Pesantren Rakyat Uncategorized Mantan Rektor UIN Malang 16 Tahun Menulis Strategi Pesantren Rakyat: Mendekat Adalah Cara Terbaik Untuk Mempengaruhi Orang

Mantan Rektor UIN Malang 16 Tahun Menulis Strategi Pesantren Rakyat: Mendekat Adalah Cara Terbaik Untuk Mempengaruhi Orang

Rumusan judul tulisan ini kiranya sangat mudah dipahami,  dan memang seharusnya begitu. Kecil kemungkinannya orang yang berada di  tempat yang saling berjauhan  berhasil sang mempengaruhi. Jauh  yang dimaksud  bisa saja bermakna   fisik atau pun  non fisik . Orang yang secara fisik  berada di tempat yang saling berjauhan,  akan sulit  saling memahami,  dan apalagi mempengaruhi.  Begitu pula  jarak yang  bersifat  non fisik, misalnya adanya perbedaan pemikiran, emosi atau terkait  rasa akan menjadikan tidak mudah saling mempengaruhi.

Orang yang merasa jauh oleh karena tidak memiliki hubungan emosional,  atau juga tidak memiliki kesamaan pemikiran, kelompok, organisasi, dan lain-lain,  maka mereka tidak akan mudah  dipengaruhi.  Orang  dimaksud akan bertahan pada pendapat atau pikirannya sendiri. Siapapun yang  dianggap sebagai orang lain, atau orang yang berbeda,  akan diperlakukan  sebagai orang yang   tidak perlu didengarkan pendapatnya, juga  didekati, apalagi diikuti saran atau nasehatnya.

Oleh karena itu, cara terbaik mempengaruhi orang  lain  seharusnya adalah  dengan cara mendekat. Untuk mempengaruhi orang   NU, maka harus mendekati orang NU dan bahkan harus menjadi bagian dari organisasi itu.   Siapa saja  yang akan mempengaruhi orang Muhammadiyah, maka harus dekat dengan orang Muhammadiyah. Demikian pula,  siapapun yang bermaksud ingin mempengaruhi rakyat agar mereka memilih dirinya menjadi pemimpin, maka harus berusaha mendekat pada rakyat  yang diharapkan akan memilihnya itu.

Apa yang dilakukan oleh Ustadz Abdullah Sam,  ketika awal mula merintis pesantren rakyat di kampungnya, maka lulusan Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang ini berusaha melakukan pendekatan dengan masyarakat di sekeliling tempat itu. Sekalipun Ustadz   Abdullah sendiri  sebenarnya adalah kelahiran kampung yang akan dijadikan tempat pesantren rakyat, tetapi dia tetap sadar, bahwa jika tidak dilakukan pendekatan, maka programnya akan gagal.

Masyarakat Desa Sumber Pucung  sebenarnya sudah mengenal Ustadz Abdullah dengan baik. Sewaktu  belum meninggalkan kampung itu, dia dikenal sebagai anak  yang ulet dan mandiri. Sejak di SD,  Abdullah Sam  sudah berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri dengan berbagai cara halal yang bisa dilakukan. Keunikan anak santri  dari keluarga yang tidak terlalu istimewa itu menjadikan dia sejak kecil sudah dikenal oleh masyarakat lingkungannya. Kemandiriannya itu ternyata bertahan hingga ketika ia mengaji ke pondok pesantren, bahkan sampai berhasil menyelesaikan kuliah di Fakultas Psikologi UIN Malang.

Melihat latar belakang Ustadz Abdullah, yaitu  sebagai alumni pesantren dan juga sebagai  lulusan UIN, maka secara psikologis terasa kontras dengan masyarakat kampungnya sendiri, yang sehari-hari mereka itu menyukai bermain judi, meminum minuman keras, menjadi preman,  dan bahkan terbiasa dengan kehidupan prostitusi. Umpama  saja  kehadiran dan program Ustadz Abdullah Sam ditolak oleh masyarakat kampungnya sendiri adalah sangat  mudah dimengerti.  Tetapi, oleh karena   ia mampu melakukan  pendekatan secara tepat, sekalipun program pesantren rakyat terasa asing dan sangat kontras dengan kebiasaan masyarakat, maka  berhasil diterima.

Keberhasilan pesantren rakyat  tumbuh di tengah-tengah masyarakat, yang menurut akal sehat,  tidak akan mendukungnya adalah merupakan hasil  pendekatan yang dilakukan oleh Ustadz Abdullah sebagai perintis pesantren rakyat ini. Sehari-hari, dia tidak pernah membuat jarak dengan warga masyarakat,  sekalipun sadar bahwa dirinya sebagai seorang sarjana. Statusnya sebagai seorang alumni pesantren dan juga sarjana  itu justru dijadikan modal untuk lebih mendekat pada masyarakat. Bahkan, menurut pengakuannya,  sekalipun dikenal sebagai ustadz, ia sehari-hari selalu berpakaian dan berpenampilan sama dengan pakaian dan penampilan masyarakatnya.

Selain itu, masih dalam kaitannya untuk mendekati masyarakat, pada saat awal mendirikan pesantren, ia menggunakan  pengaruh orang-orang tertentu di kampungnya itu. Menurut Ustadz yang masih kelihatan  sangat muda ini,  sebagai upaya memperkenalkan keinginannya untuk  membangun pesantren rakyat, ia menghubungi semua komunitas masyarakat setempat melalui orang-orang yang dianggap berpengaruh tanpa kecuali, mulai dari pejabat pamong desa, hingga tukang becak dan bahkan pencopet.

Abdullah Sam tidak ingin bekerja sendiri. Para pemimpin kelompok masyarakat  yang berada di kampung itu terlebih dahulu didekati.  Berkali-kali  mereka itu  didatangi ataudisobo rumahnya, dihargai, diakui akunya, dan bahkan jika perlu, menurut  Ustdaz Abdullah,  jika harus disembah,  maka ia bersedia melakukannya. Berjuang,  menurut pengakuannya, dirasakan memang sulit, tetapi harus dilakukan. Selain itu, menurut keyakinannya, bahwa berjuang harus diikuti dengan berkorban,  dan prinsip itu juga dilakukannya.

Melalui berbagai pendekatan, sekalipun harus melewati waktu lama, akhirnya usaha itu berasil. Orang-orang yang disebut memiliki pengaruh di komunitasnya  akhirnya berpihak pada Ustadz Abdullah Sam. Selanjutnya, mereka yang lainnya akan mengikuti. Akhirnya, upaya memperkenalkan konsep pesantren rakyat   berhasil  mendapatkan  dukungan dari berbagai pihak. Pendekatan  itu semakin terasa hasilnya ketika pesantren rakyat sudah mulai berjalan dan  diapresiasi oleh banyak  orang, misalnya  lewat kunjungan  para pejabat dan orang-orang penting. Sekarang ini, pesantren rakyat terbukti telah  menjadi kekuatan pengubah masyarakat dan bahkan juga  sebagai kebanggaan warga kampung itu.

Proses memperkenalkan konsep pesantren rakyat itu tentu memelukan waktu lama, tahap demi tahap harus dilalui. Bahkan pada fase awal, Ustadz Abdullah Sam juga harus menggunakan strategi bagaikan seorang marketing. Misalnya, beberapa warga desa yang bisa dipercaya, pada setiap saat diminta untuk menyampaikan rasa syukur atas berdirinya pesantren rakyat kepada siapapun yang ditemui. Dengan selalu mendengar ucapan rasa syukur itu dimaksudkan agar orang-orang  kampung itu  mengenal dan menerima  berdirinya pesantren rakyat serta  mengikuti kegiatannya. Agar masyarakat tidak tercerabut dari akar budayanya,   penggagas pesantren ini tidak pernah mengubah tradisi lama yang dianggap baik. Misalnya, kesenian berupa gamelan jawa masih tetap dipertahankan. Demikian pula,  tradisi lain yang dianggap baik dan  menjadi milik warga kampung tetap dipelihara.

Maka, kata kunci  agar gagasan baru diterima oleh masyarakat, dan kemudian bahkan mendapatkan dukungan, maka harus disampaikan dengan cara yang tepat,  pemilik gagasan   harus bersedia mendekat, tidak  melawan tradisi,  adanya kesediaan untuk memahami, mengakui, menghargai, dan mencintai  orang lain. Sebaliknya,  tidak boleh dilakukan dengan cara menunjukkan benarnya sendiri, menakut-nakuti, menyalahkan orang lain, dan apalagi lewat ancaman atau bahkan kekerasan. Siapapun, ———-tidak terkecuali orang kampung,  pasti memiliki harga diri, mereka memerlukan akunya diakui, tidak mau dikritik atau disalahkan. Dengan demikian, kebaikan ternyata harus disampaikan dengan cara yang baik pula, ialah dengan cara mendekat itu. Ustadz  Abdullah Sam yang telah menggagas dan sekaligus mengembangkan   konsep pesantren rakyat ternyata sudah berhasil membuktikan atas kebenaran prinsip-prinsip dimaksud. Wallahu a’lam.

https://www.facebook.com/notes/prof-imam-suprayogo/mendekat-adalah-cara-terbaik-untuk-mempengaruhi-orang/352448138287851

 

1 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.