Pesantren Rakyat Uncategorized Melihat Dari Dekat Kegiatan Pesantren Rakyat

Melihat Dari Dekat Kegiatan Pesantren Rakyat

13509_847311321971328_5956662772688448531_nSudah lama saya berkeinginan melihat langsung kegiatan pesantren rakyat, yang sudah begitu lama  saya mendengarnya,  tetapi oleh karena ksibukan, keinginan itu baru pada hari Kamis tanggal 14 Mei 2015, bisa saya penuhi. Kebetulan saja, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang dipimpin oleh Dr.Hj. Mufidah, memiliki kegiatan di tempat itu dan saya atas kebaikannya diajak  sekaligus diminta memberi ceramah dalam rangka peringatan  Isra’ Mi’raj.

Saya datang ke Pesantren Rakyat di Sumber Pucung,  bersama para pimpinan univeritas, fakultas, beberapa dosen,  dan juga mahasiswa yang aktif dalam kegiatan Posdaya di tempat itu pula. Selama dalam perjalanan menuju lokasi dimaksud, teman-teman yang berjumlah sekitar 10 orang di dalam mobil memperbincangkan  tentang pesantren itu sekalipun secara garis besarnya. Diperoleh informasi bahwa dulu di lokasi pesantren rakyat itu adalah merupakan tempat lokalisasi wanita tuna susila terbesar di Malang. Mendengar keterangan itu terbayang bahwa di tempat itu pasti juga tumbuh subur penyimpangan sosial lainnya, seperti perjudian, meminum minuman keras, narkoba, dan lain-lain. Di tempat seperti itulah pesantren rakyat  yang dirintis oleh Ustadz Abdullah Sam, alumni Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,  ternyata berhasil

Para teoritikus pendidikan selalu menyarankan,  dalam membangun lembaga pendidikan agar memilih lingkungan yang tepat.  Lembaga pendidikan yang berada pada lingkungan yang buruk, maka sebagus apapun sarana dan prasarana, tenaga pengajar, manajemen dan kepemimpinan, kurikulum,  dan lain-lain,  tidak akan  ada artinya. Bertolak belakang dari teori pendidikan itu, Ustadz Abdullah Sam  sengaja  menjadikan tempat yang nyata-nyata tidak tepat untuk lingkungan pendidikan itu justru dipilih untuk mengembangkan pesantren.

Rupanya bagi Ustadz Abdullah Sam, yang memiliki pengalaman  lama mengaji di pesantren, tempat yang dianggap penuh dengan penyakit sosial   justru harus dibangun pesantren. Lembaga pendidikan Islam tradisional  harus mampu membuat perubahan masyarakat, apapun keadaannya. Tidak selayaknya bagi  pesantren  hanya  memilih lokasi yang sudah baik  dan tidak menantang.  Pesantren, menurut  Ustadz Abdullah,  harus berani menghadapi tantangan sebesar apapun, dan kemudian   menjawabnya.  Kebanyakan pesantren dalam sejarahnya selalu datang untuk menyelesaikan  masalah, dan bukan justru lari dari masalah dengan memilih tempat yang sudah baik dan aman.

Rombongan dari kampus yang berkunjung ke pesantren rakyat di Sumber Pucung, Kabupaten Malang itu  ternyata sudah dijemput oleh para anggota panitia, warga  masyarakat, termasuk  Ustadz Abdullah sendiri. Rupanya penjemputan itu sengaja dilakukan dari jarak yang cukup jauh dari lokasi pusat kegiatan pesantren.  Hal itu  mungkin saja dimaksudkan  agar rombongan  bisa sekaligus  menyaksikan  berbagai macam kegiatan pesantren rakyat di sepanjang jalan yang dilalui, yaitu di  rumah-rumah warga dan sekitarnya.

Sambil berjalan kaki menuju tempat kegiatan peringatan isra’ mi’raj, saya dan juga rombongan ditunjukkan sendiri oleh Ustadz Abdullah Sam  berbagai jenis kegiatan warga masyarakat sebagai bagian dari kegiatan pesantren rakyat.  Misalnya, usaha  kerajinan pandai besi yang bisa menyerap  belasan pekerja, peternakan  kambing yang dikelola atas kerjasama antara orang kaya dengan mereka yang tidak punya modal, tanaman sayur di sepanjang pinggir jalan di kampung itu, peternakan jangkrik, usaha kolam renang,  kelompok seniman, tempat olah raga, tempat cangkrukan, dan lain-lain.

Dalam kegiatannya,  pesantren rakyat tidak saja mengajari ngaji kepada para santri dengan kitab tertentu, melainkan juga menggerakkan masyarakat untuk bekerja  dalam menyelesaikan problem-problem kehidupan bersama, misalnya problem ekonomi, sosial, keagamaan, kesenian, pendidikan bagi anak-anaknya, dan lain-lain. Oleh karena itu, santri pada pesantren rakyat bisa dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu  santri inti, santri kalong, dan santri pendukung.

Disebut sebagai santri inti adalah mereka yang belajar mengaji kepada Ustadz  Abdullah Sam dan  mereka itu bermukin di pesantren rakyat itu. Jumlahnya  tidak banyak, hanya belasan orang,  dan semua tidak dipungut biaya.  Sedangkan  santri kalong adalah mereka yang pada setiap hari datang dan belajar di pesantren itu tetapi tidak menginap. Adapun santri pendudukung adalah siapa saja warga penduduk di desa itu yang berkeinginan belajar tentang pengetahuan dan ketrampilan apa saja yang diperlukan untuk mengembangkan dirinya.

Pembelajaran tentang  berbagai jenis pengetahuan dan ketrampilan dimaksud dilakukan secara fleksibel, bebas, murah, dan mendasarkan pada prinsip kebersamaan dan atau tolong menolong antar sesama.  Warga desa itu yang memiliki pengetahuan tentang peternakan, pertanian, kerajinan, kesenian, agama, dan lain-lain  diminta mengajarkannya kepada warga lain yang membutuhkan.  Atas bimbingan dan koordinasi  pengasuh pesantren rakyat, yaitu Ustadz  Abdullah Sam,  kegiatan itu dijalankan. Di lokasi pesantren rakyat itu dikembangkan ketentuan yang disepakati bersama  bahwa, siapa saja yang bisa hendaknya mengajarkan kepada mereka yang belum bisa, dan mereka yang berlebih agar menolong yang berkekurangan.

Aktifitas pesantren rakyat  sehari-hari bukan sebatas menyangkut kegiatan   kyai dan santri sebagaimana di pondok pesantren pada umumnya, melainkan berupa  gerakan semua warga kampung untuk menyelesaikan problem hidupnya yang mungkin bisa dilakukan secara bersama-sama.  Semboyan yang dikembangkan oleh pesantren rakyat adalah   berbunyi, :   bahwa semua orang boleh  belajar, semua orang  boleh mengajar, dan gelarnya boleh dibuat sendiri. Belajar di pesantren rakyat bukan dimaksudkan untuk mendapatkan sertifikat atau ijazah, melainkan untuk mendapatkan pengetahuan, wawasan, mapun ketrampilan yang dibutuhkan dalam kehidupannya sehari-hari.

Hal menarik lagi lainnya dari pesantren ini adalah bahwa untuk menggali aspirasi masyarakat dan kemungkinan penyalurkannya, maka di lokasi tertentu  disediakan tempat berkumpul bagi warga kampung. Di tempat itu, semacam cangkrukan,  mereka bisa berbincang, berdebat, dan berdialog secara terbuka bersama para tetangga. Melalui cara itu,  kebersamaan bukan saja menyangkut hal yang bersifat fisik, melainkan juga dalam penggalian ide, pandapat, maupun lainnya.   Kegiatan itu diberi sebutan jagong maton, atau mungkin saja artinya adalah  berbincang bersama  untuk  mencari solusi terhadap hal-hal yang berguna yang dilakukan secara bebas dan terbuka namun dilandasi oleh suasana kekeluargaan. Akhirnya, dari kunjungan itu saya berpendapat bahwa,  jika konsep  pesantren rakyat ini dipahami secara mendalam, dikembangkan, dan kemudian  diimplementasikan secara meluas,  maka kegiatan ini akan menjadi  kekuatan dan juga sebagai model pendekatan untuk membangun masyarakat.    Wallahu a’lam.  Oleh: Prof. Dr. Imam Suprayogo

https://www.facebook.com/notes/prof-imam-suprayogo/melihat-dari-dekat-kegiatan-pesantren-rakyat/351393335059998

1 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.