JURNAL KEMENDIKBUD: PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI PADA PESANTREN RAKYAT SUMBER PUCUNG MALANG

0
95

10432990_705480946233522_4261699053898830413_n

 

PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI PADA PESANTREN RAKYAT SUMBER PUCUNG MALANG

THE UTILIZATION OF INFORMATION AND COMMUNICATION TECHNOLOGY AT PESANTREN RAKYAT SUMBER PUCUNG MALANG

Oos M. Anwas

Pustekkom Kemdikbud

Jalan RE Martadinata Ciputat, Tangerang Selatan, Banten

e-mail: oos.anwas@kemdikbud.go.id

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol.21, No.3 Desember 2015

Terakreditasi LIPI Nomor: 639/AU3/P2MI-LIPI/07/2015

ISSN 0215-2673/ Hal. 207-343

Naskah diterima tanggal: 10/06/2015, Direvisi akhir tanggal: 25/10/2015, disetujui tanggal: 10/12/2015

Abstract: This study aimed at determining how the use of Information and Communication Technology in the Islamic Boarding School Al-Amin Malang, East Java. The study used a qualitative approach with descriptive methods. Data were collected through observation and interviews of leaders of schools, the students, local governments and communities around the schools. The data analysis used descriptive analysis. The results of this study revealed that although the infrastructure and application systems is still relatively limited, but the school leadership has a strong commitment to using Information and Communication Technology in schools. Infrastructure limitations overcome by optimizing of Information and Communication Technology availability equipment by each students and the community. Utilizing Information and Communication Technology, teaching religion to be dynamic and interesting, more diverse media and content (text, images, audio, video, animation, and simulation), the time and place for learning more fleksible, and the students are trained to develop content to be shared via the Internet. Similarly, the use of Information and Communication Technology can re-dynamize culture, and local wisdom (Jagong Maton) and empowerment (Posdaya) around schools. This study concluded that although the infrastructure is relatively limited but the school leadership has a strong policy and commitment to using Information and Communication Technology can be optimized.

Keywords: information and communication technology, Information and Communication Technology in Islamic Boarding School, Pesantren Rakyat

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Pesantren Rakyat Al-Amin Malang Jawa Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan dan wawancara terhadap pimpinan pesantren, para santri, pemerintah setempat, dan masyarakat sekitar pesantren. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian membuktikan bahwa walaupun secara infrastruktur dan sistem aplikasi masih relatif terbatas, pimpinan pesantren memiliki komitmen yang kuat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi di pesantren. Keterbatasan infrasruktur diatasi dengan mengoptimalkan produk Teknologi Informasi dan Komunikasi yang dimiliki masing-masing santri dan masyarakat. Melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi, pembelajaran agama menjadi dinamis dan menarik, media dan konten lebih beragam (teks, gambar, audio, video, animasi, dan simulasi), waktu dan tempat belajar lebih fleksibel, serta para santri dilatih membuat konten untuk berbagi melalui internet. Begitu pula pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dapat menggerakan kembali budaya dan kearifan lokal (Jagong Maton) serta pemberdayaan masyarakat (Posdaya) di sekitar pesantren. Studi ini disimpulkan bahwa walaupun secara infrastruktur relatif terbatas namun

207

 

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 21, Nomor 3, Desember 2015

kebijakan dan komitmen pimpinan Pesantren Rakyat sangat kuat sehingga pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dapat optimal.

Kata kunci: teknologi informasi dan komunikasi, teknologi informasi dan komunikasi  di pesantren, pesantren rakyat

 

PENDAHULUAN

Masyarakat masa kini umumnya sudah akrab menggunakan berbagai produk teknologi informasi dan komunikasi (TIK), bahkan sudah menjadi kebutuhan hidup dalam beraktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di perkotaan, melainkan juga ke pedesaan, bahkan di daerah-daerah terpencil. Secara khusus, anak-anak dan remaja generasi sekarang relatif cepat dan mahir menggunakan berbagai produk TIK (gadget). Oleh karena itu, generasi masa kini seringkali disebut generasi digital native terhadap TIK. Sayangnya pemanfaatan produk ini masih didominasi untuk keperluan hiburan, informasi, komunikasi, dan berbagai kegiatan kesenangan lainnya. Masih sedikit anak-anak yang memanfaatkan produk TIK untuk keperluan pendidikan/pembelajaran. Padahal jika dilihat dari keunggulan berbagai produk, TIK sangat potensial dimanfaatkan untuk membantu memecahkan masalah-masalah pendidikan, termasuk meningkatkan mutu pembelajaran.

Pemanfaatan TIK untuk pendidikan dan pembelajaran sebenarnya sudah banyak dilakukan, baik di dalam maupun di luar negeri. Sekolah-sekolah secara bertahap telah memanfaatkan TIK untuk pembelajaran. Hasil penelitian Kusnandar, Chaeruman, dan Kurniawati (2005) menunjukkan bahwa sekolah-sekolah rintisan TIK telah menggunakan edukasi.net melalui tiga pola yaitu pola penugasan oleh guru, presentasi, dan diskusi, serta praktikum di laboratorium. Satuan pendidikan atau sekolah (SD, SMP, SMA/SMK) yang tersambung ke internet sudah mencapai 66,09 persen atau 139.950 sekolah. Bahkan untuk provinsi di Pulau Jawa kecuali Provinsi Banten telah mencapai rata-rata di atas 80

persen (Kementerian Pendidikan dan Kebu-dayaan, 2014).

Seiring dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat, pengembangan dan pemanfaatan TIK untuk pendidikan tidak hanya dilakukan pada pendidikan formal, melainkan juga dilakukan pada lembaga pendidikan nonformal, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun yang dikembangkan atas inisiatif masyarakat. Pemanfaatan TIK pada pendidikan nonformal ini menjadi menarik untuk diteliti/dikaji dan dikembangkan, karena memiliki potensi yang luar biasa untuk membudayakan TIK pada masya-rakat. Di sisi lain, ranah pendidikan nonformal berpeluang memiliki berbagai model yang sangat beragam sesuai dengan kondisi, budaya, dan kemampuan masyarakat setempat.

Lembaga pendidikan nonformal yang sudah mengakar dalam masyarakat di antaranya adalah pondok pesantren. Pada era global pondok pesantren relatif sudah banyak yang meman-faatkan TIK untuk pendidikan dan pembelajaran, baik dalam bentuk web, pesantren online, dakwah melalui sms, dan media sosial, serta menjadikan TIK sebagai salah satu sumber belajar. Pesantren tersebut tidak terbatas pada pesantren modern melainkan juga pada pesantren tradisional (salafiah). Salah satu pesantren tradisional yang telah memanfaatkan TIK untuk pembelajaran santrinya adalah “Pesantren Rakyat Al-Amin” Sumber, Pucung Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pesantren rakyat Al-Amin Sumber Pucung relatif unik dan fenomenal. Dalam website profil pesantren rakyat dijelaskan bahwa pesantren ini didirikan di desa Sumber Pucung dengan misi “menyantrikan rakyat, menggunakan kurikulum ala rakyat, mengaji kebutuhan rakyat, per-ekonomian ala rakyat, pertemuan atau diskusi

 

208

 

Oos M. Anwas, Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi pada Pesantren Rakyat Sumber Pucung Malang

 

ala rakyat, pendidikan ala rakyat, menejemen ala rakyat, pakaian ala rakyat, pergaulan ala rakyat dan dalam berbagai aspek bidang kehidupan konsepnya selalu ala rakyat. Namun pesantren ini didasarkan dengan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan ajaran Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW serta para ulama terdahulu, baik dalam tataran syari’at, tharekat, hakikat atau ma’rifatnya” (pesantren rakyat, 2013). Keunikan lainnya yang dijelaskan dalam web tersebut bahwa dalam pembelajaran menggu-nakan berbagai metode, budaya, kearifan lokal, pemberdayaan masyarakat.

Keunikan dan fenomena pesantren tersebut mengundang banyak para akademisi dan peneliti untuk meneliti dengan fokus dan sudut pandang berbeda-beda. Yahya (2014) melakukan penelitian pada Pesantren Rakyat dengan fokus pada pembelajaran pendidikan Islam yang dilakukan melalui seni budaya. Mufidah (2012) melakukan penelitian pada pesantren rakyat dengan fokus pada perhelatan tradisional kolaboratif kaum abangan dengan kaum santri pinggiran. Bachtiar (2012) melakukan penelitian di pesantren rakyat dengan fokus pada upaya pendidikan Islam dan potensi penyebaran dakwah melalui model pesantren. Thoifah (2013) melakukan penelitian di pesantren rakyat dengan fokus pada pengajaran kitab-kitab Islam klasik dan aktivitas di pondok dan masjid. Taufik (2012) melakukan penelitian pada pesantren rakyat dengan fokus pada konstruksi dan akomodasi pesantren terhadap budaya masyarakat.

Penelitian yang lebih fokus terhadap pemanfaatan TIK di pesantren rakyat belum pernah ada yang melakukan. Padahal pesantren rakyat ini walaupun lokasinya di pedesaan, serta secara infrastruktur TIK masih relatif sederhana tetapi sudah memanfaatkan TIK untuk pem-belajaran para santrinya. Di sisi lain, penelitian pemanfaatan TIK di pesantren masih relatif jarang dilakukan. Permasalahannya adalah bagaimana pemanfaatan TIK untuk pembe-lajaran di Pesantren Rakyat Al-Amin. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui

pemanfaatan TIK di Pesantren Rakyat Al-Amin, terutama aspek kebijakan pimpinan pesantren, infrastruktur TIK yang digunakan, konten TIK, serta sistem pemanfaatannya dalam pem-belajaran di pesantren. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat terutama dalam memperkaya model pemanfaatan TIK pada lembaga pendidikan khususnya pesantren. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi dan inspirasi khususnya bagi para pimpinan lembaga pendidikan dalam men-dayagunakan TIK untuk pendidikan dan pembelajaran yang sesuai dengan budaya dan kearifan lokal masyarakat.

KAJIAN LITERATUR TIK dalam Pembelajaran

TIK merupakan perangkat yang terkait dengan pengolahan dan pengiriman berbagai pesan/ informasi termasuk pesan pendidikan. TIK dalam hal ini tidak hanya terbatas pada komputer dan internet saja, melainkan semua jenis media informasi dan komunikasi baik yang berbasis online, offline, ataupun broadcash. Begitu pula konten TIK memiliki keragaman, yaitu berbasis teks, gambar, audio, video, animasi, dan simulasi.

Hasil-hasil penelitian tentang pemanfaatan TIK untuk pendidikan/pembelajaran umumnya menunjukkan hasil yang positif. Penelitian yang dilakukan oleh Ahmad (2010) bahwa multimedia (berbasis komputer) efektif digunakan sebagai media pembelajaran. Mujib (2013) melakukan penelitian terhadap siswa SMA di Yogyakarta, hasilnya menunjukkan terdapat hubungan yang kuat antara penggunaan internet sebagai media pembelajaran dengan hasil belajar yang dicapai oleh para siswa. Penelitian lainnya dilakukan Samsuddin, Rahman, Asfah, Najib (2013) menunjukkan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan dari pemanfaatan e-learning moodle terhadap motivasi belajar dan hasil belajar pada mata pelajaran Matematika di SMK Negeri 5 Makassar. Begitu pula hasil penelitian Nurcahili (2010) menunjukkan bahwa media pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi

 

209

 

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 21, Nomor 3, Desember 2015

 

dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil-hasil penelitian yang dilakukan di Indonesia tersebut memberikan optimisme positif penggunaan TIK untuk pembelajaran, termasuk di lingkungan pesantren.

Komponen Pemanfaatan TIK di Sekolah Pendayagunaan TIK untuk pendidikan menurut Anwas (2013) minimal harus memperhatikan empat aspek, yaitu kebijakan, infrastruktur, konten, dan sistem pemanfaatan. Secara lebih rinci Anwas (2013) menegaskan bahwa aspek kebijakan merupakan bentuk komitmen dan realisasi dari para pengambil kebijakan termasuk pimpinan lembaga pendidikan (rektor, dekan, ketua, kepala sekolah, pimpinan pesantren) dalam pemanfaatan TIK untuk pendidikan. Realisasinya dapat berupa peraturan, program kerja, dukungan anggaran, partisipasi, kerja sama, atau bentuk lainnya.

Infrastruktur adalah dukungan perangkat baik hardware maupun software dalam pemanfatan TIK tersebut. Bentuk infrastruktur misalnya antene parabola, pesawat televisi, LAN, sambungan internet, sambungan listrik, wifi, komputer, laptop, berbagai produk gadget, dan lain-lain. Infrastruktur ini seringkali menjadi kendala utama lemahnya pemanfaatan TIK untuk pendidikan. TIK memerlukan dukungan inftrastruktur yang memadai, apalagi yang berbasis internet.

Konten TIK merupakan substansi pem-belajaran bagi guru dan peserta didik. Konten TIK ini ada yang dirancang secara khusus untuk pembelajaran (by design), seperti yang dikembangkan oleh Pustekkom Kemdikbud. Di sisi lain ada konten TIK yang tidak dirancang secara khusus, tetapi dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran (by utilization). Jenis konten tersebut jumlahnya sangat banyak dan mudah didapatkan terutama dalam media massa (internet). Jenis konten TIK yang dapat di-gunakan untuk pembelajaran dapat berbentuk teks atau tulisan, gambar/foto, audio, video, animasi, dan simulasi.

Pemanfaatan TIK meliputi SDM pengguna (user) dan pengelola. Pengguna TIK dalam lembaga pendidikan yang meliputi peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan dituntut untuk memiliki kesadaran dan kemampuan dalam penggunaan TIK secara tepat. Begitu pula pengelola TIK dalam lembaga pendidikan di-tuntut untuk mendukung pemanfaatan TIK secara efektif baik dalam aspek regulasi atau kebijakan, infrastruktur, sistem aplikasi, hingga konten yang diperlukan. Pengembangan SDM dalam pemanfaatan hendaknya diarahkan untuk mengubah budaya, budaya TIK sebagai bagian integral dalam proses pembelajaran. Kedua kelompok SDM tersebut sama-sama perlu dibina secara bertahap, mulai dari ada kesadaran, ketertarikan, kemauan, hingga ada kemampuan dan menjadikan budaya dalam menggunakan TIK untuk keperluan pendidikan dan pembelajaran.

Tahapan Pemanfaatan TIK Pemanfaatan TIK pada lembaga pendidikan seperti sekolah dan pesantren perlu dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Hal ini didasarkan pada kesiapan infrastruktur, SDM, dan komponen lainnya pada masing-masing lembaga tersebut. Dalam hal ini UNESCO (2009) mengklasifikasikan empat tahapan pembelajaran berbasis TIK. Tahap pertama, merupakan tahap pemula/awal atau disebut tahap emerging, dimana guru dan siswa baru mencoba mengenali fungsi belajar menggunakan berbagai tools dan aplikasi dan kegunaan perangkat TIK. Sistem pembelajaran masih konvensional, akan tetapi sudah ada kesadaran terhadap potensi TIK dalam pendidikan. Tahap ini menekankan pada kemelekan TIK (ICT literacy) dan keterampilan dasar. Tahap kedua adalah tahap applying. Tahap ini bercirikan bahwa lembaga pendidikan sudah memiliki pemahaman dan upaya mene-rapkan TIK dalam pembelajaran dengan peserta didik. Lembaga pendidikan juga sudah meman-faatkan piranti lunak TIK dalam aspek manajemen.

Tahapan ketiga adalah infusing. Pada tahap ini lembaga pendidikan sudah mulai meng-

 

210

 

Oos M. Anwas, Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi pada Pesantren Rakyat Sumber Pucung Malang

 

integrasikan TIK ke dalam kurikulum. Kurikulum mulai menggabungkan materi pembelajaran dengan dunia nyata. Begitu pula lembaga pendidikan telah menerapkan teknologi berbasis komputer di laboratorium, kelas, dan bagian administrasi. Tahap keempat adalah transform­ing. Pada tahap ini lembaga pendidikan telah mengintegrasikan semua kegiatan pembelajaran dan kegiatan administrasi sehari-hari dengan TIK. Pembelajaran berpusat pada peserta didik (learner-centered) dan mengintegrasikan mata pelajaran dengan dunia nyata. Dalam tahapan ini TIK sudah menjadi bagian alami dari kehidupan lembaga pendidikan. Dengan kata lain pemanfaatan TIK sudah menjadi budaya pembelajaran dengan hasil yang optimal, begitu pun kegiatan administrasi pada lembaga pendidikan tersebut sudah mengoptimalkan potensi TIK.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan langsung di lokasi pesantren yaitu di Pondok Pesantren Rakyat Al-Amin Desa Sumber Pucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan pengamatan langsung di lapangan baik saat proses pembelajaran maupun aktivitas santri, serta pengamatan terhadap kegiatan pondok pesantren dan kehidupan masyarakat di sekitar pesantren.

Untuk mendapatkan data yang akurat, dilakukan triangulasi data terhadap berbagai sumber data di lapangan. Sumber data adalah pimpinan pondok pesantren, santri-santri, orangtua santri, pemerintah setempat, dan tokoh masyarakat setempat. Pengumpulan data ini dilakukan pada bulan Februari 2015. Untuk melengkapi data, dilakukan juga studi dokumentasi melalui data dalam website, publikasi pesantren rakyat dan hasil-hasil studi yang dilakukan para akademisi dan peneliti di pesantren rakyat sebelumnya. Analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang

tersedia dari berbagai sumber, kemudian mereduksi data, menyusun dalam satuan-satuan sesuai dengan tujuan penelitian, serta penafsiran data yang dijelaskan dalam bentuk deskripsi hasil dan pembahasan penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Pesantren Rakyat Pesantren Rakyat Al-Amin didirikan tahun 2008 oleh Ustadz Abdullah. Lokasi pesantren ini tepatnya di desa Sumber Pucung Kabupaten Malang. Sebuah desa yang berbatasan langsung antara Kabupaten Malang dengan Kabupaten Blitar Provinsi Jawa Timur. Lokasi pesantren ini berada di sebelah selatan sekitar 300 meter stasiun Kereta Api Sumber Pucung Kabupaten Malang.

Sebelum pesantren didirikan, menurut kepala dusun Sumber Pucung, kehidupan masyarakat sekitarnya relatif heterogen, mulai dari pekerjaan, latar belakang pendidikan, agama, budaya, dan juga kebiasaan sehari-hari. Masalah-masalah sosial juga banyak ditemukan, misalnya perjudian, pengangguran, bahkan prostitusi dan berbagai bentuk kemungkaran lainnya.

Kondisi tersebut yang mendorong Ustadz Abdullah untuk mendirikan pondok pesantren. Menurut alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Maliki Malang jurusan Psikologi ini, tujuan mendirikan pesantren adalah “Mewujudkan dakwah akhlaq dan aqidah Islamiyah ala Ahlussunnah Wal Jama’ah khususnya bagi masyarakat termajinalkan sehingga kehi-dupannya dapat meningkat dan sejahtera”. Misi pesantren rakyat adalah memberikan layanan pendidikan gratis tetapi tetap berkualitas. Sasaran utama pesantren ini adalah anak-anak jalanan, anak-anak dari keluarga kurang mampu, termasuk keluarga mantan lokalisasi, serta masyarakat di sekitar pesantren.

Ustadz yang sering dipanggil “Cak Dul” ini menegaskan bahwa lembaga pendidikannya tidak memungut biaya atau semua santrinya digratiskan. Biaya operasional pendidikan setiap bulan sekitar tujuh sampai sepuluh juta rupiah.

211

 

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 21, Nomor 3, Desember 2015

 

Biaya tersebut diperoleh dari honor yang ia terima setelah memberikan ceramah ketika ada yang mengundangnya oleh masyarakat. Dalam perkembangannya beberapa pihak yang sifatnya tidak mengikat, memberikan sumbangan secara sukarela. Setiap sumbangan tersebut dicatat, termasuk catatan pengeluaran sehingga penggunaan dana sumbangan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

Ustadz Abdullah dikenal sebagai ustadz yang serba bisa. Ia mampu memberikan ceramah dengan gaya yang menarik, berdakwah melalui wayang kulit, memainkan berbagai alat musik tradisional seperti Jagong Maton, memberikan konsultasi keagamaan dan berbagai kegiatan sosial, serta aktif melakukan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan. Ustadz Abdullah semakin dikenal oleh masyarakat sekitar Malang dan Jawa Timur setelah mendirikan lembaga pemberdayaan masyarakat yang disebut Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) Al-Amin. Posdaya ini didirikan sebagai forum komunikasi dan pemberdayaan masyarakat di sekitar pesan-trennya. Posdaya ini juga mendapat pembinaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang dan Yayasan Damandiri Jakarta. Prestasi yang diraih dari Posdaya Al-Amin, tahun 2014 mendapatkan juara pertama Lomba Posdaya Tingkat Nasional, mengalahkan sekitar 40 ribu Posdaya di seluruh Indonesia.

Santri yang belajar (mondok) di pesantren rakyat umumnya berasal dari kalangan keluarga kelas menengah ke bawah. Kelompok santri tersebut dapat digolongkan dalam beberapa kategori, yaitu santri usia Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Santri Inti, Santri Kalong, dan Santri Pendukung. Kategori santri usia PAUD berjumlah 38 siswa. Mereka belajar dengan sistem PAUD. Pendidikan PAUD ini mencapai prestasi sebagai PAUD terbaik di wilayahnya. Adapun keunggulannya antara lain menjaga nilai-nilai tradisi, permainan tradisional, pendidikan berbasis alam, keteladanan guru, serta dalam pembelajaran menggunakan TIK. Tingkat

pendidikan bagi tenaga pendidik PAUD semua memiliki kualifikasi yang mumpuni, bahkan ada yang bergelar magister. Secara infrastruktur, PAUD ini masih relatif terbatas dan lebih banyak menggunakan alat permainan edukatif alami yang tersedia di sekitar pesantren.

Santri Inti adalah santri yang menginap (mukim) di pesantren, jumlahnya ada 15 orang. Santri mukim ini berasal dari berbagai wilayah di sekitar Jawa Timur. Santri Kalong adalah santri yang rumahnya ada di sekitar pesantren. Mereka datang ke pesantren umumnya saat tiba waktu belajar. Jumlah Santri Kalong sebanyak 50 orang, sedangkan Santri Pendukung adalah masyarakat yang tinggal di sekitar pesantren. Masyarakat ini aktif mendukung berbagai kegiatan pesantren. Kegiatan yang diikuti masyarakat tersebut di antaranya adalah mengikuti pengajian, mengikuti acara Jagong Maton (forum diskusi masyarakat yang dikemas dalam musik gamelan Jawa dan wayangan), serta masyarakat yang aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat yang diwadahi dalam Posdaya Al-Amin yang dipimpin oleh Ustadz Abdullah. Semua kategori santri tersebut saling mendukung dan memajukan proses pendidikan di Pesantren Rakyat Al-Amin.

Kebijakan Pimpinan dan Infrastruktur TIK Pondok Pesantren Rakyat Al-Amin dipimpin dan sekaligus didirikan oleh Ustdaz Abdullah. Hasil wawancara mendalam dengan Ustadz Abdullah dan beberapa responden lainnya, bahwa Ustdaz Abdullah memiliki visi dalam mendidik santrinya. Ia sadar bahwa tantangan anak didiknya ke depan harus mampu bersaing tidak hanya pada tataran lokal di wilayah Jawa Timur, melainkan juga nasional dan global. Mendirikan pesantren ini, walupun lokasinya berada di desa, Ustdaz Abdullah memiliki visi dan pemikiran global. Harapannya bahwa semua santri yang belajar di Pesantren Rakyat ini tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. Umat Islam khususnya para santrinya harus memiliki pengetahuan, wawasan, dan cara berpikir global. Oleh karena itu, semua santri harus dibiasakan belajar

 

212

 

Oos M. Anwas, Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi pada Pesantren Rakyat Sumber Pucung Malang

 

dengan berbagai sumber belajar, termasuk menggunakan TIK.

Keterbatasan dana, sarana, dan infra-struktur TIK tidak menjadi halangan bagi pesantren rakyat untuk memanfaatkan TIK dalam pembelajaran. Hal ini terlihat dari kondisi ketersediaan infrastruktur TIK yang relatif terbatas dibandingkan dengan pemanfaatannya yang cukup efektif. Hasil pengamatan dan wawancara dengan pengurus pesantren, infrastruktur yang dimiliki pesantren relatif terbatas, yaitu laptop ada dua unit, satu unit LCD, satu unit kamera, sound system dan wareless masing-masing satu unit, serta satu set perangkat stasiun radio FM. Pesantren berlangganan internet menggunakan kekuatan 1,5 MB. Internet ini kemudian disambungkan dan didistribusikan dengan wifi. Melalui fasilitas internet (wifi), para santri dapat mengakses internet secara gratis, bahkan tanpa menggu-nakan password. Begitu pula masyarakat di sekitar pesantren bisa mengakses internet. Menurut Ustadz Abdullah, penggunaan wifi secara gratis tanpa password ini sengaja dirancang untuk memudahkan para santri dan masyarakat sekitar dalam memanfaatkan internet. Upaya ini juga dimaksudkan untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur/perangkat TIK yang dimiliki pesantren. Perangkat TIK yang dimiliki oleh para santri dan masyarakat, seperti handphone, smartphone, laptop, dan seje-nisnya secara optimal dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran di pesantren tersebut. Melalui perangkat TIK pribadi tersebut, para santri dapat berkomunikasi dan mengakses berbagai konten pembelajaran yang disajikan pihak pesantren dan konten lainnya yang tersedia dalam internet.

Sistem aplikasi yang dimanfaatkan dalam mengoptimalkan TIK masih sederhana, yaitu memanfaatkan jejaring sosial facebook. Facebook ini terutama ditujukan bagi komunitas santri dan masyarakat sekitar. Para santri didorong untuk memiliki acount facebook serta bergabung dengan facebook Pesantren Rakyat. Facebook   ini   berfungsi   sebagai   wahana

komunikasi internal terutama antarsantri, mentor, dan juga ustadz. Untuk komunikasi dengan pihak luar, lebih banyak menggunakan web Pesantren Rakyat. Pembuatan web ini menggunakan alamat pesantrenrakyat.com. Jika memperhatikan web ini, sudah ada kemajuan karena bukan menggunakan web gratis tetapi menggunakan web institusi resmi dan berbayar. Walaupun dalam desain web masih menggu-nakan template standar yang tersedia pada internet, tidak menggunakan desain dengan programmer khusus.

Facebook dan web pesantren rakyat juga berfungsi sebagai media pembelajaran. Sebagian materi-materi pembelajaran di-share melalui media ini. Beberapa tugas yang diberikan oleh ustadz dan mentor seringkali menggunakan fasilitas media ini. Para santri nampak semangat menggunakan media ini, sebagai bentuk kemudahan dan adanya variasi dalam belajar di pesantren. Begitu pula para santri dengan senang memanfaatkan fasilitas ini untuk bertanya dan berdiskusi dengan mentor dan santri lainnya yang terkait dengan pembelajaran atau kegiatan lainnya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Darmawan (2013) bahwa media sosial seperti facebook menjadi salah satu daya tarik dalam pembelajaran terutama dalam bimbingan virtual mahasiswa, bahkan dengan media ini menjadikan adanya variatif bahasan yang mendukung terhadap efektivitas pem-belajaran. Umumnya para santri yang terdiri dari usia anak-anak dan remaja menyukai model pembelajaran agama dengan menggunakan internet melalui handphone, smartphone atau jenis tablet lainnya ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan TIK adalah sesuai dengan realitas tuntutan generasi masa kini yang sering disebut sebagai generasi digital native, termasuk pembelajaran di pesantren.

Jika memperhatikan kondisi sarana, infrastruktur, serta sistem aplikasi TIK yang relatif terbatas pada pesantren rakyat ter-sebut, mematahkan hasil penelitian dan anggapan sebelumnya yang menyatakan bahwa pemanfaatan   TIK   untuk   pendidikan   dan

213

 

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 21, Nomor 3, Desember 2015

 

pembelajaran sangat bergantung kepada kelengkapan dukungan infrastruktur yang dimiliki oleh institusi yang bersangkutan. Keterbatasan infrastruktur seringkali dijadikan alasan tidak memanfaatkan TIK dalam pembelajaran. Kondisi tersebut tergambar dari hasil penelitian Syukur (2012) menyatakan bahwa kesulitan guru-guru di sekolah dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pembelajaran salah satu penyebabnya adalah faktor keter-batasan sarana dan prasarana (infrastruktur) TIK. Begitu pula dalam pendidikan nonformal, hasil penelitian Anwas (2009) menunjukkan bahwa para penyuluh pertanian sangat kurang memanfaatkan media internet untuk mening-katkan kompetensinya (pembelajaran) di-sebabkan karena keterbatasan infrastruktur media ini. Namun dalam penelitian ini, keter-batasan sarana dan prasarana atau infrastruktur TIK dalam lembaga pendidikan (pesantren) bisa diatasi dengan kebijakan, niat, dan komitmen yang kuat dari pimpinan, guru, ustadz, dan peserta didik untuk mengoptimalkan peman-faatan TIK untuk pembelajaran. Artinya walaupun infrastruktur terbatas, tetapi pimpinan memiliki kebijakan dan komitmen yang kuat, maka keterbatasan itu dapat dipecahkan sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh peserta didik dan lembaga pendidikan tersebut.

Konten TIK dan Pemanfaatannya Seperti halnya kegiatan dalam pesantren Salafi, kegiatan santri di pesantren rakyat setiap sore hari adalah kegiatan belajar membaca Al-Quran. Melatih membaca Al-Quran juga sering dibantu oleh konten audio dan video yang diperoleh dari internet. Para santrinya sebagian besar adalah anak-anak usia sekolah (PAUD, SD, SMP, dan SMA) yang berasal dari sekitar pesantren. Untuk memudahkan proses pembelajaran dan mem-bentuk tanggung jawab antarpara santri, setiap santri secara hirarkhi memiliki tutor dan asuhannya. Fungsi tutor ini adalah membimbing asuhannya. Jika santri dihadapkan pada kesulitan/permasalahan pembelajaran, dapat bertanya langsung kepada tutornya. Apabila

tutor yang bersangkutan tidak bisa memecahkan masalah tersebut maka harus bertanya ke santri yang lebih tinggi/senior, hingga akhirnya kepada pimpinan pesantren yaitu Ustadz Abdullah. Sistem ini, dibangun untuk melatih dan mem-biasakan tanggungjawab dan menanamkan jiwa kepemimpinan. Selain itu, setiap santri yang lebih senior dituntut memiliki penguasaan materi pembelajaran dan aspek-aspek lainnya terhadap asuhannya, sehingga dapat memacu motivasi terus belajar secara berkelanjutan.

Kegiatan pembelajaran setiap malam setelah shalat Isya, belajar tentang tajwiz, belajar nahu shorof, qiroat, ahlaq (malam Jumat), belajar bahasa Inggris dan bahasa Arab. Setiap hari Sabtu sore dan Minggu siang diselenggarakan kampung Inggris dan Kampung Arab. Kampung Inggris artinya pada waktu yang disepakati semua santri wajib berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Begitu pula ketika tiba waktu Kampung Arab, maka semua santri wajib berbicara menggunakan bahasa Arab. Adanya kampung Arab dan Inggris ini dirasakan cukup efektif untuk melatih dan membiasakan para santri dalam berkomunikasi bahasa asing tersebut. Melatih bahasa asing ini juga sangat dibantu oleh konten video dan audio yang mereka peroleh dari internet. Hari Sabtu dan Minggu juga para santri belajar menggunakan berbagai aplikasi TIK, misalnya membuat file dokumenter, adove premier, membuat bahan presentasi dengan aplikasi power point, dan sistem aplikasi lainnya.

Konten TIK untuk pembelajaran yang digunakan pada pesantren ini diperoleh dari internet terutama konten-konten yang bersifat terbuka (open). Konten TIK tersebut adalah yang berkaitan dengan pembelajaran di pesantren. Konten-konten tersebut diperoleh melalui pencarian dalam berbagai search engine, antara lain: google, yahoo, youtube, web beberapa pesantren, dan sumber lainnya. Jenis konten TIK yang digunakan meliputi konten yang berbasis teks, gambar/foto, audio, video, animasi, dan simulasi. Untuk memudahkan pemanfaatan konten, dibentuk “Tim Pencari

 

214

 

Oos M. Anwas, Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi pada Pesantren Rakyat Sumber Pucung Malang

 

Konten”. Anggota tim ini terdiri dari santri senior yang berjumlah tiga orang yaitu sdr. Candra, Gafur, dan ustadz H Abdullah. Konten yang dibutuhkan dan terkait dengan pesantren di antaranya tata cara belajar membaca Al Qur’an, bahasa Arab, bahasa Inggris, ahlak dan perilaku, permainan anak-anak PAUD, informasi yang terkait dengan kemajuan pesantren, serta ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya.

Konten-konten yang telah berhasil di-kumpulkan oleh tim tersebut, selanjutnya disimpan dalam laptop atau hardisk sebagai bahan untuk pembelajaran. Sebagian konten, terutama yang berbasis teks diolah kembali dan disebarluaskan melalui facebook pesantren untuk dimanfaatkan para santri. Konten yang berbasis audio, video, animasi, dan simulasi dimanfaatkan pada saat proses pembelajaran di pesantren dengan cara disajikan melalui bantuan LCD/ in-fokus, disorotkan langsung ke tembok berwarna putih (tanpa menggunakan layar). Para santri sangat antusias dan tertarik untuk belajar dengan konten-konten pembelajaran yang berbasis video ini. Mereka dapat belajar lebih bergairah, belajar lebih bervariasi, serta memudahkan mereka dalam memahami materi pembebelajaran. Begitu pula bagi Ustadz Abdullah dan para mentor, penggunaan konten TIK sangat membantu tugas mereka dalam membimbing dan membina para santri.

Konten TIK yang digunakan juga tidak hanya yang terkait dengan pembelajaran pesantren, tetapi informasi tentang pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan, berita-berita dunia internasional, termasuk yang berbahasa asing yang selanjutnya diter-jemahkan dan dilaporkan sebagai bahan dan pengetahuan para santri, kemudian dise-barluaskan lewat media sosial facebook. Informasi ini sangat menginspirasi santri. Menurut ustadz Abdullah, hal ini dilakukan supaya para santri dan masyarakat sekitar walaupun berlokasi di perkampungan, dapat memiliki wawasan dan cara berpikir yang luas dan global. Kondisi ini merupakan sebuah tuntutan zaman, sehingga para santri dan umat

Islam di masa mendatang bisa hidup eksis sesuai dengan perkembangan zaman yaitu zaman teknologi informasi dan komunikasi.

Pencarian konten berbasis pada search engine yang populer di masyarakat seperti google, yahoo, dan youtube. Informasi konten lokal yang disajikan di luar search engine tersebut masih sangat kurang dipahami mereka. Misalnya konten lokal yang khusus mengenai pendidikan baik berbasis teks, audio, maupun video yang dikembangkan oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan masih belum diketahui oleh mereka. Ketika didemontrasikan alamat belajar.kemdikbud.go.id, tve.kemdikbud. go.id, dan suaraedukasi.kemdikbud.go.id yang menyajikan konten TIK berbasis web, video, dan audio yang dirancang secara khusus (by design) untuk pembelajaran dari tingkat PAUD, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi, tim pencari konten pesantren rakyat ini sangat terkagum-kagum. Mereka merasa senang dan sangat terbantu dengan adanya informasi tersebut, sehingga menambah gairah untuk lebih aktif memanfaatkan konten TIK yang dibutuhkan oleh para santri tersebut. Kondisi ini menunjukkan pengelola konten TIK perlu mencari berbagai sumber website lain yang menyediakan konten TIK, terutama konten lokal yang relevan dengan tuntutan pembelajaran di pesantren.

Kebijakan pimpinan pesantren bahwa penggunaan wifi digratiskan. Para santri sering memanfaatkan wifi untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh ustadz dan mentornya melalui hp-nya masing-masing. Sebagian besar para santri juga mengikuti sekolah formal (SD, SMP, SMA, bahkan ada yang sudah di perguruan tinggi). Para santri ini juga memanfaatkan Wifi pesantren untuk mengerjakan tugas-tugas dari sekolahnya masing-masing.

Semua santri didorong untuk menggunakan TIK sebagai media pembelajaran. Mereka juga tidak sekedar aktif menggunakan konten TIK yang telah ada di internet, tetapi didorong untuk aktif berlatih dan dibiasakan membuat konten sendiri. Pembiasaan membuat konten TIK ini

215

 

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 21, Nomor 3, Desember 2015

 

dilakukan melalui kegiatan menulis tentang membuat laporan setiap kegiatan di pesantren, merangkum materi yang disampaikan ustadz, membuat rangkuman hasil kegiatan Jagong Maton, atau mengerjakan tugas-tugas. Semua bentuk tulisan hasil karya santri tersebut selanjutnya di-upload melalui media sosial facebook atau melalui web pesantren yang dilakukan oleh santri yang bersangkutan. Hasil karya para santri yang di-upload lewat internet tersebut dapat dimanfaatkan oleh komunitas santri dan juga masyarakat luas. Pemanfaatan web ini memang masih terbatas sebagai media komunikasi. Sebagai tahap awal kondisi tersebut sudah baik. Tahap selanjutnya optimalisasi web ini dapat dikembangkan untuk menyajikan bahan-bahan pembelajaran, tugas-tugas santri yang dirancang oleh ustadz dan timnya, sehingga para santri dapat belajar berbasis internet (online). Pemanfaatan web untuk pembelajaran ini memberikan harapan positif. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Irwan, Astra, Fauzi (2012) bahwa penerapan penilaian portofolio online web based learning berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa SMA.

Untuk mendukung kegiatan dakwah dan pembelajaran santri, pesantren rakyat juga telah merintis stasiun radio FM yang diberi nama “Radio Pesantren Rakyat”. Walaupun stasiun radio ini dalam rintisan dan izinnya masih dalam proses, tetapi sudah mengudara mulai pukul 05.00 s.d. 02.00 WIB. Studio radio dipancarkan dari lantai dua pesantren dengan kondisi bangunan dan peralatan yang relatif masih sederhana. Menurut beberapa penyiarnya, seperti suadara Aditya Yogie, radio pesantren rakyat FM ini menyiarkan berbagai acara, antara lain pengajian, Jagong Maton, ceramah, lawak, berbagai acara diskusi keagamaan, dan siaran kunjungan tamu pesantren. Radio ini secara khusus menyiarkan acara-acara di pesantren secara live, antara lain kegiatan ceramah, pengajian, acara Jagong Maton, diskusi, dan lainnya. Radio ini juga menyiarkan lagu-lagu pop untuk remaja, campursari, kartolo, dan juga acara hiburan lokal lainnya.

Radio Pesantren Rakyat juga memberikan pengetahuan dan wawasan kepada masyarakat sekitar terkait dengan amaliah keagamaan, informasi pesantren, berbagai informasi pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan, serta menjadi media syiar dan forum komunikasi masyarakat. Manfaat lain dari siaran radio ini adalah santri yang tidak bisa datang ke pesantren bisa mengikuti berbagai kegiatan yang dilaksanakan pesantren. Pengelola dan penyiar radio adalah para santri inti, yaitu santri yang bermukim di pesantren. Mereka didorong untuk bisa mengoperasikan radio, menjadi penyiar radio, atau menjadi reporter ketika ada tamu-tamu yang berdatangan. Adapun kelemahan yang dirasakan para pengelola radio ini adalah belum ada izin operasional, keterbatasan infrastruktur, serta keterbatasan SDM yang terlatih dalam pengelolaan stasiun radio. Selain itu dengan adanya fasilitas internet, pesantren rakyat dapat mengem-bangkan radio streaming (internet), sehingga jangkauan siaran dapat lebih luas dan efisien. Faktor komitmen pimpinan pesantren dan semangat para santri sebagai kekuatan utama dalam mengoperasikan radio pesantren rakyat ini sangat perlu dipertahankan dan terus ditingkatkan.

Kehadiran TIK pada lembaga pesantren rakyat ini secara nyata telah mengubah budaya belajar para santri di pesantren. Belajar pada pesantren tradisional/salafi biasanya bergantung pada sumber belajar, yaitu Sang Kiai dan Kitab Kuning. Kehadiran TIK menunjukkan bahwa para santri dapat belajar dengan aneka sumber. Para santri tidak hanya belajar bersama ustadz saja, melainkan juga belajar melalui berbagai sumber belajar di internet, melalui siaran radio, bahkan mengoptimalkan santri senior dan masyarakat setempat menjadi sumber belajar. Begitu pula konten pembelajaran menjadi beragam, tidak hanya berbasis teks atau huruf, tetapi dapat berupa audio, gambar/foto, video, animasi, bahkan simulasi. Waktu dan tempat belajar juga menjadi lebih fleksibel. Bagi santri yang tidak menginap (santri kalong) jika berhalangan

 

216

 

Oos M. Anwas, Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi pada Pesantren Rakyat Sumber Pucung Malang

 

datang ke pesantren, dapat tetap belajar di rumahnya melalui siaran radio dan melalui internet. Santri dapat belajar secara fleksibel, kapan saja setiap ada kesempatan. Komitmen pimpinan dalam pemanfaatan TIK sangat penting. Pembelajaran agama menjadi dinamis dan menarik khususnya bagi anak-anak muda. Ini terkait dengan pemanfaatan gadget yang sesuai dengan tuntutan generasi masa kini (digital native). Keterbatasan intrastruktur bukan merupakan halangan dalam pemanfaatan TIK. Keterbatasan infrastruktur bisa diatasi dengan mengptimalkan infrastruktur yang dimiliki para santri dan masyarakat setempat. Para santri dilibatkan secara aktif dalam pemanfaatan TIK, mulai dari mencari konten, dibiasakan membuat konten, dimulai dari konten relatif sederhana (berbasis teks), serta melakukan berbagi konten karya santri melalui internet. Kondisi ini merupakan sebuah lompatan kemajuan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan zaman pada lingkungan pesantren tradisional.

Jagong Maton dan Pemberdayaan Masyarakat

Jagong Maton merupakan bentuk kesenian tradisional masyarakat sekitar pesantren yang menjadi andalan bagi pesantren rakyat. Kesenian ini menggunakan alat musik seperti kendang, gong, dan satu set perangkat gamelan Jawa. Musik yang dimainkan mirip dengan musik dangdut ini diiringi berbagai lagu-lagu Jawa yang liriknya diubah dengan lagu-lagu yang bernafaskan Islam, salawat nabi, termasuk berbagai nasihat-nasihat kearifan lokal Jawa. Bermain musik Jagong Maton ini dipimpin oleh Ustadz Abdullah yang berpesan sebagai dalang, serta diiringi peserta dan penonton dari berbagai lapisan masyarakat sekitar pesantren.

Ritme Jagong Maton meliputi bermain musik, diskusi, musik lagi, diskusi, dan seterusnya. Dalam sesi selingan lagu sambil rehat dan minum kopi, pemain, dalang, dan penonton/hadirin bersama-sama memilih satu topik tertentu

tentang masalah-masalah yang dihadapi masyarakat setempat, kemudian dibahas dan solusinya dicari bersama-sama. Dalam diskusi ini seringkali ditemukan berbagai solusi tepat dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat setempat. Setiap hasil diskusi Jagong Maton tersebut, dibuat resumenya oleh para santri inti, kemudian di-share via facebook sehingga bisa dibaca oleh semua santri dan masyarakat sekitar yang sudah bergabung dengan media sosial tersebut. Setiap periode tertentu, hasil-hasil diskusi dalam Jagong Maton ini dikumpulkan dan dibuatkan dalam bentuk buku. Acara Jagong Maton juga disiarkan secara live melalui radio FM Pesantren Rakyat, sehingga bisa diikuti oleh masyarakat sekitar pesantren.

Banyak keuntungan yang diperoleh dari kegiatan Jagong Maton, di antaranya: 1) sebagai wahana forum silaturahmi antarwarga; 2) mengajak masyarakat untuk terlibat aktif dan peduli terhadap masalah-masalah sosial yang ada di sekitar lingkungannya; 3) sebagai forum diskusi untuk mengumpulkan gagasan-gagasan dan memecahkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat dengan cara mereka bersama; 4) melestarikan budaya dan kearifan lokal, ter-masuk menyalurkan bakat seni masyarakat; 5) mengajak masyarakat untuk berperilaku lebih baik dan meningkatkan kualitas hidup; 6) meningkatkan keimanan melalui menyanyi lagu-lagu Islam, amalan-amalan shaleh, dan shalawat Nabi Muhammad SAW; 7) membiasakan para santri dan masyarakat menikmati acara lokal yang mendidik dan menghibur melalui acara Jagong Maton dalam TIK (media sosial dan siaran radio).

Kegiatan pesantren rakyat dalam meng-gerakan partisipasi dan kepedulian pesantren terhadap masyarakat dibentuk melalui wahana Posdaya Al-Amin. Posdaya ini merupakan forum komunikasi dan wahana pemberdayaan masyarakat di tingkat akar rumput yang digagas oleh Prof Haryono Suyono (Suyono dan Haryanto, 2009). Pemberdayaan masyarakat

 

217

 

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 21, Nomor 3, Desember 2015

 

dalam wahana Posdaya meliputi berbagai bidang kegiatan di masyarakat yang terintegrasi dan menyangkut berbagai aspek kehidupan masyarakat. Bidang pemberdayaan yang dikembangkan, di antaranya bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, budaya, keagamanaan, dan aspek lainnya. Pember-dayaan bidang pendidikan meliputi PAUD yang menyertakan partisipasi masyarakat dan pendidikan pesantren, pengembangan per-pustakaan, belajar bahasa asing, dan pendidikan keagamaan. Pemberdayaan bidang ekonomi, meliputi Baitul Mal wa Tanwil (BMT) Al-Amin mencapai 2,4 milyar, pengembangan usaha mandiri dan Usaha Kecil Menengah (UKM), pemeliharaan ternak kambing, dan optimalisasi lahan pertanian.

Pemberdayaan masyarakat bidang ling-kungan meliputi pemanfaatan lahan pekarangan dengan menanam sayuran menggunakan polybag dan memanfaatkan lahan kosong melalui penanaman tanaman produktif. Bidang kesehatan, meliputi Posyandu, penanaman tanaman toga, pengobatan gratis kerja sama dengan Puskesmas, serta pengobatan gratis dalam bentuk bekam dan apukuntur bekerja sama dengan pihak terkait. Bidang keagamaan, meliputi pelatihan khotib dan dakwah keagamaan kerja sama dengan Kementerian Agama setempat, dan kegiatan pengajian bagi masyarakat. Bidang budaya meliputi pengem-bangan seni tradisional dan Jagong Maton. Menurut hasil penelitian Mufidah (2012) Pesantren Rakyat Al-Amin menerapkan dakwah kultural berbasis pemberdayaan masyarakat sehingga cukup efektif dalam menyantrikan kaum pinggiran yang ingin belajar agama ala kerakyatan. Internalisasi nilai-nilai Islam adaptatif dengan nafas kearifan lokal dan fisibel menjadi daya tarik bagi santri pinggiran dan kaum abangan ireng untuk merevitalisasi diri sebagai manusia religius, berdaya, sejahtera, dan mandiri. Oleh karena itu, Mufidah menyimpulkan bahwa pesantren rakyat merupakan salah satu model pengembangan pesantren alternatif yang cukup prospektif di masa mendatang. Untuk

mendukung dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam wahana Posdaya ini, digunakan TIK yang dimiliki oleh pesantren, yaitu internet melalui jejaring sosial dan web, serta siaran Radio FM Pesantren Rakyat.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Pimpinan pesantren rakyat memiliki kebijakan dan komitmen yang kuat dalam memanfaatkan TIK di Pesantren Rakyat Al-Amin Kabupaten Malang Jawa Timur. Pimpinan pesantren meyakini bahwa walaupun pesantrennya berlokasi di pedesaan, tetapi para santri dan masyarakat sekitarnya perlu memiliki wawasan dan berpikir global melalui pemanfaatan TIK dalam pembelajaran. Pesantren yang didirikan tujuh tahun lalu secara swadaya ini menunjukkan bahwa ketersediaan infrastruktur dan aplikasi TIK masih relatif terbatas dan sederhana. Infrastruktur TIK mengandalkan langganan internet yang didistribusikan melalui wifi secara gratis bagi santri dan masyarakat sekitar. Pemanfaatan wifi ini selain membantu keterbatasan infrastruktur TIK di pesantren juga dapat meningkatkan partisipasi santri dan masyarakat untuk memanfaatkan TIK untuk pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat sekitar pesantren.

Konten TIK mengandalkan konten dari internet. Untuk mendapatkan konten sesuai yang dibutuhkan pesantren dibentuk tim santri yang bertugas mencari konten. Para santri dan masyarakat sekitar memanfaatkan TIK melalui laptop, handphone atau smartphone pribadi masing-masing. Melalui pemanfaatan TIK ini, pembelajaran agama menjadi dinamis dan menarik khususnya bagi santri-santri muda masa kini yang sudah akrab dengan berbagai produk gadget. Demikian juga media dan konten pembelajaran agama menjadi beragam, tidak hanya berbasis teks atau huruf, tetapi dapat berupa audio, gambar, video, animasi bahkan simulasi. Waktu dan tempat belajar juga menjadi lebih fleksibel. Para santri juga dibiasakan untuk membuat konten TIK, melalui tugas-tugas

 

218

 

Oos M. Anwas, Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi pada Pesantren Rakyat Sumber Pucung Malang

 

pelajaran serta laporan kegiatan pesantren yang kemudian di-share melalui jejaring sosial facebook.

Aspek budaya dan kearifan lokal seperti kesenian Jagong Maton dan pemberdayaan masyarakat dalam wahana Posdaya yang dilaksanakan Pesantren Rakyat, mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dan kepedulian pesantren terhadap masyarakat sekitar. Media internet yang dimiliki pesantren dan siaran radio FM Pesantren Rakyat memiliki peran penting dalam menyebarkan informasi pembelajaran, serta meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat sekitar sekitar pesantren.

Saran

Sebagai tahap awal, Pesantren Rakyat cukup baik dalam memanfaatkan TIK untuk mendukung pembelajaran di pesantren. Hal-hal positif yang perlu dipertahankan sekaligus ditingkatkan di antaranya komitmen pimpinan untuk meman-faatkan TIK dalam pembelajaran di pesantren, membiasakan para santri membuat konten TIK dan menyebarluaskannya melalui media internet, optimalisasi gadget pribadi para santri dan masyarakat untuk mendukung pemanfaatan TIK dalam pembelajaran, penggunaan wifi gratis bahkan tanpa password sehingga memudahkan santri dan masyarakat, pelibatan masyarakat sekitar pesantren melalui budaya dan kearifan lokal, serta aspek-aspek lainnya.

Untuk lebih mengotimalkan TIK tersebut beberapa hal yang dapat dilakukan, di anta-ranya, pertama, perlu dimulai pengembangkan konten sendiri secara bertahap, misalnya konten yang berbasis teks, audio, bahkan video melalui peralatan yang tersedia. Tugas tim pencari konten yang telah ada dapat ditingkatkan secara bertahap mulai memproduksi konten lokal pesantren. Kedua, Web yang telah dimiliki tidak sekedar media komunikasi tetapi dapat digunakan untuk menyebarluaskan konten baik konten produksi sendiri ataupun konten produksi dari luar, sehingga para santri dapat belajar secara online. Ketiga, Rintisan Radio FM Pesantren Rakyat perlu segera diselesaikan administrasi dan perizinannya, peningkatan SDM pengelola, serta mengembangkan radio streaming (internet), sehingga jangkauannya bisa mengglobal. Keempat, peningkatan infrastruktur TIK terutama laptop, jaringan, dan peningkatan kapasitas internet. Peningkatan infrastruktur ini dapat melibatkan dunia usaha di antaranya melalui program coorporate social responsibility (CSR). Hasil penelitian ini juga menginspirasi bagi lembaga pendidikan baik formal (sekolah) ataupun nonformal dalam pemanfaatan TIK untuk pembelajaran. Keterbatasan infrastruktur bukan hambatan tetapi merupakan sebuah tantangan. Yang penting adalah kebijakan, komitmen, dan kemauan dari pimpinan serta kerja sama dan dukungan para pihak lainnya.

 

 

 

Pustaka Acuan

Ahmad, A. 2010. Pengembangan Multimedia Interaktif untuk Pembelajaran Tipografi, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 16(6), hlm. 682-683.

Anwas, O. M. 2009. Pemanfaatan Media dalam Peningkatan Kompetensi Penyuluh Pertanian. Disertasi. Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan   Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Sekolah Pascasarjana IPB Bogor.

Anwas, O. M. 2013. Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Implementasi Kurikulum 2013, Jurnal Teknodik, 17(1), hlm. 483-504.

Bachtiar, Y. 2012. Pesantren Rakyat: Pendidikan untuk Semua. Disertasi. Program Doktor Pendidikan Islam. Bogor: Universitas Ibnu Khaldun.

Darmawan, D. 2013. Facebook dan Ketuntasan Bimbingan Virtual dalam Mencetak Ilmu Masa Depan, Jurnal Teknodik, 17(2), hlm. 125-136.

219

 

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 21, Nomor 3, Desember 2015

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Data Pokok Pendidikan SD, SMP, SMA dan SMK. Jakarta: Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

Irwan, D., Astra, I. M., & Fauzi, B. 2012. Pengaruh Penerapan Penilaian Portofolio Online Web

Based Learning terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa SMA, Jurnal Teknodik 16(3), him 299-316.

Kusnandar, C. & Kurniawati, I. 2005. Studi Pemanfaatan E-dukasi.net di Sekolah. Jurnal Teknodik, 9(17), him 5-30.

Pesantren Rakyat. 2013. Sekilas tentang Pesantren Rakyat. http://ww.pesantrenrakyat.com/ index.php/sekilas-tentang-pesantren-rakyat/, diakses 20 Januari 2015.

Mufidah. 2012. Pesantren Rakyat: Perhelatan Tradisional Kolaboratif Kaum Abangan dengan Kaum Santri Pinggiran di Desa Sumberpucung Kabupaten Malang Jawa Timur. Hasil Penelitian Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) (tidak dipublikasikan), Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang.

Mujib, M. 2013. Pengaruh Penggunaan Internet terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Menengah Atas di Kota Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Nurcahili. 2010. Pengaruh Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Proses Pembelajaran Kimia terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 16(6), him 648-658.

Samsuddin, R. Y, Asfah R., & Najib, M. 2013. Pemanfaatan E-Learning Moodle pada Mata Pelajaran di SMK Negeri 5 Makassar. http://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/ 6a56b2e3e76dle9a77el756d6182226b.pdf, diakses 5 Februari 2015.

Suyono, H., & Haryanto, R. 2009. Pedoman Pembentukan dan Pengembangan Pos Pemberdayaan Keluarga: Posdaya. Jakarta: Balai Pustaka.

Syukur, A. I. 2012. Profesionalisme Guru dalam Mengimplementasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Kabupaten Nganjuk.  Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 20(2), him. 200-210.

Taufik, M. 2012. Kontruksi dan Akomodasi Pesantren terhadap Budaya Masyarakat. Tesis. Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.

Thoifah, I. 2013. Model Pesantren Rakyat Al Amin di Sumberpucung Kabupaten Malang. Tesis. Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang.

Yahya, A. 2014. Peran Pesantren Rakyat dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam melalui Seni Budaya. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang.

UNESCO. 2009. ICT Transforming Education: A Regional Guide. http://www.unesco.org/new/en/ communication-and-information/resources/publications-and-communication-materials/ publications/full-list/ict-transforming-education-a-regional-guide/ diakses 5 Mei 2015.

220

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.