Pesantren Rakyat Uncategorized Mengenal Konsep Pesantren Rakyat

Mengenal Konsep Pesantren Rakyat

Oleh: Prof. Dr. Imam Suprayogo

Sebutan pesantren rakyat,  selama ini masih belum terlalu populer. Istilah itu digagas oleh Ustadz Abdullah Sam, pemuda kelahiran Sumber Pucung,  Kabupaten Malang, lulusan Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim  Malang,  yang juga sebelumnya pernah mengaji pada Kyai Masduqi Mahfudz, selama 5 tahun, di Pondok Pesantrennya, di  Mergosono, Malang.

Selama ini ada beberapa jenis nama pesantren yang  dikenal dan bahkan populer, yaitu pesantren Salaf, pesantren kholaf, pesantren kilat, pesantren modern, dan ain-lain. Sedangkan sebutan pesantren rakyat, sebenarnya  masih belum banyak dikenal orang. Istilah itu diperkenalkan  sendiri oleh   pencetusnya yaitu  Ustadz Abdullah Sam sebagaimana disebutkan di muka.

Sebutan rakyat sebagai pembeda dari nama pesantren pada umumnya, ternyata memang memiliki tujuan dan ciri yang khas.  Pemberian  nama “rakyat” adalah  untuk menunjukkan bahwa kehadiran pesantren ini dimaksudkan  agar bisa dimanfaatkan  oleh semua orang yang merasa dirinya sebagai rakyat  tanpa terkecuali di mana pesantren itu berada.

Sebenarnya, saya sudah cukup lama mendengar sebutan  pesantren rakyat itu, dan juga tahu siapa penggagasnya. Namun oleh karena letaknya yang cukup jauh dan juga  keterbatasan  waktu, maka keinginan untuk melihat  langsung kegiatan pesantren yang namanya terdengar aneh itu selalu tertunda-tunda. Namun dari doikumen dan beberapa  hasil penelitian  dan juga tulisan berupa  thesis, menjadikan saya sedikit banyak  mengerti tentang gagasan yang disebut dengan istilah pesantren rakyat itu.

Pesantren rakyat  tidak sama persis  dengan  pesantren lain pada umumnya. Memang, di pesantren itu terdapat kyai sebagai pengasuhnya, tempat tingggal santri,  mushalla,  dan kegiatan berupa pengajian kitab kuning. Sedangkan yang membedakan dari pesantren lain di antaranya adalah  pada  orientasi keberadaannya, tentang para santri yang belajar di tempat itu, bahan yang dipelajari, dan sistem pembelajarannya.

Orientasi pesantren rakyat diarahkan pada upaya pemberdayaan rakyat  melalui beberapa pendekatan yang bisa dilakukan.  Pesantren itu lahir di tengah masyarakat pedesaan yang memiliki problem sosial yang sebenarnya amat serius. Di lingkungan masyarakat itu terdapat  banyak orang miskin, berpendidikan rendah, terdapat kebiasaan buruk seperti perjudian, mabuk, dan bahkan juga merupakan tempat  lokalisasi wanita tuna susila, di samping tentu masih ada   perzinaan  secara liar.

Konsep pesantren rakyat yang digagas oleh Ustadz Abdullah Sam, dimaksudkan  untuk  menjawab persoalan masyarakat yang  akut dan serius itu. Jika pesantren pada umumnya bermasud mengajari para santri agar memahami ajaran Islam dan menjalankannya, maka pesantren rakyat  berorieantasi untuk mengentaskan masyarakat dari berbagai persoalan sebagaimana digambarkan di muka. Melalui pesantren itu, kegiatan masyarakat  yang dianggap tidak pantas dialihkan pada hal-hal yang lebih terpuji  dan sekaligus bisa memenuhi  kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Aktifitas  pesantren rakyat itu sehari-hari adalah  kebersamaan  warga masyarakat untuk belajar bersama, menjadi guru bersama,  dan bahkan menilai keberhasilan belajar  bagi dirinya sendiri secara bersama-sama. Hal demikian itu dianggap mungkin dilakukan  atas dasar anggapan bahwa masing-masing anggota masyarakat pasti memiliki kelebihan  yang berbeda-beda. Di antara mereka ada yang memiliki harta berlebih, ketrampilan bertani, berternak,  kerajinan, seni budaya, pengetahuan tentang agama, atau lainnya.

Dalam konsep  pesantren rakyat itu, siapa saja yang memiliki kelebihan diajak untuk berbagai kepada yang mau dan berkekurangan. Di bawah koordinasi pengasuh pesantren rakyat, yakni Ustadz Abdullah Sam,   siapa saja yang berlebih  diajak memberi kepada yang berkekurangan. Seorang yang memiliki  kecakapan bertani dan sudah nyata-nyata berhasil diminta menjadi guru bertani. Demikian juga jenis kelebihan lainnya, seperti berternak,  berdagang, dan bahkan juga kelebihan dalam berolah raga,  kesenian, dan lain-lain.  Pesantren rakyat menjadi bentuk pendidikan terbuka, flekssibel, murah, dan berfungsi  untuk mengatasi berbagai kekurangan dengan cara membangun kebersamaan.

Mendasarkan pada  konsep pesantren rakyat tersebut, maka siapapun yang memiliki kelebihan, maka  boleh menjadi guru. Jika di kampung itu terdapat orang yang memilki pengetahuan tentang pertanian diminta menjadi guru pertanian, mereka yang memiliki ketrampilan berternak diminta mengajarkan tentang peternakan, mereka yang mengusai  kerajian tertentu maka diminta untuk mengajarkannya kepada sesama penduduk desa itu. Demikian pula Ustadz Abdullah Sam, sehari-hari selain mengkoordinasi  berbagai kegiatan  pesantren rakyat sehari-hari juga mengajar dan membimbing  kehidupan keagamaan.

Melalui konsep pesantren rakyat itu, maka pendidikan bisa diikuti oleh semua orang dalam segala  umur atau  berlangsung  sepanjang hayat, dilaksanakan kapan saja secara fleksibel, murah, bebas, terbuka, dan fungsional. Orientasi pendidikannya adalah ingin melakukan perubahan masyarakat dari keadaannya yang semula terbelenggu oleh tradisi yang kurang terpuji dan merugikan,  menuju kehidupan yang sehat, terhormat,  dan bermartabat.  Pesantren rakyat, selain  mengajarkan agama kepada generasi muda, juga sekaligus mengimplementasikan ajaran itu di tengah masyarakat, agar kehadiran Islam  dirasakan benar-benar berhasil  menjawab persoalan hidup dan menjadi rakhmat untuk semua. Wallahu a’lam.

 

https://www.facebook.com/notes/prof-imam-suprayogo/mengenal-konsep-pesantren-rakyat/350953561770642

1 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.