk mengimplementasikan konsep dimaksud di tempatnya masing-masing.  Hingga saat ini, menurut keterangan  Ustadz  Abdullah Sam,  sudah  tercatat ada 23 buah  pesantren rakyat yang tersebar di berbagai desa, baik di Malang maupun di luar Kabupaten Malang.  Tentu, kegiatan mulia ini patut dicontoh oleh sarjana lainnya, yaitu pulang kampung dan membangun masyarakatnya. Wallahu a’lam.

https://www.facebook.com/notes/prof-imam-suprayogo/contoh-keberhasilan-sarjana-membangun-kampung-halamannya/351765205022811

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.